Minggu, 12 September 2021

D4 Tugas Belajar PKN STAN

 Yah.. akhirnya gagal juga di tahap II tes tugas belajar D4 PKN STAN. Setahun lalu aku sempat mengikuti bimbingan belajar online di salah satu bimbel bersama Dimas, Dwi, dan Faisal. Kami patungan ber-4 menggunakan atas namaku hehe. Tapi, bahkan sekalipun kami tidak pernah masuk lesnya. Sebulan pertama sih kami rajin merekam kelas zoom-nya. Tapi, sisanya kami malas dan sampai tes D4 dimulai pun kami tidak pernah menonton video rekaman tersebut. Sungguh 2 juta (dibagi 4) yang sia-sia. 

Ada yang berbeda dengan tes D4 kali ini, harus memiliki prestasi adalah syaratnya. Untungnya aku pernah juara 2 lomba video hari anti korupsi se-DJP (walaupun di-carry Dihan dan Farhan serta yg lain) dan The most productive new comer agent ke-3. Beberapa temanku tidak bisa ikut dikarenakan tidak memiliki prestasi. TUKI di kantorku cukup strict masalah prestasi tersebut, padahal kebijakan kantor lain sungguh longgar. Bahkan menjadi peserta lomba atau menjadi panitia sebuah acara pun bisa menjadi prestasi di kantor lain. Yang cukup menggelitik ada salah satu temanku memiliki 15 prestasi yang diinput yang apabila dia berada di kantorku, tidak satu pun prestasi itu di-acc oleh pegawai TUKI. Mengerikan.

Tes tahap pertama aku lalui dengan cukup baik. Aku berhasil lulus di tes tersebut yang menurutku karena hoki. Soalnya lebih mudah dari USM STAN 6 tahun yang lalu. Karena soal yang mudah itu aku menganggap semua orang bisa mengerjakan dan tinggal adu kehokian. Dan benar saja, aku hoki. Dimas yang bisa mengerjakan semua soal numerikal (40 soal) tidak lulus, aku hanya bisa mengerjakan 37 soal numerikal dan sisanya ngarang jawaban karena kehabisan waktu. Darwan, juga tidak lolos, dia sudah persimis sejak awal sepertinya. Tetapi, memang D4 bukan tujuannya, dia cuma ingin ST ke Jakarta. Serta teman-temanku yg lain banyak yg tidak lolos di tahap 1 ini.

Menghadapi tahap 2 sepertinya bukan adu hoki lagi (walaupun jelas hoki dibutuhkan), tapi adu mental. Soal tipikal TPA yang sangat banyak dengan durasi yang sangat singkat membuat semua orang harus bisa berpikir cepat dan tidak perlu banyak kehati-hatian. Aku salah di langkah pertama dengan sangat hati-hati hingga kehabisan waktu. Hal itu barangkali salah satu hal yang membuatku gagal. Ya, selain tes gambar yang tidak maksimal juga. Berkali-kali aku latihan, walaupun gambaranku jelek, gambaranku cukup proporsional. Anehnya, justru di hari H, gambar pohonku batangnya terlalu tinggi dan gambar orangku matanya besar sebelah wkwkwkw sungguh kalau memang sesuatu tidak ditakdirkan untuk kita, seberapapun kita berusaha, kita tidak bisa menggapainya.

Langkah selanjutnya

Jadi, apa langkah selanjutnya? Jujur, aku belum memutuskan. Aku perlu waku menimbang-nimbang apakah mencoba tes D4 tahun depan atau langsung S1 saja. Sejauh ini yang aku pikirkan, apabila gaji fungsional naik hingga lebih dari 50% mungkin aku akan ambil S1 saja, tapi kalau hanya naik 1-2 juta mungkin aku akan mencoba D4 lagi. Toh belum ada aturan jelas mengenai S1 pada jabatan fungsional penyuluh.

Sabtu, 01 Mei 2021

Mencintai Basket

 Saya kangen dengan vibes turnamen basket! Hahaha. Jujur, kalau di lihat di blog saya, mungkin hampir 50% berbicara ttg basket. Hehe. Padahal total waktu saya benar-benar bermain basket hanya 1 tahun lebih dikit saja. Tapi, saya benar-benar rindu vibes-nya! Bertemu dengan orang yang itu-itu saja tiap turnamen basket wkwkwk mengenal berbagai orang dari sekolah lain yg jago basket. (Kayaknya saya belum sampai di tahap dikenal oleh anak sekolah lain yg jago basket deh wkwkwwk). Saya pernah 2 kali ngebawa tim sekolah juara, tapi pas itu karena tim SMP saya underdog (atau istilah kerennya kuda hitam), ya jelas gaada yg kenal saya sih hehe. 

Sebenarnya, paling kerasa vibes turnamen itu pas SMA ya. Soalnya seriiinnng banget turnamen. Kayaknya ada 5 turnamen selama setengah tahun. Karena bersekolah di tim juara (SMA 3, bhawikarsu). Turnamen pertama dan kedua, gaada satu pun anak kelas 10 yang ikut turnamen. Padahal mantan pemain GBBA yang selalu juara 1 di turnamen basket SMP mana pun ada banyak wkwkw. Baru di turnamen ketiga waktu itu Tyo Arsha akhirnya ikut, turnamen keempat aku Ifan Marga ikut. Dan turnamen kelima ada Ula juga. 

Tapi ya kalau ditanya lebih bahagia basket pas SMP atau SMA, kayaknya jelas pas SMP. Di SMP yg dikenal tim underdog, gaada pemain sejago di SMA 3 wkwkwkw. Jadinya saya yang dengan modal semangat aja bisa jadi tim inti (bahkan tulang punggung tim di beberapa pertandingan, cielah wkwkwkw. 10 poin lawan SMP 1 malang B (skor menang 21-20), 10 poin dalam 1 kuarter lawans mp 14 malang (main 1 kuarter doang, soalnya ngasih kesempatan kelas 7 &8 wkwkwk), 12 poin lawan SMP 1 Kepanjeng (skor kalah 32-20 sihwkwkw)). 

Di SMA boro-boro main, kami kelas 10 cuma jadi timnas doang wkwwkkw (timnas = tim pemanasan), pengecualian Tyo ya. Dia udah jadi pointer utama di tim di turnamen pertamanya wkwkwwk. Tapi, waktu naik kelas 2 juga Arsha Marga Ifan jadi jago bangetttt wkwkwk dengan mayoritas small man aja Pak Wahyu bisa ngebikin tim ke final. Final pertama sejak 2010 wkwkwkw. Gilaaa bagus bener waktu 2014 itu mainnya. Karena gaada bigman, SMA 3 ngandelin shooting mid range dan fast break aja. Wkwwkwkw sayang pas final kalah sih.

Ah kan, jadi kangen basket kwkkw

Jumat, 02 Oktober 2020

Korupsi di Era Baru

 Pembenahan dan perubahan di sana-sini terus digalakkan pemerintah. Korupsi terus ditekan dengan adanya KPK, ICW, maupun organisasi anti korupsi lain, terlepas dari berita miring mengenai pelemahan KPK.

Semua itu benar membuahkan hasil. Banyak gratifikasi tidak lagi terjadi, yang paling kentara adalah budaya malu menerima suap. Walaupun masih ada oknum yang barangkali menerima suap dari masyarakat atau pihak ketiga, tapi di era baru dan di generasi milenial hal tersebut sangatlah tabu dan dianggap memalukan. Sebuah perubahan yang cukup signifikan dibandingkan cerita di masa-masa kelam dahulu tentang budaya korupsi yang sangat menggema.

Dewasa ini ternyata budaya korupsi tidak benar-benar hilang. Masih banyak celah yang bisa dimanfaatkan untuk korupsi. Mulai dari pemalsuan atau "pengakalan" surat perjalanan dinas kerja. Seharusnya yang kita keluarkan hanya Rp1.000.000,-. Namun, kenyataannya kita menerima reimburse hingga 2 kali lipatnya. Barangkali seperti itu. Saya jadi teringat ketika membaca buku Ganti Hati karangan Dahlan Iskan. Buku itu menceritakan tentang proses penggantian organ hati Dahlan Iskan, tetapi banyak cerita di balik layar yang di tulis di sana. Tentang seorang Dahlan Iskan yang tidak sekali pun pernah menggunakan uang negara untuk perjalanan dinas. Dia selalu menggunakan uang pribadinya. Ditambah lagi kekaguman saya pada seorang rekan di kantor yang bahkan untuk urusan terkecil pun tidak mau menggunakan ATK kantor. 

Ya, memang selain pemalsuan dokumen SPD, masih seringkali ditemui korupsi hal yang paling kecil. Menggunakan ATK kantor untuk keperluan pribadi, tidak terbayang berapa juta, milyar, atau bahkan triliun dana yang bisa dihemat apabila kita bisa menggunakan ATK kantor hanya untuk kepentingan kantor. Masih banyak pegawai yang menggunakan fotocopy dan printer untuk kepentingan pribadinya dan bukan kepentingan kantor. Saya pernah suatu kali membeli staples di toko dekat kost-an, saya cukup kaget mengetahui harga staples ternyata Rp20.000,- per satu bijinya. Saya kira hanya di kisaran sepuluh ribu saja. Padahal di kantor saya staples seringkali hilang, entah di bawa pulang seorang pegawai atau hilang tergeletak di kolong meja. Tidak terbayang jika semua pegawai benar-benar terbebas dari praktik korupsi, berapa banyak uang negara yang bisa dihemat dan disalurkan untuk kemakmuran negara.

Sabtu, 22 Agustus 2020

Sendirian.

 Minggu ini ada 3 tanggal merah di hari kerja. Hari Senin, Kamis, dan Jumat. Sebenarnya bisa saja aku mengambil cuti di hari Selasa dan Rabu supaya bisa menadapat ekstra libur, tapi ternyata tanpa mengambil cuti pun hari Selasa dan Rabu aku mendapat jatah WFH, jadilah aku libur seminggu penuh. (Tidak sepenuhnya libur juga sih, karena hari Selasa dan Rabu masih ada jatah mention twitter kring_pajak yang perlu dijawab).

Berbeda dengan diriku beberapa tahun yang lalu, pulang ke Malang bukan lagi suatu hal istimewa yang ku nanti. Ya, memang banyak sekali hal yang telah berubah. Dua sahabatku 1 kostan minggu ini pulang ke daerah masing-masing, Dimas ke Surabaya dan Faisal ke Madiun. Mereka mendapat jatah work from homebase selama 2 minggu. Sebenarnya aku 1 kostan ber-8 orang yang dulunya adalah alumni STAN, dengan pulangnya Dimas dan Faisal sontak otomatis tinggal ber-6 yang di kost.

Minggu pagi tanggal 16 Agustus, giliran Dwi yang gupuh ingin pulang. Dia sama sepertiku mendapat jatah 1 minggu free karena Selasa dan Rabu WFH. Dia punya tujuan pulang, sebentar lagi dia akan menikah sehingga dia ingin pulang ke Solo untuk mengurus surat pindah nikah di Malang. Pulangnya Dwi membuat kostan menjadi hanya 5 orang. Tapi, ternyata hanya 4 orang karena Alif juga ikut pulang pada hari yang sama.

Aku pikir suasana kostan tidak akan lebih sepi lagi, sampai pada akhirnya hari Rabu, 19 Agustus 2020 Tyo dan Bahy ikut pulang yang menyisakan aku dan Chandra saja. Chandra yang jarang di kostan dan tidak terlalu dekat denganku praktis membuatku merasa sendirian di kostan ini.

Sedih sih tidak. Tapi, rasanya sepi saja. Biasanya ada saja orang yang bisa di-tonggoi, tapi beberapa har ke depan aku sendiri.

Selasa, 07 Juli 2020

Pertama Kali Naik Bus ke Malang

Tahun ini adalah ramadhan pertamaku tidak di rumah. Corona adalah penyebabnya. Virus yang membuat negeri ini menerapkan kehidupnal "normal baru" katanya. Sejak itu pula ketika ingin keluar dan masuk dari Jakarta dibutuhkan SIKM (Surat izin keluar masuk). Masalahnya, barangkali verifikator dari SIKM ini orangnya berbeda-beda. Dengan dokumen yang sama, aku dan Dwi bisa mendapatkan jawaban yang berbeda. Dwi diterima SIKM-nya, sedangkanku aku tidak.

Berangkat dari tidak punyanya SIKM, aku dan Dwi lebih memilih naik bus (selain karena harganya yang memang murah). Sebenarnya saat Faisal telepon ke maskapai Lion, petugas di seberang telepon menyebutkan bahwa SIKM sudah tidak diperlukan lagi dalam perjalanan menggunakan pesawat, namun yang membuatku ragu adalah dalam SE GUGAS COVID-19 masih disebutkan bahwa SIKM tetap dibutuhkan.

Jadilah, kami naikbus dari Jakarta ke Malang. Sebelumnya pada hari Selasa, 30 Juni 2020 aku dan Dwi mengurus rapid test di klinik A3A Jakarta. Yang baru aku sadari saat sampai di klinik tersebut adalah bahwa klinik itu ternyata klinik kecantikan HAHAHA. Tapi, selama corona ini juga melayani tes rapid. Setelah menunggu sekitar 20 menit kami pulang dengan mengantongi dokumen rapid tes berketerangan non-reaktif.

Tiga hari kemudian, tepatnya Jum'at, 3 Juli 2020, aku dan Dwi pulang ke Malang menggunakan bus Kramat Djato seharga Rp450.000. Jadwal keberangkatan Kramat Djato ada dari 2 pool bus, pool cillitan dan pool pondok pinang. Karena pool Cililitan cuma berjarak 4 km, akhirnya kami naik dari Cililitan. Di Traveloka sih jadwal keberangkatan dari pondok pinang 14.30 dan dari Cililitan juga sama 14.30.

TERNYATA, bus dari pondok pinang berangkat pukul 14.30, baru setelah itu menuju Cililitan menjemput kami. Tahu gitu, di aplikasi traveloka diganti pukul 15.00 atau 15.30 lah. Karena, kenyataannya kami berangkat pukul 15.45-an. Berbeda dari pengalaman naik bus sebelumnya, entah karena corona atau memang begitu, kami tidak mendapat bantal dan tidak mendapat selimut. Selain itu, saat makan yang biasanya prasmanan, saat ini kami makan dari nasi kotak.

Setelah perjalanan berbelas-belas jam, akhirnya pukul 4.00 kurang kami tiba di Malang. Alhamdulillah.

Have a Faith.

Have a faith. Kalimat yang muncul dalam serial Prison Break di mana ketika Michael Scofield merasakan kebuntuan, Kakaknya akan mengatakan kalimat itu.

Dalam konsep islam, hal ini hampir sama dengan ats-tsiqoh billah. Percaya pada Allah. Aku baru menyadari dan benar-benar percaya akan konsep itu akhir-akhir ini. Apapun yang aku lakukan tidak akan pernah lepas dari campur tangan Allah Sang Maha Pembuat Takdir. Yang perlu kita lakukan adalah melakukan yang terbaik dengan terus percaya bahwa apa yang Allah tetapkan untuk kita adalah yang kita butuhkan, bukan kita inginkan.

Jujur. Aku mungkin sudah tahu konsep ini sejak lama. Tapi, baru belakangan ini sejak aku mulai rutin lagi membaca buku, mendengarkan ceramah, dan benar-benar mengalaminya aku percaya. Have a faith.

Sebrapapun aku meyakinkannya, kalau memang bukan ditakdirkan untukku pasti akan melewatiku. Seberapapun aku menghindarinya, kalau memang ditakdirkan untukku pasti akan melewatiku.

“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku” – Umar bin Khattab

Semoga engkau menjadi takdirku.

Selasa, 17 Desember 2019

Samid Adityo

Diambil ketika foto kelas SMT 6
Kalau sebelumnya ada Darwanti Tarigon, maka sekarang ada Samid Adityo. Seorang sahabat yang baru saya benar-benar kenal 2 tahun ke belakang. Berbeda dengan Darwan yang cukup melankolis dan menurut saya sangat klop dengan saya, Samid adalah tipikal laki-laki dewasa yang tidak ingin ambil pusing dengan segala hal.

Saya mengenal Samid pertama karena dia adalah teman kelas dari Akmal. Selain mengetahui karena dia dari Surabaya, selebihnya saya tidak tahu banyak. Mungkin yang saya tahu juga, karena kegantengannya dia cukup menarik banyak perempuan, termasuk salah satunya Elda pernah titip salam untuk Samid lewat Akmal. Bodohnya, sejak mengenal Samid, dia ternyata tidak menyadari banyak yang menyukainya, atau dia tidak ingin tahu saja barangkali.

Saya baru dekat dengan Samid ketika semester 6 kami sekelas. Sejak itu, setiap pulang kuliah saya selalu nebeng motor Samid sampai kostan. Sering kali juga ketika di kelas kami duduk bersebelahan, terutama matkul PPnBM, sampai oleh Pak Tom karena kami suka mengobrol, kami dicap slengekan. Haha.

Ternyata takdir juga menyatukan ketika semasa bekerja. Ketika OJT kami sama-sama ditempatkan di Jakarta Timur sehingga kami mencari kost bersama. Pindah definitif pun kamu berada di satu kantor, dan kami pindah di satu kostan baru yang sama lagi.

Hal yang saya suka dari Dimas adalah karena dia bisa dewasa dengan caranya sendiri. Bisa diajak serius tapi juga sangat seru diajak bercanda. Dia bisa menempatkan diri di setiap tempat dia berada. Mungkin yang membawa kami dekat juga salah satunya banyak kesamaan pola pikir yang ada pada diri kami, walau kadang banyak perbedaan juga hahaha.

Jumat, 13 Desember 2019

Darwanti Tarigon

Ku kira anak ini lemah lembut dan tipikal yang mengikuti aliran air tanpa ada daya juang. Tapi, berteman dekat dengannya selama lebih dari 3 tahun kesan pertama itu berubah.

Event 1

Kesan awal ketika kali pertama bertemu dengannya di acara Startax Futsal League. Sebuah acara kepanitiaan liga angkatan 2015. Saat rapat pembentukan panitia di warmino, Shobibur mengajukan nama Darwan sebagai kabid konsumsi (karena sebelumnya Darwan menjadi sie. konsumsi di acara Pekma). Sebenarnya aku juga tidak tahu kenapa saat itu kabid konsumsi dipercayakan kepada laki-laki, karena pada umumnya konsumsi mahir ditangani oleh perempuan. Setelah itu kami bertemu di rapat pertama. Tapi, yang aku kagumi dari Darwanti adalah salah 2 atau bahkan satu-satunya dari banyak kabid yang mempersiapkan acara ini dengan sangat niat. Padahal, saat itu aku dan Darwan belum terlalu saling mengenal. Setelah SFL itu tidak ada lagi kontak dengan Darwan. Selamat tingkat 1 pun kami tidak lagi saling chat untuk keperluan apapun itu. Berada di satu kepanitiaan Ministry Goes To Campus 2015 pun aku tidak tahu kalau dia juga merupakan salah satu staf anggotanya.

Event 2

Sebenarnya aku sangat nyaman berada bersama 1 kelasku di tingkat pertama. Aku sudah merasa kompak dan menyatu dengan mereka. Tapi, lagi-lagi naik kelas, naik semester, berarti perpisahan dengan teman kelas skrg untuk bertemu dengan teman kelas yang baru.

Salah satu teman kelas yang baru itu adalah Darwan. Pernah suatu waktu aku duduk sebangku dengan Darwan, aku merasa berkembang karena Darwan tipikal yang suka bertanya, jadinya kalau ada materi yang tidak jelas kita saling sharing dan berdiskusi. Oh iya, Darwan ini saat kami sekelas adalah peraih peringkat pertama.

Awalnya, aku pikir dia anak yang rajin dan sering belajar, bukan cerdas. Karena kalau di kelas dia kebanyakan bertanya. Tetapi, setelah mengenalnya beberapa saat apalagi setelah seringkali belajar bareng + lomba bareng tampaknya pandanganku berubah 180 derajat. Dia anak yang cerdas, bukan rajin.

Event 3

UTS semester 4. Walaupun berada di bawah ranking Darwan, tetap saja dia selalu mengajak belajar bersama, minta diajari instead of ngajari. Kenapa? Ya karena dia makhluk SKS banget. Makanya pandangan tentang Darwan yang rajin dan sering belajar berubah jadi ternyata Darwan cerdas. Gampang mengerti materi di saat-saat krusial. Belajar stengah mati sebelum ujian. Untungnya saat itu kami belajar bertiga bersama master Umeir. Berbeda dengan Darwan, Umeir "hanya" jenius. Kalau Darwan belajar setengah mati di detik-detik krusial dan mampu memahami semua materi hingga selalu dapat nilai bagus, Umeir berbeda. Umeir terlahir dengan otak yang super jenius. Sekali melihat dosen menjelaskan, dia akan selalu ingat tanpa perlu belajar lagi. Malah... kadang dia bisa paham materi yang belum dipelajari dengan menyambungkan semua teori serta rumus yang ada di kepalanya. Kuncinya, Umeir selalu memperhatikan dosen menerangkan, tetapi saat di luar kelas dia lebih suka nonton Anime.

Kebersamaan kami yang suka belajar bersama itu berlanjut dengan aku mendaftarkan nama kami di kompetisi pajak internal STAN. Tanpa izin mereka, aku mendaftarkan ketiga nama tersebut. Tapi, beberapa hari setelahnya ternyata mereka pun antusias dan itu membuatku antusias juga.

Tibalah saat hari di mana Puspa Tax Competition I dilaksanakan. Di babak pertama pilihan ganda. kami berhasil melaju mulus peringkat 6 dari 30 peserta. di babak pertama ini, 15 tim lain gugur, jadi di babak 2 hanya ada 15 tim yang tersisa. Di babak kedua, lomba yang diujikan adalah dasar hukum. Di mana kami di suruh mengisi titik-titik yang dihilangkan dari kalimat undang-undang serta kami diminta menyebutkan dasar hukum undang-undang yg dimaksud. Kami kalah telak 😂  dari 15 tim tersisa, kami peringkat 15. Di lomba-lomba selanjutnya, bahkan sampai berhasil memenangi kompetisi nasional, babak yang selalu menjadi titik lemah kami adalah babak mengenai undang-undang dan dasar hukum, selalu saja itu yang menjadi batu ganjalan kami.

Event 4

Iya, sejak UTS itu kami jadi semakin dekat ditambah kami berlibur bersama ke 3 negara (Malaysia, Singapore, Thailand) jadinya aku merasa sangat "klik" dengan Darwan. Tapi, sedihnya adalah kenaikan kelas, kenaikan semester berarti perpisahan juga. Dan kali ini kami tidak lagi berada di kelas yang sama.

Tapi, kami masih sering mampir kost masing-masing. Dan juga kami masih menjalani bisnis bersama hehehe. Kami pernah berjualan aqua di kampus. Kami berangkat ke kampus jam 5 pagi mengantarkan aqua di tiap gedung. Lalu sorenya kembali lagi untuk mengambil untung. Total, kami bisa mendapatkan keuntungan sekitar Rp. 24.000 x 8 dus aqua x 5 hari per minggu. Sampai akhirnya suatu ketika banyak yang mengikuti gaya jualan kami dan kampus melarang untuk berjualan lagi. Yang lain sih mematuhi aturan tersebut, aku dan Darwan selaku inisiator sih tidak peduli. Tapi, itu berlaku sampai akhirnya di suatu pagi satpam-satpam memunguti aqua kami wwkwk dan sejak itu kami berhenti berjualan aqua. Pernah juga aku dan Darwan berjualan buku STAN, berjualan danus gorengan, berjualan apa lagi ya

Event 5

Lomba. Bersama Umeir juga, mungkin ada sekitar 6 lomba yang kami ikuti. 4 lomba tingkat nasional dan 2 lomba tingkat STAN. peringkat 15 Puspa Tax Competition I, peringkat 4 Tax Planning Competition 2018, peringkat 2 Tax Competition UI 2017, peringkat 1 Puspa Tax Competition II, peringkat 5 National Economic Debate Competition 2018, serta peringkat 6 Tax Planning Competition 2019.


cerita perpisahan

Kumpulan foto dan momen

Disclaimer : Sebenarnya tulisan ini ada di draft sejak 1 Oktober 2018. Tapi baru dilanjutkan 30 April 2019, lalu berhenti di event 5.

Lalu, di post 13 Desember 2019. Disambung nanti ketika laptop sudah lancar jaya di darat laut dan udara

Sabtu, 13 April 2019

Ramadhan Sudah Dekat Kawan2!


Kawan-kawanku! Iklan marjan sudah ada di TV kawan-kawan! Tanda Ramadhan sudah dekat kawan! Bagaimana kita tidak sangat merindukan Ramadhan, bukan? Perasaan yang sangat nostalgic dan penuh dengan kenangan! 

Perasaan melankolis selalu tumbuh tiap melihat iklan-iklan ramadhan saat masih kecil atau saat mendengar video tentang marhaban ya ramadhan dan takbiran 


Aaahhhh... Ramadhan kali ini suasananya berbeda kawan! Ramadhan kali ini aku sudah bekerja, tidak ada lagi libur panjang atau waktu banyak untuk buka bersama teman-teman di Malang. Libur cuma 1 minggu! Tidak lagi bisa merasakan asiknya ramadhan saat masih SD, SMP, SMA. Kalo kata quotes "Childhood is the best moment of all seasons." Aku akan dengan sangat lantang menyatakan "So is Ramadhan!" 

Selasa, 02 April 2019

God Destiny

Seharusnya judulnya "Unpredictable". Tapi, karena lebih suka God Destiny, akhirnya aku lebih memilih God Destiny hehehe.

Jujur. Akhir-akhir ini banyak sekali hal yang tidak disangka-sangka. Saat kecil, aku sering sekali menonton MTV musik di global TV. Biasanya, jadwal tayang MTV musik pada masa itu adalah sekitar pukul 1-2 siang. Masa-masa di mana setelah pulang sekolah SD dan hendak siap-siap sholat ashar dilanjut ngaji di TPQ Al-huda di dekat rumah. Saat itu, ada satu penyanyi yang menarik, Melly Goeslaw namanya. Menarik kenapa? Jadi, saat itu ada di tangga musik 1 lagu yang dari awal sampai akhir hanya ada 1 lirik "I just wanna say I love you", begitu terus dari awal hingga akhir. Setelah aku mencari tahu lebih banyak, ternyata tidak hanya itu lagu Melly Goeslaw yang menarik. Ada juga lagu bunda yang dicover oleh pemenang Akademi Fantasi Indonesia Cilik serta lagu "Gantung" yang saat itu sangat berkesan karena seorang yang aku kagumi saat SD menyanyikan lagu Gantung itu di saat seleksi untuk FLS2N. Oh iya, orang yang aku kagumi itu juga masuk di satu SMP yang sama denganku. Tapi, hal yang sedih adalah dia dipanggil Allah SWT lebih cepat , saat aku duduk di bangku kelas 9 SMP dan kakak kelasku yang aku kagumi itu duduk di bangku kelas 10 SMA, berita meninggalnya mbak Anggi datang. Semoga saat ini mbak Anggi tenang di sisi Allah SWT. Aamiin

Belasan tahun kemudian. Aku lulus dari PKN STAN dan ditempatkan di KPP Jakarta Pulogadung. Jum'at itu, aku diajak untuk berkunjung ke rumah Wajib Pajak dan mengambil rekaman videonya untuk testimoni pelaporan SPT Tahunan. Saat itu aku masih belum tahu siapa WP-nya, yang tak aku sangka ternyata rumah yang aku kunjungi adalah rumah Melly Goeslaw dan Anto Hoed. Sesuatu yang Vicko kecil tidak pernah bayangkan. Bisa mengunjungi rumah artis yang ditontonnya saat kecil.

Sama seperti saat pertama kali aku balik dari perantauan. Walaupun telah membeli tiket kereta, saat itu aku lebih memilih ajakan Yeniko untuk ikut dia pulang ke Malang dengan naik pesawat Hercules. Jalur yang ditempuh dari kampus PKN STAN adalah naik KRL dari Pondok Ranji, lalu turun di stasiun Cawang dan dilanjutkan dengan naik grab car menuju Halim. Yang tidak aku sangka saat ini adalah kost-ku yang baru di Jakarta sangat dekat dengan stasiun Cawang, sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan juga 4 tahun yang lalu.

Unpredictable berikutnya adalah 6 bulan lalu, saat orientasi pegawai baru DJP, aku tidak pernah membayangkan sama sekali kalau kantorku akan bertempat di kantor pusat. Ternyata pengumuman datang dan yang tidak disangka-sangka aku bertempat di Gedung yang aku kunjungi 6 bulan yang lalu itu. Padahal aku sangat berharap dan memprediksi akan ditempatkan di Malang atau sekitarnya, karena dari track record IPK tahun-tahun sebelumnya, nilaiku masih memenuhi. Sayangnya, tahun ini tidak ada lulusan diploma III yang ditempatkan di Malang dan sekitarnya.

Tentu banyak sekali unpredictable things which happen by God Destiny yang akan sangat panjang jika diperinci satu per satu. Yang pasti kita harus terus berdoa yang terbaik dan tetap percaya pada kejaiban-keajaiban Allah SWT :D

Sabtu, 30 Maret 2019

PUBG

Sedari kecil dulu, salah satu hobiku adalah bermain game. Bapak Ibu selalu update mengenai gadget game terkeren saat itu, di mana jaman awal game SEGA keluar, Bapak Ibu langsung membelikan game tersebut. Saat zaman mulai berganti, VCOM-lah game yang sedang update. Tidak lama sampai Bapak Ibu membelikan game itu juga. Sampai jaman playstation-pun mereka juga tidak segang untuk membelikannya.

Ada beberapa peraturan di rumah selama bermain game. Salah satunya adalah hanya boleh bermain hari Sabtu-Minggu saja. Jadi, selain di hari tersebut stick game-nya akan disembunyikan oleh Bapak Ibu. Btw, kalau nulis Bapak Ibu kepanjangan deh, coba kita singkat jadi Babu ya. Waduh kok jadi kayak pembantu hehehe. Yaudah gapapa tulis panjang aja jadi Bapak Ibu. Ohya, memikirkan peraturan main game sabtu-minggu itu aku jadi membayangkan seharusnya aku juga membatasi membuka sosial media (twitter, instagram, facebook, dll) hari Sabtu Minggu saja ya. Pasti hal itu akan jauh leboih efektif. Peraturan lainnya adalah aku dan masku baru akan dibelikan game baru ketika masing-masing kami bisa mendapatkan peringkat terbaik. Bagi masku, hal ini adalah hal yang cukup berat. Saat kelas 1 dan 2 SD masku selalu menyabet peringkat 1 dan 2 di kelas. Tapi, semenjak kelas 3 SD masku bahkan terlempar jauh dari peringkat 5 besar. Jadi, saat itu kami kelas 5 SD, jamannya playstation muncul. Seperti biasa mamaku menyemangati untuk mendapat peringkat terbaik dan akan mendapat hadiah playstation. Baru berjalan UTS, masku sudah merengek dan berjanji akan mendapat peringkat 1 karena nilainya bagus-bagus. Ibuku yang polos dan gampang tidak tega, akhirnya percaya saja dan meskipun belum pengumuman rapot peringkat, kami dibelikan PS. Jadilah sejak kami punya PS masku tidak pernah belajar lagi, endingnya saat itu aku berhasil mendapatkan peringkat terbaik, sedangkan masku "hanya" mendapat peringkat 8 di kelasnya karena di sisa waktu setelah UTS masku full bermain game terus. Hahahahaha

Selain Sega, Vcom, dan PS, banyak sekali game yang aku mainkan. Apalagi sejak game-game banyak berpindah ke PC, mulai dari point blank, counter strike, PES, FIFA, dan lain-lain. Tapi, sejak SMA aku tidak lagi antusias bermain game. Aku benar-benar jarang sekali bermain game. Kebiasaan itu juga terbawa sampai kuliah. Menginjak semester 3 di perkuliahan, banyak game seru baru bermunculan seperti mobile legend, pubg, freefire, rule of survival, dan lain-lain. Aku pun tidak bergeming. Di saat teman-teman 1 kostanku bermain game bersama, aku selalu hanya menjadi spectator saja. Atau barangkali aku lebih fokus mendesain video/foto.

Hingga akhirnya di semester 5 aku iseng men-download PUBG dan ternyata aku mulai kecanduan sejak itu. Untungnya aku masih bisa mengontrolnya dan paling sekarang juga main Sabtu-Minggu saja. Bahkan demi pubg, saat itu aku rela mengganti layar hp ku yang rusak senilai 915.000 dengan menjual salah satu kamera kesayanganku terlebih dulu hahahaha akhirnya layarnya rusak lagi sodara-sodara, tapi kali ini dibiarkan sajalah. Dan menurutku, sisi positif PUBG bisa menjalin silaturahmi. Karena PUBG aku jadi berkomunikasi dengan Darwan by phone juga by game hahahaa. Karena PUBG aku juga bisa seru-seruan bareng teman-temanku di mana pun mereka berada, Suwon PUBG

Sabtu, 26 Januari 2019

OJT DJP - PKN STAN

Akhirnya, penantian selama 2 bulan lebih terbayarkan. Jujur, sebenarnya aku tidak seberapa menanti pengumuman ini. Aku sangat menikmati momen-momen di rumah. Selain itu, aku sedikit optimis bisa ditempatkan OJT di KPP sekitar Malang, mengingat di tahun-tahun sebelumnya ada 2-3 anak D3 Pajak yang tersebar di 6 KPP di Malang.

Tahun ini anak Malang pun cuma ada sekitar 15 orang. Dan salah satu yang membuat aku optimis karena dari ke-15 orang tersebut, setidaknya IPK-ku masih berada di jajaran atas. Jadi, keseharianku di Malang aku isi dengan belajar mobil, membuat stop motion, menikmati makanan khas kota Malang serta menghabiskan waktu bersama keluarga.

24 Januari 2018. Akhirnya, pengumuman OJT keluar. Pengumuman tahun ini mundur 1 bulan dari jadwal biasanya. Keterlambatan ini sedikit membuat teman-temanku yang was-was resah. Begitu pengumuman keluar, aku langsung membuka laptopku. Tapi, aku lebih dulu tahu aku ditempatkan di mana karena diberitahu Darwan. KPP Pratama Jakarta Pulogadung. Kata Darwan di seberang telepon. Sedikit kaget sebenarnya karena keluar dari ekspektasi, walaupun aku juga siap ditempatkan di mana pun.

Aku mencoba untuk mensyukuri dan berdamai dengan Jakarta. Terakhir kali aku merantau di pinggiran Jakarta, aku tidak bisa sepenuhnya bebas. Karena jelas metropolitan bukan gayaku. Tapi, tentu saja aku sangat mensyukurinya.

Aku sangat bersemangat dan ingin membuat banyak prestasi di KPP tempat bekerjaku ini. AKu tidak sabar berkenalan dengan banyak orang dan mempelajari hal baru. Semoga aku berjodoh dengan Pulogadung ini dan bisa membuatku nyaman.
Pulogadung, aku datang!

Selasa, 02 Oktober 2018

Malarindu – Senja Terakhir di Tanah Perantauan


Aku menyesap teh yang aku beli di kantin parma PKN STAN ini. Aku jadi mengingat-ngingat bagaimana bisa aku kuliah di perguruan tinggi kedinasan ini. 3 tahun lalu saat kali pertama aku menjejakkan kakiku di kota metropolitan ini, tak ada satupun keinginan tuk bertahan dan terus berada di kota ini. Paksaaan kuliah dan tuntutan lulus lah yang membuatku bertahan dan menjalani hari demi hari, sembari terus mencoret kertas countdown pulang ke Malang yang aku temple di dinding kamarku. “28 days to go home” begitu kata handphone yang juga aku pasangi reminder countdown pulang ke Malang.

Saking bencinya, atau bahasa halusnya saking tidak betahnya aku, bahkan aku pernah menulis sebuah posting di blog ini dengan judul “Senja Sabtu di Tanah Perantauan”yang berisikan tentang kesedihan malam minggu dan perbedaan bagaimana aku menjalan malam minggu di Bintaro dan di Malang. Saat itu, memang rasanya homesick adalah kawan dan waktu adalah lawan. Jika bisa, ingin rasanya aku bolak-balik Malang-Bintaro setiap Minggu.

Perasaan itu terus berjalan hingga 1 tahun lamanya. Dalam 1 tahun pertama itu, seringkali aku mengambil jatah dan bolos kuliah untuk pulang ke Malang. Terkadang karena sakit atau terkadang juga karena ingin saja pulang, tidak ada alasan spesifik. Di akhir tahun pertama aku sudah lumayan bisa beradaptasi dan membuat jalinan pertemanan yang sangat lekat dengan kawan-kawan di kosku. Nahas, pun sedih, mengetahui bahwa di tahun kedua kami semua berpisah karena harga kos yang naik. Suasana yang awalnya membuatku sangat nyaman berada di Bintaro, utamanya di kostan berubah kembali menjadi perasaan tidak betah. Kost yang baru pun tidak memberikan kenyamanan. Saat itu, yang aku pikirkan hanyalah rindu. Rindu dengan kost yang lama, dengan suasananya, juga dengan teman-temannya. Tapi, apa? Semakin dewasa semakin kita tahu bahwa satu per satu teman kita juga akan pergi entah untuk menggapai cita-citanya atau mengejar cintanya. Rindu itu datang bergantian. Saat 1 orang rindu, teman-temannya hampir pasti tidak akan merasakannya. Saat salah temannya merasakannya, hampir pasti 1 orang itu dan teman lainnya tidak akan merasakannya. Begitu pun juga dengan rindu itu.

Senja terakhir di tanah perantauan. Teman-temanku sibuk belajar tes TKD yang membuat pusing 7 keliling karena jika kami tidak lolos artinya = mati. Tidak, tentu saja bukan mati yang sesungguhnya. Tetapi, jika kita tidak lolos kita tidak bisa menjadi PNS (sesuatu yang selalu diidam-idamkan oleh orang tua kita). Teman-temanku sibuk belajar TKD dan tidak menyadari ada 1 orang yang sangat rindu dan khawatir bahwa dalam waktu kebersamaan ini akan segera berakhir.

Di mana yang biasanya setiap malam main PES bersama tentu akan segera berlalu.

Di mana yang biasanya futsal bersama pasti akan segera berakhir.

Di mana yang biasanya saling membangunkan dan membantu pasti akan segera pergi.

Pun dengan hiruk pikuk kampus PKN STAN ini. Takkan ada lagi suasana kampus di pagi hari yang lengang yang baru menunjukkan kesibukannya di menit-menit terakhir dosen masuk. Takkan ada lagi suasana hentakan sepatu tanda mahasiswa bea cukai sedang baris ber baris. Takkan ada lagi kawan yang ada dan selalu menyemangati dalam keadaan apapun. Takkan ada lagi kamu, kampusku yang walaupun kecil tapi sangat membekas di hati.

Teh yang sedari tadi masih panas sekarang sudah mereda. Ku sesap semakin dalam dan kembali melamun tentang perasaan aneh dalam hatiku sedih bercampur haru akan meninggalkan kampusku ini. Jadi, apa yang sebenarnya kita namai rindu itu? Barangkali perasaan enggan pindah dari suatu zona yang telah lama kita hinggapi. Barangkali juga perasaan mengganjal ketika kita akan berlanjut pada tahap berikutnya.

Aku jadi berfikir apakah arti rindu itu? Mungkin kita bukan rindu dengan seseorang atau teman-teman. Tetapi, nyatanya kita rindu dengan suasana atua keadaan yang pernah terjadi dan berlalu dalam memori kita. Kita terjebak dalam memori itu yang membuat kita tak bisa melangkah. Yang kita perlukan hanyalah sedikit menengok kenangan itu. Kenangan yang membuat diri kita menjadi kita yang sekarang.

Teh di gelasku tinggal sedikit. Ku putuskan untuk menghabiskannya dan segera beranjak pulang kembali ke Malang. Meninggalkan semua kenangan yang pernah terjadi di sini.
Senja terakhir di tanah perantauan. Sampai jumpa kampusku, 2 tahun lagi aku akan kembali.

Ambil Jatah - Kuliah di PKN STAN

Berada di perguruan tinggi yang sarat dan terkenal akan "drop out"-nya tentu saja membuat semua orang jadi parno (paranoid). Sejak sosialisasi di SMA mengenai PKN STAN saja, semua sudah membahas tentang adanya drop out ini. Jadinya, ketika aku pertama kali tiba di kampus Ali Wardhana ini aku juga ikut parno. Aku tidak berani berperilaku aneh-aneh. Aku tidak berani mengenakan jaket di kampus, aku tidak berani tidak mengenakan kemeja lengan panjang, aku tidak berani tidak memakai sepatu pantofel, dan aku tidak berani-tidak berani lainnya yang disebabkan aku takut drop out. Dan satu lagi, aku tidak berani ambil jatah/bolos/izin karena sakit/tidak masuk kuliah.

Padahal jika kita tahu, ancaman drop out tidak semengerikan itu. Walaupun kita tidak pintar-pintar amat dan tidak rajin belajar-rajin belajar amat, selama kita rajin masuk kuliah dan mendengarkan dosen insya Allah kita aman dan tidak akan di drop out. Ya, memang sih terkadang ada temanku yang bernasib buruk. Entah mendapat dosen killer yang membuat dia di drop out atau terkena masalah sepele lain yang membuat dia harus pulang lebih cepat dari kampus Ali Wardhana ini.

Oh iya, jadi meluber ke mana-mana membahas tentang drop out ini. Jadi, intinya seperti judul. Dulu aku takut ambil jatah. Saat semester 1 aku tidak pernah tidak masuk dan absenku selalu penuh. Semua berubah saat masuk ke semester 2. Saat itu ada 1 Minggu yang libur selama 3 hari kerja. Jadinya, kuliah cuma masuk Senin dan Selasa. Alhasil, aku pertama kali ini mengambil jatah dan tidak masuk kuliah hari Senin dan Selasa (2 matkul saja). Setelah itu, aku jadi mulai berani memanfaatkan jatah ini. Normalnya, selama 1 semester kita boleh tidak masuk selama 3x per matkul. Jadi, hampir setiap semester aku memanfaatkan 1x jatah untuk pulang ke Malang.

MANDIRI FINANCIALLY

Sesungguhnya aku tidak tahu bahasa inggrisnya mandiri secara keuangan. Ya mungkin kira-kira judul di atas sudah menggambarkan lah ya.

Aku sudah hampir mandiri financially ketika mulai kuliah di PKN STAN. Tidak benar-benar mandiri karena tiap bulan aku masih menerima uang sangu dari orang tua. Yang berbeda ketika ada biaya tambahan seperti membeli buku, iuran kemahasiswaan, iuran wisuda atau yang lain aku tidak pernah meminta orang tuaku. Teman-temanku yang terkadang juga meminta ganti atas tiket pulang pergi pun aku tidak memintanya.

Bahkan saat ketika pernah dalam beberapa bulan aku mendapat uang hasil usaha di atas 5 juta, aku rutin tiap bulan mengirimi uang ke orang tuaku 1 juta.

Tetapi, semua itu sepeti tidak berarti ketika orang tua mu berkata "Kamu gak pernah isiin bensin motor. Mama terus yang ngisi" dengan nada sinis wkwkkw

Astaghfirullah wwkwkwk Alhamdulillah

TEPAT WAKTU

Aku selalu BERUSAHA menjadi orang yang tepat waktu. Bahkan, lebih dari tepat waktu. Aku selalu datang 1 hingga 2 jam sebelum tempat janjian, sebelum kereta berangkat, atau sebelum pesawat berangkat. Caranya? Tentu saja aku mengira-ngira waktu perjalanan dari rumah menuju lokasi janjian. Mengira-ngira apakah hari ini macet. Lalu kemungkinan-kemungkinan lain.

Memang terkadang aku juga terlambat. Seperti kadang walaupun aku berusaha datang awal ketika kuliah, tetapi ketika aku tahu dosen jadwal kuliahku tersebut selalu terlambat kadang-kadang aku juga jadi ikut terlambat

Tapi, sesuatu yang membuat jengkel adalah ketika kita janjian tetapi orang yang berjanjian dengan kita terlambat. Benar-benar orang yang tidak bisa menghargai waktu sama sekali.

Sabtu, 29 September 2018

Bab III Penutup - Bitter Ending

Seperti layaknya semua pertemuan pasti diakhiri dengan sebuah perpisahan. Semua kesedihan akan diakhiri dengan sebuah kebahagiaan. Semua perjuangan akan diakhiri dengan sebuah kemenangan. Dan semua cerita akan diakhiri dengan Sebuah "Bab Penutup".

Tapi, tidak kali ini. Ending dari cerita kuliah di PKN STAN ini tidak begitu manis. Lomba terakhir yang bisa aku ikuti bahkan hanya terhenti di peringkat ke-6 setelah berusaha mati-matian memperoleh poin di babak terakhir. Tetapi, akhirnya kalah juga. Begitu tahu tidak lolos, aku sedikit tidak percaya. Bagaimana sedihnya ketika hanya selisih 1 angka saja, 1 angka yang seharusnya jika di antara aku, Luhur, atau Darwan bisa benar maka kami akan lolos ke babak final.

Sedih. Tidak se-down saat kalah di final NEDC UM kemarin, namun sedih ini benar-benar membuat pikiran tidak enak dan melakukan segalanya dengan perasaan setengah hati. Tentu aku bisa menutupi kesedihan ini dan menganggap semua biasa saja. Toh ini sudah ditakdirkan oleh Allah SWT. Rezeki tidak akan salah tempat, tidak akan salah sasaran, dan sudah diatur semuanya oleh Allah SWT. Pun takdir yang tidak aku inginkan ini, pasti juga telah melalui berbagai macam skenario. Walaupun kalimat "pengandaian" yang haram selalu terucap.

Andai saja aku belajar lebih giat sebelum lomba dimulai.
Andai saja soal Luhur yang seharusnya benar itu tidak dieliminasi.
Andai saja aku mendengarkan Darwan yang bercerita tentang Tax Amnesty.

Hal yang lebih menyedihkan adalah ketika aku tidak bisa membuktikan kepada dosen  dan semua orang yang meremehkanku. Sampai kapanpun memang aku tidak akan bisa menjadi bagian dari mereka. Bagaimana perjuangan di menit-menit terakhir lomba benar-benar terasa, namun sia-sia karena masih ada selisih 1 soal dengan tim peringkat ke-6 yang lolos. 8 soal di babak terakhir dapat kami jawab dengan baik namun tidak cukup baik untuk mengejar peringkat ke-5.

Terlepas dari semua itu. Aku tetap bersyukur dan selalu bersyukur. Selalu percaya bahwa Allah selalu menakdirkan dan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya. Alhamdulillah terima kasih Ya Allah engkau meluluskan aku di PKN STAN ini dengan nilai yang cukup baik. Semoga aku bisa penempatan di tempat terbaik pula. Aamiin Ya Rabbal Alamin

Senin, 23 Juli 2018

Berhenti Instagram

Sudah lebih dari 3x24 jam aku berhenti main Instagram. Sebenarnya, sudah lama ide berhenti ini muncul. Aku merasa terlalu addict dan sering bermain Instagram. Tiap ada waktu senggang atau bosan melakukan sesuatu maka aku akan membuka Instagram dan menscroll layar dari atas ke bawah, memencet tiap-tiap story Instagram yg dibuat oleh orang yang aku ikuti. Kebiasaan ini berlangsung lama hingga seringkali aku lupa akan waktu dan hanya bisa menghabiskan waktu dengan hal yang kurang berguna seperti bermain Instagram. Positifnya, Instagram masih bisa dijadikan media promosi utamanya untuk usaha vixar stop motion dan vixer software ku. Selain itu, positifnya juga aku jadi bisa menghabiskan waktu sambil menunggu buka puasa hingga lupa waktu hehehe.

Awal aku berhenti Instagram tepat hari Kamis malam lalu. Saat itu, Daru tiba-tiba masuk kamar kosku dan dia bercerita betapa kagetnya dia TKD akan dimulai tanggal 15 Agustus yang mana kurang dari 1 bulan sejak Kamis lalu. Kemudian dia bercerita ketika mengetahui hal itu, dia sedang berada di kelas kuliah malam. Dia mencoba menyemangati dan memotivasi dirinya "Daru bisa.. Daru bisa.. Daru bisa.." begitu katanya. Dia pun berinisiatif langsung membuka ponselnya dan menguninstal Instagram dari ponselnya itu.

Beberapa saat kemudian setelah Daru pergi dari kamarku, aku mulai mensign out akun Instagram ku dan bertekad untuk tidak juga bermain Instagram. Dari 10 akun (kebanyakan akun OA dan jualan) yang aku login, aku hanya menyisakan aku vixar stop motion yang aku masih log in untuk promosi tentunya. 1 hari berjalan, besoknya ternyata aku terkadang masih reflek membuka Instagram dari vixarstopmotion itu. Jadilah aku memutuskan untuk mensign out akun vixarstopmotion juga. Sekarang setiap kali aku reflek membuka aplikasi Instagram, tidak ada akun yang log in dan aku langsung ingat bahwa aku sedang dalam masa berhenti main Instagram.

Sampai kapan? Tidak tahu. Daru ketika kutanyai dia menjawab baru akan menginstal Instagram lagi setelah UAS semester terakhir ini yang berarti adalah awal September. Niat awalku akan bermain Instagram lagi ketika selesai ujian TKD. Namun, who knows. Siapa tahu aku bisa menunda instal Instagram untuk waktu yang lebih lama lagi. Tapi, yang pasti aku sudah bertekad tidak akan bermain Instagram sebelum waktu TKD selesai. Mungkin aku akan beberapa kali membuka vixarstopmotion untuk promosi saja. Tidak ada maksud lain. Setelah post beberapa video dan foto aku akan langsung sign out lagi.

Ini merupakan hal baru dan tantangan bagiku. Saat SMP kelas 7, aku pernah tidak membuka sosial media sama sekali selama 1 bulan lebih. Hal itu bukan karena kesengajaan. Tapi, lebih karena pada saat itu laptop satu-satunya di rumahku rusak dan aku tidak bisa lagi menggunakannya untuk browsing Facebook yang kali itu sedang booming-boomingnya. Saat itu, setelah 1 bulan lebih aku tidak bersosial media, aku sungguh-sungguh produktif dan karena tidak ada kerjaan lain akhirnya aku belajar. Mungkin itu yang membuatku berprestasi hingga SMA.

Semoga dengan berhentinya aku bermain Instagram ini, aku juga merasa gabut dan akhirnya belajar TKD dan materi lain. Aamiin. Doakan saya dan teman-teman saya lulus TKD dan wisuda tahun ini ya? Terima kasih readers. Aamiin

Pertemuan Pertama dengan Ina Mangunkusumonya Daru

Sebelum kalian membaca lebih lanjut, ada baiknya aku beri prolog dan penjelasan. Jadi, setelah sekian lama tidak ngeblog dan sekarang agak aktif ngeblog lagi, bisa dibilang alhamdulullah. Alhamdulillah yang kedua adalah setelah sekian lama tidak bikin cerpen, akhirnya pingin bikin cerpen lagi. Jujur, ini cerpen terinspirasi Buku Marmut Merah Jambunya Raditya Dika, tapi versiku sendiri. Versi yang dibuat yang juga terinspirasi teman kos sebelah kamar: Daru.


***
Meskipun berada di satu sekolah. Tidak sekalipun Daru dan Afin saling berbicara. Sekedar menyapa pun tidak. Masalahnya, Daru adalah tipikal laki-laki keren pemalu, yang ga punya nyali sama sekali buat ngedeketin perempuan. Masalahnya lagi, Afin pun begitu. Walaupun cantik dan kalem, Afin ga pernah sekalipun deket sama laki-laki, pacaran aja ga pernah. Paling yang modusin Afin aja ada banyak, tapi ga ada yang jadi. 

"Mal, masa sih dia itu adik SMP kita?", kata Daru bertanya pada Akmal begitu mengetahui kalau Afin pernah satu sekolah sama Daru dan Akmal waktu SMP.

"Iya Ru, gimana sih ko masa 4 tahun 1 sekolah sama dia mulai SMP sampe sekarang kelas 2 SMA ga tau kalo dia ada?", jawab Akmal menimpali kebodohan Daru

Daru mengernyitkan dahi seolah berfikir dan mencoba mengingat-ingat, "Sumpah Mal, ga ada tuh aku lihat dia pernah di SMP kita. Kita berdua kan OSIS, waktu MOS pun ga pernah ihat dia kan?"

"Yeeee, ko nya aja kali yang udah kicep sama cewek lain jadi ga lihat Afin", Akmal beranjak dari bangku kantin dan mengajak Daru kembali ke kelas

Ketika hari Sabtu tiba, Daru yang sudah menjomblo bertahun-tahun berusaha mencari cara untuk menghubungi Afin tapi tak satupun cara dapat ditemukannya. Pernah sih Daru mencoba telepon ke nomer Afin yang ternyata diangkat oleh ibunya.

"Halo? Siapa ini?", kata di seberang telepon yang langsung ditutup oleh Daru.

Hampir tiap Sabtu dia selalu begitu. Mencoba menghubungi Afin namun tidak kunjung juga direalisasikan. Begitu ada kesempatan mengobrol di telepon dan diangkat oleh Afin sendiri, Daru buru-buru nutup teleponnya. Entah apa yang menutupi mata batin Daru selama 4 tahun, tapi dia benar-benar tidak sadar kalau sebelum SMA, dia pernah juga 1 SMP dengan Afin. Baru saat SMA ini dia langsung kesengsem oleh Afin hanya karena bermodalkan stalking instagram adik kelas-adik kelas baru dan berhenti setelah dia melihat instagram Afin. "Cakep juga ya", kata Daru dalam hati.

Tibalah saat kenaikan kelas dan Daru masih belum melakukan aksi apa-apa. Dia benar-benar cemen dan tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaan atau minimal say hai kepada perempuan. Tetapi, malam itu malam yang bersejarah, dengan sedikit paksaan Akmal dan dorongan dari kekuatan dari dalam hari Daru. Daru mencoba chat line ke Afin. Kontak line Afin pun dia dapat dari coba-coba berhadiah, dia mencoba search id line Afin dengan menggunakan username instagram Afin. dan ketemu!

"Hai Assalamu'alaikum Afin, selamat hari raya idul fitri ya mohon maaf lahir dan batin", kata Daru di chat. Kebetulan saat kenaikan kelas bertepatan dengan hari raya idul fitri, jadi momentum ini dimanfaatkan oleh Daru untuk melancarkan modus ke Afin.

"Hai mohon maaf lahir batin juga. Maaf ini siapa ya?", kata Afin.

Goblok. Daru lupa memperkenalkan diri. Dia pikir dia cukup terkenal sehingga tidak perlu memperkenalkan diri. "Eh iya, maaf hehe. Aku Daru anak osis kakak kelasmu juga di smaba."

"oalah iya mas Daru hehe"

"btw Fin, mudik ke mana nih?", basa basi Daru membuka pembicaraan.

"Ke Lumajang mas hehe", jawab Afin singkat.

Nampaknya memang sulit di awal-awal pdkt ini bagi Daru. "oalah sampe kapan?"

"Gatau mas sampe kapan. orang tua cuma dapat izin cuti 2 hari." Kata Afin

Beberapa detik kemudian muncul chat baru dari Afin yang membuat Daru senang karena ditanya balik, "Mas Daru mudik?"

Widih. Baru ditanya mudik apa enggak doang Daru udah langsung girang dan screenshot chat tersebut buat nanti diceritain ke Akmal. "Wah semoga ga lama ya. Aku juga mudik Fin, tapi masih hari jumat nanti. Kakek nenekku udah gaada semua, jadi paling ke rumah saudara aja"

"mudik ke?", kata Afin

"Aku juga tinggal dari mama yang di Lumajang ini mas." tmabah Afin

"Emang kenapa mas kok semoga ga lama?", tambah Afin lagi. lama-lama gendut nih Afin kalo nambah terus.

"Tulungagung sama Blitar Fin. ke rumah saudara", kata Daru

"Ga papa Fin. Kalau ga lama dan ada waktu kan aku bisa mampir hehe", tambah Daru

"Oala iya mas", kata Afin

Daru menunggu chat tambahan dari Afin, barangkali Afin menambahkan bumbu-bumbu chat yang lain atau sekedar memberi sticker ketimbang hanya mengatakan "oala iya mas". Namun, 5 menit 10 menit 15 menit menunggu tak kunjung ada chat tambahan juga. Daru akhirnya tidak melanjutkan chat yang dia rasa tidak lagi seru itu. Dia akhirnya beranjak dari kasurnya dan mulai membuka blog. menuliskan curahan hatinya tatkala pertama kali chat dengan Afin. 

Tepat seminggu kemudian, Daru, Akmal dan teman-teman kelasnya berniat mengunjungi rumah gurunya untuk halal bi halal sekalian bersilaturahmi mumpung masih suasana Ramadhan. Saat SMP Daru dan Akmal berada di kelas yang sama selama 3 tahun berturut-turut, di SMA walaupun mereka beda kelas tapi mereka masih sering ngumpul. Kedekatan mereka tidak terjadi secara begitu saja, persamaan nasib lah yang menjodohkan mereka menjadi sahabat sejati. Keduanya memiliki kisah cinta yang sama mirisnya: sama-sama ditolak terus sama cewek. 

Rencana halal bi halal ke guru SMP benar terjadi dan tidak hanya sekedar wacana. Mereka sudah menetapkan tanggal 10 Juli mereka akan pergi ke rumah Bu Catur, salah satu guru kelas yang pernah mengajar mereka semasa di SMP. Niat hati mengajak seluruh anggota kelas, ternyata yang hadir hanya 3 orang. Daru, Akmal, dan Bahy yang rumahnya dekat dengan Bu Catur. 

"Jadi, gimana nih yang ikut 3 orang doang?", tanya Akmal kepada Daru di chat whatsapp

"Ah gak papa. Dibikin seru aja.", jawab Daru

Setelah menutup chat line Akmal, mata Daru terfokus kepada sebuah chat di bawah nama Akmal. 'Aku kok jadi pingin mampir ke rumah Afin, ya'. Pikirnya dalam hati. Kebetulan akibat hobi stalking yang dimiliki oleh Daru, dia jadi tahu rumah Afin ada di daerah Banjararum berdekatan dengan rumah Bu Catur.  Problem pertama yang muncul setelah itu adalah: Gimana cara ngomong mau ke rumah Afin? Ya kali tiba-tiba datang dan ngagetin ala-ala badut ultah kasih suprise waktu ulang tahun. 

Setelah mengumpulkan keberanian, akhirnya Daru mencoba chat ke Afin.

"Assalamu'alaikum Fin"

"Wa'alaikumussalam mas Dar"

"Ohya besok rencananya aku sama temen-temenku sekelas mau ke rumah Bu Catur silaturahim sekalian kumpul lama gak ketemu. Kalo boleh sekalian mampir ke rumahmu ya?"

Setelah mengirim chat itu Daru menjadi stres. Dia menyesali keputusan chat ke Afin. Dia tiba-tiba saja mematikan hp-nya dan tidak berani membukanya. Tapi, nasi telah menjadi bubur. Kalau Afin menjawab chat dan Daru malah ilang, makin ketahuan kalau Daru cemen. Akhirnya, dengan membulatkan tekad Daru kembali menyalakan hp-nya dan seketika ada notifikasi ting tung, tanda line masuk.

"Wah rame-rame mas sama temen sekelasnya mas Daru ke sininya?"

Toeng. Si Afin salah tangkap.

"Enggak, Fin sendirian aja. Tapi kalau sama kamu boleh rame-rame ya gas lah hahaha siapa tau dapet angpau"

"Waduh kalo rame-rame aku nya yang sungkan mas. Pada ga kenal temen-temennya mas Daru soalnya."

"Hehe iya aku sendiri aja ke sananya ya?"

"Siap mas"

"Siap apa Fin?"

"iya siap nunggu mas Daru lah :D"

Sejak pertama kali chat hingga detik ini, tak satupun emoticon atau sticker line yang muncul di antara chat dari Afin. Sedangkan, chat terakhir yang dikirim oleh Afin dia tambahkan sebuah emot tertawa lebar ":D". Apakah ini pertanda bagus?

Setelah Afin pamit tidur dan undur dari chat, Daru mulai panik. Dia ga tahu harus pakai baju apa karena setahu dia baju yang dia punya gembel semua.

"Eh mas, boleh pinjem baju ga?", tanya Daru kepada kakaknya yang sibuk bermain Dota.

"Ya terserahmu", jawab kakak Daru tanpa melihat Daru karena asyik bermain Dota.

Tanpa pikir panjang, Daru mulai mengobrak-abrik isi lemari kakaknya dan menemukan sebuah polo putih baru yang masih ada tanda segelnya. Dia berinisiatif memotong segelnya dan segera menyeterikanya untuk dikenakan besok. Saat menyeterika, dia baru teringat bahwa parfum dan jamnya ketinggalan di rumah Akmal kemarin setelah mereka nginep bersama. Dia pun kembali meminjam parfum dari masnya dan mengenakan jam tangan rusak yang sudah tidak pernah dipakainya lagi. Hitung-hitung biar keren dikit lah, pikirnya.

"Ooooo.. Tuhan untuk kali ini saja. Beri aku kekuatan tuk menatap matanya. Oooo.. Tuhan untuk kali ini saja. Lancarkanlah hariku. Hariku bersamanya"


***

Lagu yang dibawakan SO7 tersebut terus terngiang-ngiang di kepala Daru. Betapa tidak, Daru tidak pernah membayangkan sama sekali bahwa sore ini dia akan ke rumah orang yang selama 1 tahun ini dia lihat dari jarak jauh saja. Daru tidak bisa berhenti memikirkan apa saja yang akan dia lakukan, apa saja yang akan dia bicarakan, bagaimana reaksi Afin ketika Daru ke rumahnya nanti.

Dari pernah berbincang dengan Akmal, hari pertama cowok ke rumah cewek selalu jadi hari yang besar dan persaipan harus matang. Itu sepertinya terjadi pada semua laki-laki di dunia wkwkwk. Daru pun begitu juga kali ini. Sejak malam hari sebelumnya, Daru sudah menyiapkan baju apa yang akan dia kenakan, jam yang mana yang akan dia pakai, hingga parfum apa yang akan dia kenakan hahaha. 

Pukul 14.00 Daru mengeluarkan mobil Soluna nya dan berangkat ke rumah Bahy. Rencana awal, setelah dari rumah Bahy, mereka bertiga bersilaturrahmi ke rumah Bu Catur dan selanjutnya Daru ke rumah Afin. Selama perjalanan, Daru sudah merencanakan ingin membeli brownies sebagai oleh-olehnya yang dia bilang dari Blitar hehehe. Namun, ketika Daru sampai di Citra bakery, stock brownies sudah habis. Kata mbaknya, nanti jam 5 baru dikirim. Tapi, Daru sedikit tidak percaya karena watak orang Indonesia yang kebanyakan janj-janji belaka. Akhirnya, Daru putuskan untuk tanya Akmal dan Bahy saja nanti ketika tiba di rumah Bahy. Di tengah jalan, Daru ingat salah satu toko oleh-oleh milik Teuku Wisnu, Malang Strudel. Daru mampir sejenak ke toko tersebut, dia mencari brownies kembali. Namun, ternyata di Malang strudel stock brownies hanya kotakan kecil dan harganya pun cukup mahal.

Singkat cerita, Daru melanjutkan perjalanannya ke rumah Bahi di Banjararum. Setibanya di sana dia berbincang sebentar dengan Akmal dan Bahy sambil menunggu adzan Ashar tiba. Begitu adzan terdengar mereka bergegas dan sholat berjamaah. Setelah itu, mereka memutuskan untuk mencoba peruntungan menuju Holland Bakery di sepanjang jalan. Harapannya semoga ada stock brownies di sana, Sesampainya di sana, benar saja ada stock brownies di rak toko. Hanya saja brownies yang tersisa tinggal 1 buah. Padahal, rencana dia membeli 5 buah. (1 untuk Afin, 1 untuk Bu Catur, 1 untuk ibunya, 1 untuk Akmal dan 1 untuk Bahy). Daru memutuskan untuk membli stock brownies terakhir di Holland Bakery tersebut. dan dia juga membeli 4 buah roti dari Citra yang akan dia oleh2kan untuk ke-4 orang. 

Setelah itu, mereka langsung berangkat menuju rumah Bu Catur. Sempat tersasar beberapa kali, akhirnya mereka menemukan rumah Bu Catur dan bersilaturrahim ke rumahnya. Mereka berbincang-bincang banyak hal di sana. Hingga tak terasa adzan maghrib berkumandang. Daru dan teman-temannya berpamitan lalu sholat maghrib di masjid dekat rumah Bu Catur. Sebelum sholat, Daru dan teman-temannya survey lapangan dan mencari rumah Afin (Banjararum Asri blok D-10). Ternyata benar, tidak terlalu jauh dari rumah Bu Catur dan 2 rumah di samping kirinya berwarna greentea latte wkwwkk.

Setelah menemukannya, mereka langsung menuju masjid dan sholat berjamaah. Sebelum iqomah dikumandangkan, Daru sempat chat line ke Afin dan berkata "Assalamuálaikum Fin, aku ke rumahmu habis sholat maghrib ya".

Sesudah sholat maghrib, Daru dan teman-temannya berpisah. Di sinilah semuanya dimulai. Tangan dia mulai dingin dan kakinya mulai bergetar. Alay memang, tapi itulah yang terjadi. Padahal Daru termasuk orang yang mempunyai tingkat percaya diri yang tinggi. Tapi, ke rumah orang yang Daru sukai dan belum pernah akrab, sungguh membuatnya sedikit nervous. Daru pelankan laju mobilnya sembari mengurangi rasa nervous itu. Hingga mau tak mau tiba saatnya dia di rumah berwarna capuccino bernomer D-10. Daru memarkir kendaraannya di tepi dan lalu mengucapkan"Ässalamuálaikum."

Beberapa saat kemudian, pintu dibuka dan keluarlah perempuan dengan senyuman paling manis sedunia (tapi nomer 2, karena nomer 1 nya adalah ibu Daru hehehe). Dia mengatakan masuk mas Dar dengan senyuman manisnya itu. Dar kembali nervous begitu melihat wajahnya. Rencana awal dalam imajinasinya langsung masuk, Daru jadi alibi membetulkan posisi sepatunya agar rapih dan lebih lurus. Tidak lupa dia merapihkan seluruh sepatu dan sandal yang ada di rumah Afin. Dia juga ikut menyapu, ngepel, dan nyelonong ke belakang untuk cuci piring. Itung-itung menambah nilai plus di mata Afin dan keluarganya.

Begitu masuk ke rumahnya, Daru langsung duduk dan melemparkan senyumannya. Sesuai rencana awal dalam imajinasinya, kemudian dia melepaskan jaket yang dia kenakan dan membetulkan posisi jam tangannya. Sejauh ini berjalan sempurna! Afin menawarinya beberapa cmailan khas lebaran di meja ruang tamunya. Dia juga langsung menawari Daru minuman dan masuk ke dalam rumahnya. Karena nervous, Daru tidak mengeluarkan kata ajaib jayus yang biasa dia keluarkan jika ditanya ingin minum apa "Soda gembira 1 ya". Wahahaha cukup jayus, Tapi, karena saat itu dia sedikit nervous dia hanya bilang air putih saja sambil tertawa ringan. Di belakang, juga ada mama Afin. Namun, Daru tidak sempat salim karena beliau tidak keluar rumah. Afin lalu bertanya kepada Daru apa dia ingin hangat atau dingin. Daru bingung, perasaan dia hanya mentakan  air putih, bukan teh. Kok ditawarin hangat atau dingin. Daru mengulangi perkataannya bahwa dia ingin air putih saja. Afin lalu mengulangi juga ingin air putih hangat atau dingin. Ooohhhh itu maksudnya. Daru katakan yang biasa saja. Afin menaruh air putih tersebut di gelas cangkir berlepek dan juga ada tutupnya wkwkwkwkw. Sudah serasa minum teh ya.

Setelah itu mereka berbincang-bincang banyak hal. Di awali dengan pertanyaan kapan pulang mudik, hingga cerita-cerita SMP dan SMA. Daru melihat jam menujukkan pukul 18:21. Padahal niatnya kembali saat adzan Isya sekalian sholat di masjid tadi ketika dia sholat magrhib dengan Akmal dan Dicky. Adzan isya pukul 18:41. Sebuah kesialan kecil ketika Daru mengetahui dia hanya bisa di rumah Afin selama 20 menit saja. Obrolan dengan Afin sungguh seru, dia sangat suka bercerita dan Daru suka mendengar ceritanya. Baru Daru ketahui belakangan, kalau memang Afin supel dan suka menceritakan banyak hal kepada orang lain. Pikirnya, pantas saja banyak orang jatuh cinta kepada Afin. Orang-orang tidak hanya jatuh cinta karena kecantikannya, tapi juga jatuh cinta pada sifatnya yang supel dan selalu ingin berusaha mengerti orang lain. Daru membayangkan andai saja dia bisa chat dia tiap hari dan saling bertukar keluh kesah. Pasti seru sekali. Lamunan itu pecah tatkala Afin menyuruh Daru meminum minumannya. 

Di tengah-tengah perbincangan mereka, terdengar suara mobil masuk rumah Afin. Dia berkata papanya datang, Entah karena Afin melihat Daru nervous atau bagaimana, Afin mengatakan pada Daru "Tenang tenang mas.. nggak usah takut" Afin berkata seperti itu dengan tawanya yang sangat khas yang membuat orang lain ikut tertawa jika mendengarnya. Padahal, saat itu sebenarnya Daru sudah sangat nyaman dan tidak nervous sama sekali. Begitu papanya masuk rumah, Daru langsung salim dan berkata "Saya Daru temennya Afin om". Yang langsung disambut beliau, "Iya mas bilang pacarnya Afin juga ga papa hahaha." Afin langsung menambahkan "Cuma temen beneran kok pa". JLEB.

Setelah dipersilahakan duduk lagi oleh papa Afin, Daru langsung duduk lalu papa Afin masuk ke dalam lagi. mereka melanjutkan obrolan sampai akhirnya ada pengganggu datang. Kucing. Binatang yang selama ini jadi senjata teman-teman Daru jika ingin menakut-nakutinya. Afin mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir kucing itu agar keluar. Tapi, kucing tersebut bersikukuh ingin bergabung dalam obrolan hangat mereka. Daru tiba-tiba langusng reflek ikut mengusir kucingnya dengan mengarahkan kakinya pada si kucing ke arah keluar. Tapi, kucing tersebut teguh pada pendriannya tidak mau keluar dan Daru pun mulai khawatir kelihatan cemen karena takut kucing, Akhirnya dia meangkat kucing itu memakai tanganya terus dia taruh di luar. Ini pertama kalinya Daru mengangkat kucing. Bahkan sebenarnya dia tidak tahu bagaimana caranya, hanya saja dia pernah beberapa kali melihat Akmal mengangkat kucing dan akhirnya dia tiru cara mengangkatnya. Akhirnya kucing itu menurut dan tidak ingin masuk lagi, tahu bahwa Daru memohon-mohon pada kucing untuk tidak merusak harinya. Daru dan Afin kemudian masuk lagi ke rumah dan duduk dengan tenang tanpa gangguan kucing lagi.

Afin menyuruh Daru mencuci tangan terlebih dahulu yang ternyata dibarengi dengan suara kumandang Adzan isya'. Daru mengatakan kepada Afin kalau dia sekalian mau pamit. Daru tidak ingin memberi kesan buruk dengan berlama-lama hingga malam di pertemuan pertamanya dengan Afin. Tapi begitu Daru bilang dia sekalian pamit, hujan turun dan papa Afin bilang nanti saja kalau sudah reda. Ditambah Afin yang mengatakan hal yang sama yang membuat Daru mengurungkan niat pulang. Sebenarnya dalam hati senang sekali, tapi ekspresi yang Daru tunjukkan tidak enak hati. Karena sudah malam hehehhe. 

Mereka melanjutkan perbincangan hingga ngalor ngidul dan tidak selesai-selesai. Sungguh malam itu adalah malam yang super seru. Bayangkan saja kamu berada di rumah orang yang kamu sukai, dan kamu ngobrol hal-hal yang sangat seru dengannya. Mereka terus saling bertukar cerita dan tertawa akan banyak hal. Begitu Afin tertawa Daru ikut tertawa, begitu Daru tertawa Afin juga ikut tertawa. Hingga waktu menunjukkan pukul 20.00 dan hujan sudah reda. Daru berniat pulang begitu Afin selesai menceritakan pengalamannya tentang temannnya di kelas yang sempat kesurupan. sekitar 20:16 Daru mencek di jam rumah Afin. (yang kelebihan 10 menit). Daru izin pamit, namun sayang sekali lagi hujan datang dan Afin tidak mengizinkan Daru pulang. Kembali. Hati senang sekali, tapi ekspresi menunjukkan tidak enak di hati. Seneng pol asline iku atine Daru. 

Setelah itu dengan tidak terduga Frilya menanyakan apa Daru menaruh hati kepada Afin. Daru katakan masa iya harus dijawab. Afin cepat-cepat mengoreksi pertanyaannya dan meminta maaf keceplosan bertanya hal yang privasi. Daru mengatakan tidak apa-apa. Lalu dia mengalihkan perbincangan dengan hal lain. Lagi-lagi mereka berbincang hingga lupa waktu sampai waktu di jam rumah Afin menunjukkan pukul 20:30 (yang artinya 20:20). Dari izin pulang (lagi) ke Afin, karena hujan juga sudah agak reda walau masih gerimis. Afin mengizinkan namun raut mukanya setengah hati, setelah ditambahi kata "padahal masih ada yang pingin tak omongin mas". Daru kembali duduk dan memaksa Afin melanjutkan ceritanya. "lho iya apa wes apa omongin Fin ayo gapapa" 

Kemudian Afin bercerita tentang bagaimana ketika Daru berkata pada temannya bahwa Daru menyukai Afin dan akan menjadi the most persistence for her yang saat itu tidak sengaja Afin lewat dan mendengarnya. Dia juga berkata saat itukedua temannya Adel dan Sevilla masih menaruh rasa pada Daru sehingga Afin sungkan setengah mati. Mendengar cerita itu, Daru tidak ingin berharap terlalu tinggi karena dia tahu sangat mungkin Afin tidak merasakan apa yang dia rasakan. Setelah bercerita panjang lebar kembali yang tidak ada habis dan jedanya. Mereka sempat diam-diaman sejenak. Daru jadi berpikir bagaimana ya kesan Afin kepadanya. Lalu Daru memecah keheningan dengan berkata "Sudah terang hehehee" sambil menunjuk ke arah atas tanda sudah tidak hujan.. Afin melanjutkan "iya sudah terang hehe". Sebenarnya Daru ingin lebih lama lagi heheh jadi dia ulangi lagi "Sudah terang Fin." sambil tertawa. Afin jadi ikut tertawa juga dan melanjutkan omongan "iya mas sudah terang". Daru ulangi sekali lagi perkataannya hingga kami tertawa kembali. Akhirnya, setelah salim pada papa Afin, Daru benar-benar menginjakkan teras rumah Afin dan keluar pagarnya. 

***

Kata orang, kita tinggal menunggu kata-kata "terima kasih untuk hari ini" setelah keluar atau bertemu dengan orang yang kita sukai. ting tung. seketika di perjalanan notifikasi line berbunyi dan Afin mengatakan

"Assalamu'alaikum mas Daru, mas makasi yaa oleh olehnya sama kotaknya ini 😄 aku suka banget. Buat sendiri mas? Oiya jangan lupa cuci tangan ya mas 😁"