Minggu, 24 Agustus 2014

Impian Masa Silam :D

Aku mulai menulis ini saat di ujung komputerku menunjukkan pukul 23:59.
Basket.
Entah kenapa olahraga ini benar-benar membuatku jatuh cinta. Aneh, memang. Padahal, aku tidak bermain dengan teknik yang sangat bagus atau skill yang mumpuni. Tetapi, sejak aku bermain olahraga ini, aku tidak bisa seharipun pergi ke sekolah tanpa memikirkan basket. Berbeda saat aku mengikuti sekolah sepak bola. Dari kecil, orang-orang sudah bilang bahwa aku berbakat sepak bola. Di perumahanku, aku selalu bermain dengan anak-anak yang lebih besar dariku. Namun, aku selalu berhasil mencetak gol lebih banyak dari mereka. Mungkin itu yang membuatku menyandang kapten SSB Lawang setelah 1 tahun aku mengikuti latihan di sana. Aku mendapat linkar ban kapten dengan perjuangan yang cukup keras. Setiap sore aku selalu pergi ke lapangan untuk berlatih sepak bola. Dan alhasil pada turnamen di ajendam, aku berhasil menyandang kapten. Di turnamen-turnamen selanjutnya, aku selalu menjadi kapten. Hanya saja nasib beruntung tidak berpihak padaku saat itu, ketika aku tidak bisa mengikuti sleksi Villa 2000 yang merupakan jalur terbaik mencapai timnas Indonesia. Akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti sepak bola karena aku sendiri sudah tidak nyaman berada di SSB Lawang pada saat itu.

Awal aku mulai mencintai basket adalah saat classmeeting di sekolahku. Aku selalu yang paling pertama untuk mengajukan classmeeting basket. Waktu itu, aku bukan bagian dari pemain ekskul basket. Hanya saja, euforia ketika bermain basket di sekolahku benar-benar sangat meriah. Sampai akhirnya, saat kelas 9 Danu mengajakku untuk berlatih basket dengan ekskul basket. Sejak saat itu aku semakin mencintai basket, dan impian utamaku adalah bermain di kompetisi terbesar di Indonesia-DBL-. Dalam benakku aku juga berkeinginan untuk bisa menjadi bagian dari DBL All-star.

Petualangan basketku selama SMP sangat menyenangkan, namun tidak membuatku berkembang pesat. Aku yang slelau berambisi dan pekerja keras, berusaha mendapatkan tempat utama di tim basket. Alhamdulilah, saat turnamen pertamaku aku berhasil mendapatkan tempat utama. Akhirnya, aku menjadi salah satu mesin poin bagi tim basket sekolahku. Saat itu, aku berfikir bahwa aku adalah pemain yang cukup bagus dan bisa menandingi pemain-pemain basket dari sekolah lain. Namun, pikiran itu berubah saat aku memasuki SMA.

Petualangan basketku di SMA ternyata jauh lebih keras. Aku masuk di skuad SMAN 3 Malang yang terkenal dengan basketnya. Di sini semua pemain hebat dari seluruh daerah berkumpul. Aku baru menyadari bahwa teknik dasar dribble-ku benar-benar sangat kurang. Akhirnya, aku berlatih semakin keras. Tiap sore aku bermain basket di lapangan dekat rumahku. Di penghujung semester, aku mulai berkembang. Tetapi, kejadian seperti saat masih di SSB itu kembali terulang. Kejadian tidak nyaman karena tidak memiliki teman dekat yang bisa memotivasi. Aku memulai basketku karena motivasi dari Danu, dan akhirnya dengan berat hati saat itu aku mengundurkan diri dari basket. Karena motivasi baruku, temanku, adalah berada di futsal. Sayang sekali. Kalau mengingat-ingat masa bermain basket, benar-benar membuat mood menjadi naik bagaimana saat itu-walaupun perlu perjuangan keras- aku sangat bahagia bermain basket dan selalu termotivasi. Namun, semua sudah selesai. Tidak akan ada lagi ceritaku tentang basket di hari-hari ke depan. Mungkin ada, saat anakku meneruskan basket yang pernah aku mulai :D hahahaha


Senin, 18 Agustus 2014

A New Chance

"Everybody has the same chance. It depends on whose spirit will last till the end"

Semester baru berarti pelajaran baru. Untuk kelas 10 mungkin ini adalah semester pertama baginya. Untuk kelas 11 ini adalah semester ketiga bagi mereka. Dan untuk kelas 12 sepertiku ini adalah semester ke-5 menuju semester terakhir yaitu semester 6.

Banyak orang gagal dikarenakan start yang buruk. Bahkan ada pepatah mengatakan "A great start will bring the great finish." Awal yang baik akan membawa akhir yang baik juga. Namun, ada sebagian minoritas yang memiliki start yang buruk, namun hasil yang baik. Tapi, hanya sedikit. Tinggal bagaimana seseorang tersebut memanfaatkan setiap peluang yang ada.

Semester baru berarti kesempatan baru. Di awal semester baru berarti catatan nilai rapot direset 0 lagi. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan peringkat 1 di awal semester baru ini. Tetapi, mengapa seringkali walaupun terdapat kesempatan baru banyak orang menyia-nyiakannya dan peringkat 1-3 selalu jatuh kepada orang yang itu-itu saja. Tidak berganti. Walaupun berganti, mungkin tidak signifikan. Mengapa selalu seperti itu?

Sistem pendidikan dan lingkungan.

Sistem pendidikan dan lingkungan-lah jawabannya. (Setidaknya itu pendapatku). Menurutku, Indonesia memiliki sistem pendidikan yang buruk dimana seorang siswa dituntut untuk menguasai banyak pelajaran sekaligus. Tidak hanya itu, jam belajar sekolah di Indonesia merupakan jam belajar terlama di dunia dengan rata 1680 jam setiap tahun. Menurut menteri Pendidikan Indonesia jam tersebut dirasa kurang, sehingga di kurikulum 2013 Menteri pendidikan menambah jam belajar siswa. Ini semakin memberatkan bagi kami, siswa di Indonesia.

Sistem pendidikan di sekolah juga perlu dipertanyakan. Saat ini, banyak sekali guru-guru yang membiarkan siswanya mencontek saat ujian nasional, ulangna harian, atau bahkan saat mengerjakan pr. Dengan alasan supaya siswa bisa mendapatkan nilai bagus dan mendapatkan PTN yang diinginkan, guru mebiarkan hal tersebut terjadi. Akibatnya, guru yang tidak jeli akan susah membedakan mana murid yang memang pandai dan mana murid yang "seolah-olah" pandai.

Kemudian lingkungan juga ikut andil dalam memepengaruhi perkembangan dan pola pikir remaja. Dimana remaja saat ini sangat bergantung pada lingkungannya. Masalahnya, sifat dasar manusia yang menyukai kebebasan membuat di era ini kebebasan terlalu diselewengkan hingga "keblabasan".  Banyak siswa tidak lagi menjunjung tinggi kejujuran, namun harga diri dan eksistensi di kalangan remaja membuatnya melakukan apapun termasuk bergaya hidup dan berpola pikir seperti dimana lingkungannya berada.

Saya, penulis, bukan orang cerdas yang tahu semua hal atau orang intelek yang paham dengan survey-survey di masyarakat. Saya hanyalah pelajar biasa yang berusaha lulus dengan hasil terbaik di tahun pelajaran kali ini. Namun, apa yang membuat saya sedikit tahu tentang hal itu adalah karena saya terlahir dengan konfidensi yang cukup tinggi. Saat saya berada di SD saya selalu berada di peringkat pertama mulai kelas 1 hingga kelas 6. Saya mendapat berbagai penghargaan juara olimpiade. Memasuki smp, saya masih berada di jajran peringkat atas. Saya mendapat peringkat 2 awal semester. Selama di smp, saya selalu masuk di jajaran peringkat 5 besar kelas dan 1 kali masuk peringkat pararel di SMPN 1 Singosari. SMP unggulan yang berada di daerah saya. Sekolah ini memiliki sistem pendidikan yang bagus dimana hampir tidak pernah terlihat ada jam kosong di sebuah kelas. Di kelasku sendiri saat ulangan tidak ada tradisi contek-menyontek, ada sih, tapi hanya 1-2 orang itu pun mencontek sewajarnya. Berbeda dengan civitas akademika tempat saya berada saat ini, dimana contek-menyontek merupakan tradisi yang selalu dilakukan setiap ulangan. Bahkan banyak guru yang tidak lagi mampu menangani siswa yang mencontek ini saking banyaknya dan saking ada di setiap ulangan. Alhasil, banyak guru membiarkan hal itu terjadi.

Saat SMP saya tumbuh di lingkungan yang cukup mendukung saya. Saya memiliki teman-teman yang sangat supel dan peka. Tidak heran, jika ada salah satu orang menjadi pendiam atau murung karena sesuatu, siswa di kelasku akan langsung bertanya apa yang terjadi. Kekompakan juga terjalin satu sama lain di kelas saya. Bahkan saat sudah lulus 3 tahun (saat ini) kami masih sering berkumpul bersama. Pernah sering kali saya sakit, dan saya mengabarkan di grup whatsapp smp saya. Lalu di hari berikutnya banyak teman smp datang ke rumah. Padahal, saat itu saya hanya terkena demam dan flu. Itu juga berbeda dengan tempat saya berada saat ini dimana lingkungan yang membuat perbedaannya. Di sini ego setiap orang lebih tinggi. Singkatnya, jika disini mereka menyebutnya persahabatan, di tempat saya itu hanyalah pertemanan.

Sudah sejak kelas 2 smp saya mencanangnkan target untuk berhasil masuk di jajaran pararel. Namun, aku gagal mengulang ranking pararel yang pernah aku dapat saat kelas 1 smp. Rencana yang sedemikian rupa dibuat terkdang bisa cacat, atau bahkan hancur berantakan. Sebuah angan yang tak tercapai dan mimpi yang tak tergapai oleh tangan-tangan ini. Terkadang ingin saja menyerah mengejar semua itu. Tetapi, sebenarnya kesempatan itu selalu ada. Kesempatan selalu muncul apalagi di awal semester baru ini. Dan dengan berakhirnya tulisan ini, semoga aku berhasil mendapatkan cita-cita itu di semester ini. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Selasa, 29 Juli 2014

Sahabat Nan Jauh di Mato

Ku balik lembar per lembar sebuah buku berjudul "MUHAMMAD the greatest story". Aku semakin terkesan dan tersentuh membaca lembar demi lembar buku ini. Buku ini benar-benar membuatku ingin mengenal Nabi Muhammad SAW lebih dalam. Dan juga tentunya menjadi pemeluk agama islam yang sholih dan mengamalkan isi Al-Qur'an.

Buku ini adalah salah satu dari 5 buku yang dipinjamkan temanku. Beberapa bulan yang lalu dia pergi umrah ke Makkah. Sejak kembali dari Makkah, dia berubah menjadi wanita islamic. Dia mulai belajar banyak tentang islam dan juga mendakwahkannya. Dia menuliskan di blog nya pengalaman pertama menggunakan jilbab syar'i. Tidak hanya itu, dia juga mulai melaksanakan sunnah-sunnah Rasul yang sebelumnya jarang dia kerjakan.

Jujur saja, dia hanya berdakwah melalui media blog. Dan sedikit di broadcast bbm. Namun, efeknya sangat mempan. Dari awal aku adalah blog traveler nya. Setiap dia menuliskan posting baru, aku aku men-cek blog nya dan membaca posting itu. Tapi, aku mulai tertegun membaca tulisan pengalamannya selama umrah. Aku sangat terkesan. Melalui tulisan kecilnya dia membuatku bercita-cita untuk segera memenuhi undangan Allah SWT menuju Makkah.

Terus terang meskipun dia adalah tipikal anak yang supel dan mudah bergaul, namun jiwa sosialisnya tidak begitu besar. Mungkin terhalang oleh kewajiban belajar di sekolah karena tuntutan cita-citanya yang tinggi untuk menjadi seorang dokter. Selama kami di smp, dia hanyalah siswa biasa dan tidak aktif dalam kegiatan osis atau kegiatan sekolah. Namun, satu hal yang aku tahu bahwa dia sangat serius dalam mengejar cita-citanya.

Walaupun jiwa sosialis nya tidak begitu besar. Namun, dakwahnya mengena di hati. Aku sering sharing dengannya. Tidak hanya tentang islam. Terkadang ketika aku atau dia kesal oleh teman-teman kami di sekolah, kami saling bercerita. Dia juga seringkali berkata padaku jangan sampai sekali-sekali terbawa arus sehingga menjadi pelajar yang buruk.

Meskipun dakwah yang dilakukannya termasuk sederhana. Itu cukup memberikan efek besar. Aku jadi teringat oleh tweet temanku padanya yang mengatakan bahwa dia memiliki aura positif. Hahaha. Mungkin temanku benar, dia memang membawa aura positif.

Dan yang terakhir, aku ucapkan banyak terima kasih karena telah berbagi pengalman dan kadang-kadang juga menanggapi percakapan gak jelas khas-ku. Hahaha. Teruskan Dakwahmu! Keep Inspiring!


Senin, 28 Juli 2014

Ramadhan Tahun Ini

Assalamu'alaikum wr. wb.

Nggak terasa bulan puasa yang semuanya 29 hari tiba-tiba sudah berlalu aja. Dari puasa hari pertama yang rasanya mengawali semua perbaikan diri di bulan Ramadhan ini hingga puasa terakhir puncak kemenangan yang telah kita raih (Walaupun nggak tahu kita baru saja menang dari apa, menang dalam memerangi hawa nafsu mungkin?). Aku masih ingat gimana puasa hari pertama yang niatnya tahun ini bisa khatam. Akhirnya, bacaan Al-Qur'an yang sudah sampe' juz 20 an, aku ulang dari juz 1 lagi. Di hari pertama, aku sukses mencapai target membaca 5 lembar per sholat. Bahkan aku melampuinya, aku berhasil membaca 45 halaman di hari pertama. Menginjak hari kedua rasa malas kembali datang -,_- Akhirnya aku hanya menambah 15 halaman. Dan seterusnya dan seterusnya, hingga akhirnya Ramadhan tahun ini aku kembali gagal mengkhatamkan AL-Qur'an.

Rasa lapar di bulan Ramadhan memang tidak terlalu terasa. Sejak kelas 6 SD aku sudah merutinkan diri untuk berpuasa senin-kamis. Niat awal senin-kamis waktu itu adalah agar aku bisa mendapat nilai yang memuaskan saat ujian nasional SD. Dan akhirnya aku lanjutkan sekalian ngirit uang sangu hehehehe. Namun, di 10 hari kedua ketika di siang bolong kadang-kadang perutku terasa lapar. Wah, mungkin Allah sedang mengujiku karena aku terlalu sombong. Akhirnya, istighfar berkali-kali aku ucapkan agardihilangkan dari rasa lapar tersebut :)

Ramadhan tahun ini aku lumayan sukses dalam mengadakan acara buka bersama Alumni OSIS SMPN 1 Singosari 3 angkatan mulai tahun 2011-2013. Walaupun dengan persiapan yang kurang maksimal, alhamdulillah buber yang dilaksanakan pada tanggal 12 Juli itu bisa sukses dengan bantuan teman-teman panitia. Gara-gara buber ini, aku jadi kembali berhubungan dan bersilaturahmi dengan osis angkatanku untuk membahas acara ini. Beberapa di antara osis angkatanku memang menjadi panitia dalam buber ini. Dari rapat-rapat persiapan buber itu, perasaan lama sempat kembali muncul walau akhirnya pupus dengan cepat juga hahahaha. Gara-gara persiapan buber ini, aku juga kembali berhubungan dengan sahabat lamaku saat ada di smp. Dia tampak tidak berubah sama sekali saat kami bertemu, masih seseru seperti dulu, walau aku dan Danu terkadang berpikir bahwa dia telah banyak berubah sejak dia hampir tidak pernah berkumpul bersamaku dan Danu lagi.



Saat pembuatan video story untuk buber alumni
Alumni OSIS angkatan 2011
Selain itu, ada juga cerita baru di Ramadhan kali ini. Buber Jupanca. Buber yang setiap tahun diadakan 5 kali berturut-turut dan tahun ini menginjak tahun ke-6 nya. Awalnya, buber Jupanca ini akan diadakan tanggal 20 Agustus. Ada sekitar 9 orang yang sudah konfirmasi kehadirannya. Namun, saat H-7 3 orang mengkonfirmasi tidak jadi datang ditambah teman-teman dari osis smanela yang sedang sibuk mempersiapkan program kerjanya. Akhirnya, buber Jupanca diundur tanggal 25 Juli bersamaan dengan pulangnya Fanny ke Malang. Tapi, saat Danu dan aku tanya di grup Jupanca untuk konfirmasi, teman-teman tidak ada yang menjawab. Akhirnya, aku sms ke beberapa anak Jupanca. Hasilnya sama, tidak ada yang menjawab. Sampai akhirnya Danu mengganti nama grup menjadi "Jupanca Gagal Buber", aku menjawbanya "Halah, mosok gagal." Masih tidak ada yang merespon. Sampai pada tanggal 25 tidak ada kepastian. Dan Buber resmi ditiadakan. Tanggal 26 Julinya aku berbincang-bincang dengan Danu. Tapi, ada satu catatan. Walaupun saat itu tidak ada yang respon. Tapi, ada satu anak yang bolak-balik sms aku dan Danu. Isinya tetap sama "Buber e sido kapan?" Bahkan saat tanggal 25 Juli dia masih sms, "Dino iki sido buber a?". Barang 6 kali dia sms kepadaku dan Danu, dengan pertanyaan yang sama dan jawaban yang sama. "Gak eruh, gak ono seng respon.". Dan di tanggal 26 Juli itu, aku meminta pendapat Danu jika diadakan buber Jupanca sorenya di Bakso Cak Kar. Danu setuju. Akhirnya, aku menginformasikan ke anak-anak Jupanca. Banyak yang respon terlalu mendadak. Tapi, setidaknya niatku hanya ingin menyambung silaturahmi dan menyambung rantai Buber Jupanca yang sudah 5 tahun diadakan. 

Sorenya, aku menjemput Tyo, seseorang yang sangat aktif bertanya di atas tadi. Kami berangkat bersama menuju bakso Cak Kar. Kami sampai sekitar pukul 17.00. Dan tidak ada anggota Jupanca yang datang. Mungkin habis ini. Kami menunggu, menunggu, dan menunggu. Hingga adzan maghrib tidak ada seorangpun yang datang. Akhirnya baru beberapa saat kemudian Danu datang. Alhasil, cuma 3 orang ini yang datang di Buber Jupanca. Setidaknya, kami tetap menyambung rantai Buber ini.

Hingga akhirnya, 28 Juli Hari Raya Idul Fitri tiba.

Akhiru Kalam, Selamat Hari Raya Idul Fitri! TaqabalAllahu minna wa minkum. Mohon maaf atas semua kesalahanku ke kalian ya! :)

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Senin, 02 Juni 2014

"You know when you remembered something when you listen to those songs or those moments, sometimes suddenly the moment of someone appeared together with it."