Sisa-sisa euforia ketenangan, kebahagiaan, kebersamaan saat jeda liburan kuliah 4 minggu masih terasa. Aku memilih kembali ke Bintaro menggunakan pesawat. Menurutku, pulang kampung ke Malang dengan kendaraan apapun tidak masalah. Bahkan kereta berkursi 90 derajat seharga 100ribu saja tidak masalah. Tetapi, berbeda ceritanya apabila kembali ke Bintaro. Perasaan sedih dan homesick selalu menyelimuti sepanjang perjalanan, apalagi kalau di kereta yang jarak tempuh Malang-Jakarta 14 jam. Rasanya tidak enak. Sejak liburan ini aku bertekad untuk kembali ke Bintaro menggunakan pesawat saja. Tidak terlalu mahal kok, karena aku selalu memburu tiket murah atau tiket final call.
Kembali ke Bintaro kali ini terasa berbeda. Perasaan sedih bercampur juga dengan pengumuman IP yang ternyata cukup mengecawakan. Ketika IP keluar, aku lihat namaku dengan IP 3,27 di sebelahnya. Bukan tidak bersyukur, tapi itu merupakan penurunan prestasi dari semester 1 3,67 dan semester 3,61. Aku akui semangat belajarku berkurang di semester 3 ini. Dari yang dulu tiap hari belajar, sekarang sudah menjadi SKS. Tapi, bukan hanya itu saja masalahnya. Masalah lainnya muncul di satu kata berikut: dosen. Sebagian temanku di grup chat LINE kelas memang menyalahkan dosen. Di mana kelas kami diampu oleh 6 dari 9 dosen koordinator. Tentunya itu bukan suatu rezeki. Malah bisa jadi dikatakan musibah. Mengapa? Karena tanggung jawab dosen koordinator cukup besar. Kalau kelas yang diampunya mendapat nilai baik semua, elektabilitas dosen tersebut bisa menurun karena dianggap membocorkan soal ujian. Itu hanya asumsiku saja. Tapi, mungkin itu benar terjadi. Bagaimana tidak, kelasku adalah peraih rata-rata IP terendah seangkatan. Hanya 5-6 orang saja yang mendapat IP cum laude. Bandingkan dengan kelas sebelah (hampir semua kelas sebenarnya) yang seluruh mahasiswanya cum laude, hanya 2-4 orang saja yang tidak cum laude. Tidak adil, menurutku. Bagaimanapun juga ini sudah takdir Allah. Kita pasrahkan saja semua kepada-Nya dan berbaik sangka bahwa ini adalah jalan terbaik yang Allah berikan. Mungkin untuk memotivasi kami belajar lebih. Atau bisa juga agar aku pribadi, tidak meremehkan dan harus belajar giat.
Dalam track recordku, jarang sekali aku bisa bangkit setelah kegagalan. Saat SMP aku selalu berprestasi di sekolah, tapi saat SMA aku kesusahan berprestasi hanya gara-gara malas. 3 tahun selama di SMA 3 tahun pula aku gagal bangkit dan kembali berprestasi. Saat ikut sekolah sepak bola, aku gagal seleksi Villa 2000 academy. Saat itu juga, aku berhenti ikut sekolah sepak bola. Saat SMA, aku gagak merebut posisi tim inti basket, dan akhirnya berakhir sama: aku berhenti. Satu-satunya keberhasilanku bangkit adalah saat aku kelas 2 SD. Aku selalu berturut-turut ranking 1 paralel di SD ku. Namun, saat semester 1 kelas 2, peringkat tersebut direbut dan aku hanya menduduki ranking 2. Sesudahnya, aku belajar keras hingga akhirnya aku kembali berada di peringkat pertama.
Seringkali aku gagal bangkit. I always fail to get up. But now... I will do my best to get the best IP on my campus so that I can achieve my target. Aamiin.
Minggu, 26 Februari 2017
Senin, 20 Februari 2017
Backpacker to Singapore Malaysia - Day 1
Pagi sekali aku terbangun. Aku melihat sekeliling kamarku di kos baranade. Gelap. Ku raih ponsel di sampingku dan melihat jam yang ternyata masih menunjukkan pukul 2 pagi. Aku terbangun sepagi ini, bukan. Bukan karena persiapan pergi ke Singapore. Tapi, karena ada adek tingkat di kosku yang kesurupan
Kami menuju bandara Soekarno-Hatta dengan menggunakan grab car. 92.000. Cukup murah mengingat biasanya sampai harga 125.000. Selama perjalanan aku sudah sibuk merekam segalanya dan nge-vlog. Berharap petualangan di luar negeri pertamaku dapat menjadi pengalaman paling berkesan.
Aku dan Akmal langsung menuju imigrasi dan mengisi form. Antrian tidak begitu panjang dan tiba saat giliran kami. Begitu diperiksa tugas, ternyata kami harus mengisi alamat selama kami di Singapore. Sialnya, kami harus keluar dari antrian, tidak boleh tulis di tempat. Dan begitu melihat antrian belakang, panjang sekaleee!! Setelah selesai semuanya. Kami langsung bertanya ke petugas imigrasi di mana tempat MRT berada. Yang keren dari Singapore adalah stasiun kereta listriknya, bisa 1 gedung dengan mall, bandara, dan tempat-tempat umum lainnya.
***
Setelah lelah karena begadang semalaman berusaha mencari ustadz yang mampu menyadarkan adek tingkatku, aku terbangun oleh ketukan pintu dari Akmal. Aku yang sebelumnya mewanti-wanti Akmal untuk bangun pagi, ternyata ketiduran. Akmal mengenalku sebagai orang yang tepat waktu. Tapi, kali ini dia tampaknya sedikit kecewa karena aku baru bangun. Aku jelaskan secara singkat kepadanya mengenai kejadian dini hari tadi. Akhirnya, aku mengambil air wudlu lalu sholat. Sesudah itu aku mandi dan bersiap. Untung saja kemarin aku sudah packing dan menyiapkan baju apa yang akan aku gunakan pagi ini. Jadi, tidak masalah hanya butuh waktu persiapan sekitar 30 menit menuju keberangkatan kami.
"Yopo Mal? Tuku mangan sek a?", tanyaku pada Akmal. Aku terbiasa memulai hari dengan sarapan pagi. Jadi, aku berharap Akmal menjawab iya.
"Gak wes. Engkok wedi telat, mending mangan ndek kono ae", Akmal menjawab sembari meraih tasnya dan kami pun berangkat.
Kami menuju bandara Soekarno-Hatta dengan menggunakan grab car. 92.000. Cukup murah mengingat biasanya sampai harga 125.000. Selama perjalanan aku sudah sibuk merekam segalanya dan nge-vlog. Berharap petualangan di luar negeri pertamaku dapat menjadi pengalaman paling berkesan.
Kami tiba di bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 7.00 pagi. Sebenarnya jam terbang pesawat kita (tiger air) adalah pukul 11.35 tapi karena saking takutnya telat kami sudah tiba sepagi ini. Tentunya dengan perut yang keroncongan karena belum sarapan. Aku mencoba memakan roti yang telah aku siapkan.
Pukul 10.30 aku dan Akmal check in menuju waiting room. Ada kesialan kecil ketika 2 parfumku (aku membawa 3 parfum), diambil oleh petugas karena melebihi batas minimal air yaitu 100ml. Aku berdalih kalau parfum itu suah mau habis, dan memang betul sudah mau habis. Tapi, ternyata alasanku tersebut tidak membuat parfumku dikembalikan.
"Yopo seh ko, kan wes tak omongi gaoleh nggowo benda cair.", kata Akmal kembali mengingatkan
"Lali Mal. Tak kiro mek sabun cair tok seng gaoleh.", jawabku.
Oh iya, selain parfum itu sebenarnya ada 1 lagi percobaan yang aku lakukan. Aku membawa tongsis yang banyak disebut tidak boleh dibawa dalam tas kabin. Dan ternyata tongsisnya lolos sodara-sodara! Alhamdulillah.
***
Setelah terbang selama sekitar 1 jam 45 menit, akhirnya kami sampai di bandara Changi Singapore. Tentu saja ini menjadi pengalaman pertamaku menginjakkan kaki di luar negeri. Awalnya, aku dan Akmal bingung setelah ini harus ke mana. Aku mengambil inisiatif untuk bertanya pada bagian informasi.
"Excuse me mom. I just arrived from Jakarta, where should I go?", tanyaku pada petugas di sana.
"I'm sorry what do you mean?", jawabnya yang ternyata tidak paham maksudku.
Aku langsung saja to the point, "Where is the immigration?"
"Ah down there."
Aku dan Akmal langsung menuju imigrasi dan mengisi form. Antrian tidak begitu panjang dan tiba saat giliran kami. Begitu diperiksa tugas, ternyata kami harus mengisi alamat selama kami di Singapore. Sialnya, kami harus keluar dari antrian, tidak boleh tulis di tempat. Dan begitu melihat antrian belakang, panjang sekaleee!! Setelah selesai semuanya. Kami langsung bertanya ke petugas imigrasi di mana tempat MRT berada. Yang keren dari Singapore adalah stasiun kereta listriknya, bisa 1 gedung dengan mall, bandara, dan tempat-tempat umum lainnya.
Akhirnya, setelah turun 3 lantai ke bawah kami tiba di loket pembelian tiket MRT. Sebelum berangkat aku mendapat info untuk backpacker sebaiknya membeli singapore tourist pass (STP) yang seharga 20$ utk 3 hari dan bisa digunakan untuk fasilitas transportasi apapun tanpa terbatas.
Aku katakan kepada petugas loketnya, "I want one for three days." Di tanganku membawa 1 lembar uang 50$. Lalu, si petugas tiket bertanya apa aku juga ke universal studio? Aku jawab iya. Kemudian dia menjelaskan dengan bahasa Inggris sangat cepat yang aku benar-benar tidak paham 😂 sebenarnya aku menangkap sedikit dari apa yang dibicarakan petugas loket. Tapi, aku tidak yakin.
Belum ku jawab karena tidak begitu paham dengan apa yang dikatakan dengan bahasa Inggris yang sangat cepat 😂 tiba-tiba Akmal di belakang mengatakan "YES" pada petugas loket. Akmal bilang sempat mengira petugas loket menawarkan promo universal studio. Aku percaya karena seringkali dia lebih paham apa yang dikatakan singaporean dengan bahasa Inggris sangat cepat.
Setelah menggunakan tiket tersebut seharian, baru kami sadari kalau yang kita beli ez-link, bukan STP. Karena ada saldo di kartunya yang berarti kami harus memperkirakan perjalanan kami karena kini perjalanan kami terbatas. Waduh, sial.
Mungkin, benar apa yang aku tangkap dari pembicaraan dengan petugas loket tadi. Yang aku tangkap adalah ada 2 kartu ez-link dan singapore tourist pass. Kalau aku mau ke Universal studio dari vivo city menggunakan kereta, aku tidak bisa menggunakan STP, tetapi harus menggunakan ez-link. Jadi, apa aku mau beli ez-link?
Thanks Akmar for saying YES!
Setelah mendapat kartu ez-link tadi, aku dan Akmal langsung menuju MRT dan turun di stasiun Lavender. Awalnya, kami sempat tersasar karena kesotoyanku. Tapi, karena kecurigaan Akmal yang dari awal mengira kami kesasar. Akhirnya, kami menemukan jalan kebenaran. Padahal, aku sudah mempersiapkan semuanya. Masih aja kesasar hehehe. Yang tidak kami sadari adalah bahwa google maps bisa saja berbeda dari tempat aslinya. Dan itu yang terjadi pada kami. Kami bertanya sana sini di mana kah tempat Moni Gallery Hostel berada. Sampai akhirnya ada seorang bapak-bapak dan 2 anaknya yang memberitahu kami melalui mapsnya. Tampaknya, google maps orang Indonesia dan Singapore berbeda hahahaha I don't know.
Istirahat di hostel sebentar, kami langsung melanjutkan perjalanan kami ke Merlion dan Esplanade. Sebelum itu, kami berkenalan dengan roommate kami yang berasal dari Indonesia juga. Namun, dia bilang dia besar dan tumbuh di Hongkong. Baru waktu dewasa pindah ke Indonesia. Bapak ini juga yang menyuruh kami ke tempat prostitusi Geylang. Akmal semangat sekali menuju tempat ini hahaha. Tapi, tentunya kami tidak ke sana.
Sampai di Merlion hari sudah cukup gelap. Sunset dari sungai yang aku tidak tahu namanya sungguh luar biasa! Kami mengambil beberapa foto dan video di merlion dan esplanade. Tapi, hal yang lucu adalah kami sedih. Kami sedih karena kami menikmati pemandangan lampu perkotaan yang sangat indah, tapi kami menikmatinya dengan laki-laki layaknya homo. Seharusnya kami pergi berbanyak orang atau setidaknya harusnya sama Istri kita hahahaha.
Hingga pukul 10 malam kami kembali ke hostel dan kami sempatkan beli makanan nasi lemak seharga 2,2$. Akhirnya! Kami menemukan makanan ini yang seringkali kami lihat di cerita traveller lain. Makanan Singapore paling murah!
Aku sholat di ruang studio hostel yang sebenarnya diisi oleh 12 orang vietnam. WOW. Tapi, mereka masih belum kembali jadi kami bisa menggunakan ruangan itu. Di sana, aku berkenalan dengan Farhan. Moslem asal Singapore yang mungkin salah satu pengurus hostel ini. Entahlah, aku tidak sempat menanyakan sedang apa dia di sini, Tapi, yang pasti beberapa hari berikutnya kami sempat bertemu beberapa kali ketika melaksanakan sholat, Tapi, tahu tidak? Senang rasanya mendapat teman baru dan beragama sama di negeri orang ini.
Lalu, kami tidur dengan nyenyak.
Jumat, 11 November 2016
No Regret Life
Lapangan basket itu terlalu sempit. Ketika bermain basket, lari sana sudah sampai ring barat. Lari sini, eh tiba-tiba sudah sampai ring selatan. Garisnya pun tidak jelas. Cuma dilapisi cat putih yang sudah usang dimakan waktu. Lapangan sisi sebelah barat juga bergeronjal dan sudah berulang kali ditambal. Terakhir aku main di sana, 5 tahun yang lalu kondisinya benar-benar menyedihkan! Dan terakhir aku ke sana, 6 bulan yang lalu dan kondisinya masih sama menyedihkannya! Namun, bukan itu yang mau dibahas. Tapi, kenangan 3 tahun berada di situ yang tak terganti!
Tiap orang pasti punya penyesalan terbesar dalam hidupnya. Banyak diceritakan di buku-buku motivasi orang akan mulai menyesal tidak melakukan sesuatu saat berumur 40-60 tahun. Tapi, di masa semuda ini, 19 tahun, aku sudah mendapatkan (mungkin salah satu) penyesalan terbesar dalam hidupku! 6 tahun yang lalu saat pertama aku bermain basket, tidak ada satu orang pun di dunia yang mencintai basket melebihi cintaku padanya. Sampai-sampai tiap sore aku basket di sekolah dan di lapangan deket rumah. Aku rela mengayuh sepeda sepanjang 12km PP sekolah-rumah, agar aku punya stamina yang cukup bagus dan bisa bermain 4 quarter penuh! Rekor 12km PP terkalahkan 20km PP saat aku SMA! Aku selalu membawa jaring di sebelah tasku yang berisi bola basket. Seantero sekolah juga pada tahu, kalau pagi-pagi kedengeran "duk..duk...duk..." Bunyi bola basket di lapangan kecil itu, sudah pasti aku. Pernah juga sampai dimarahi Mas Novel staf TU sekolah karena aku mengangkat kursi ke lapangan dan nge-dunk pake kursi itu! Memang sih, ringnya agak bogrek. Oh iya, kondisi lapangannya masih mengenaskan seperti 6 tahun yang lalu. Tapi, ringnya sekarang udah diganti! Sudah agak standar daripada dulu yang sudah bogrek.
Aku tahu semua teknik, nama pelanggaran, peraturan di basket. Soalnya mulai dari video tentang basket, komik basket, artikel basket mainbasket.com aku baca semuanya! Bahkan, seringkali pelatihku yang masih SMA tidak tahu peraturan yang sudah aku tahu. Seperti obstacle foul lalu melempar free throw dari bawah seperti yang dilakukan pemain NBA Rick Barry. Bahkan, aku masih mengingat bagaimana poin pertama yang aku masukkan di turnamen pertamaku! Juara 3 se-malang raya 2 kali berturut-turut membuka jalan SMP-ku, SMPN 1 Singosari, dilirik basket sekolah tetangga. Apalagi ada small forward tampan sepertiku. Duh, mana tahan! *jayus
Masuk di SMA dengan label tim juara, ternyata menang tidak seasik itu! Saat SMP kemenangan sungguh berharga, belasan poin aku cetak tiap pertandingannya. Saat SMA, menang sudah biasa, juara sudah langganan, kalah itu yang tidak biasa. Jadinya, kalau menang nggak seneng-seneng banget, tapi ya nggak sedih-sedih banget. Semuanya, cerita basketnya, berhenti di awal tahun 2013. Sial memang angka 13! HAhahaha bercanda! Lahirku tanggal 13 soalnya, 13 APril. Kasih hadiah ya nanti pas ulang tahunku? Aku lagi pingin bola basket.
Penyesalan terbesarku yaitu keluar tim basket. Duh, rasanya pingin balik ke smp dan main basket lagi. Tapi, yaudah percuma juga. Nggak akan bisa mbalikkin waktu hahaha. Yaudah kasih quotes aja ya dari Disney.
“Around here, however, we don't look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things, because we're curious...and curiosity keeps leading us down new paths.”
Rabu, 19 Oktober 2016
Biaya Hidup Kuliah di PKN STAN
Awalnya, aku selalu berpikir kuliah di luar kota akan menghabiskan banyak biaya. Biaya kos, biaya makan sehari-hari, biaya kebutuhan sehari-hari, dan biaya lainnya. Ternyata, benar. Aku bukan berasal dari keluarga yang berada. Papaku hanya seorang pegawai BUMN PT Pos Indonesia dan ibuku seorang guru PNS. Namun, aku bangga dengan mereka berdua. Aku tidak pernah bercita-cita kuliah di Universitas ternama di luar kota Malang. Tidak seperti kebanyakan teman SMA ku yang bercita-cita kuliah di UI, ITB, UGM, IPB, maupun universitas lainnya. Paling-paling keinginan kuliah di luar kota adalah di Surabaya. Namun, dengan biaya kuliah gratis di PKN STAN. Kampus ini menjadi tujuan utamaku setelah lulus SMA. Aku pikir Uang Kuliah Tunggal di Universitas Brawijaya selama 1 semester hampir sama dengan biaya hidupku di PKN STAN Bintaro ini.
Semasa kuliah di Universitas Brawijaya aku mendapatkan sangu bulanan sebesar Rp. 700.000. Ini aku gunakan untuk keperluan sehari-hari seperti bensin, makan, nongkrong, nonton, dan membeli keperluan lainnya. Jika dirinci, maka pengeluaranku ketika kuliah di Universitas Brawijaya seperti ini :
Bensin 1 bulan : Rp. 250.000 (15.000 utk 2 hari)
Pulsa : Rp. 50.000
Sudah. Untuk makan sehari-hari aku selalu makan di rumah, Saat SMA, aku selalu membawa bekal dari rumah untuk makan siangku. Saat di UB, beberapa kali aku makan dengan biaya tidak sampai 10.000 di warung Mama belakang Poltek. Jadinya, rata-rata pengeluaranku per bulan hanya Rp. 500.000.
Ya mungkin lebih, karena aku sering keluar makan dengan Laksmi. Tapi, aku mempunyai penghasilan dari stop motion yang sangat membantu keuanganku.
Saat awal-awal di PKN STAN, pengeluaranku aku hitung sekedarnya saja. Tetapi, baru aku menyadari akhir-akhir ini kalau pengeluaranku bulan-bulan sebelumnya cukup besar. Aku menghambur-hamburkan uang karena merasa uangku banyak. Penghasilan stop motion benar-benar membuatku terlena. Akhirnya, sejak bulan Juli aku benar-benar merinci benar pengeluaranku per bulannya. Uang sanguku tiap bulannya Rp. 1.500.000. Namun, aku tiap bulannya mengembalikan Rp. 500.000 atau Rp 1.000.000 tersebut ke rekening ibuku. Jadi, aku mendapat sangu Rp. 1.000.000 atau Rp. 500.000. Untuk, pengeluaran rata-rataku per bulan mencapai Rp. 1.500.000. Padahal, aku sudah mencoba menghemat dengan membeli makan sebesar 5000 Rupiah per makan saja. Tetapi, biaya lain-lain seperti jersey organda, tiket pulang, deterjen, listrik, dan lain-lain membuat pengeluaranku menjadi besar. Aku memanfaatkan penghasilanku dari stop motion untuk menutupi biaya yang kurang. Berikut contoh pengeluaranku selama di PKN STAN
September 2016
Sangu dari orang tua : Rp. 1.500.000
---------------------------------------------------------
Pengeluaran :
Sangu dikembalikan ke orang tua : Rp. 1.000.000
Amal : Rahasia
Makan selama sebulan : Rp. 615.500 (sekitar 20.000 per hari)
Makan dan nongkron selain nasi : Rp. 221.800
Wifi : Rp. 51.000
Pajak Stop Motion : Rp. 60.750
Listrik : Rp. 106.000
Kartu merah pas turnamen : Rp. 20.000
Belanja keperluan bulanan : Rp. 77.200
Uang kas & ATK : Rp. 49.000
Futsal : Rp. 11.000
Laundey 1x : Rp. 7.500
Transportasi bensin : Rp. 40.000
-----------------------------------------------------------
Total Pengeluaran : Rp. 2.506.650
Tentu ini bervariasi tiap orang. Contohnya saja yang membuat pengeluaranku besar adalah uang yang aku kembalikan ke orang tuaku sebesar Rp 1.000.000. Padahal, kalau tidak ada itu pengeluaranku Rp 1.506.650 saja. Makan dan nongkrong selain nasi aku juga pernah menghabiskan uangku sebesar 123.000 waktu itu. Aku sudah berusaha menghemat sedemikian rupa, namun rasnaya masih tetap banyak pengeluarannya hehehe.
Begitulah, biaya kuliah hidup di PKN STAN.
Semasa kuliah di Universitas Brawijaya aku mendapatkan sangu bulanan sebesar Rp. 700.000. Ini aku gunakan untuk keperluan sehari-hari seperti bensin, makan, nongkrong, nonton, dan membeli keperluan lainnya. Jika dirinci, maka pengeluaranku ketika kuliah di Universitas Brawijaya seperti ini :
Bensin 1 bulan : Rp. 250.000 (15.000 utk 2 hari)
Pulsa : Rp. 50.000
Sudah. Untuk makan sehari-hari aku selalu makan di rumah, Saat SMA, aku selalu membawa bekal dari rumah untuk makan siangku. Saat di UB, beberapa kali aku makan dengan biaya tidak sampai 10.000 di warung Mama belakang Poltek. Jadinya, rata-rata pengeluaranku per bulan hanya Rp. 500.000.
Ya mungkin lebih, karena aku sering keluar makan dengan Laksmi. Tapi, aku mempunyai penghasilan dari stop motion yang sangat membantu keuanganku.
Saat awal-awal di PKN STAN, pengeluaranku aku hitung sekedarnya saja. Tetapi, baru aku menyadari akhir-akhir ini kalau pengeluaranku bulan-bulan sebelumnya cukup besar. Aku menghambur-hamburkan uang karena merasa uangku banyak. Penghasilan stop motion benar-benar membuatku terlena. Akhirnya, sejak bulan Juli aku benar-benar merinci benar pengeluaranku per bulannya. Uang sanguku tiap bulannya Rp. 1.500.000. Namun, aku tiap bulannya mengembalikan Rp. 500.000 atau Rp 1.000.000 tersebut ke rekening ibuku. Jadi, aku mendapat sangu Rp. 1.000.000 atau Rp. 500.000. Untuk, pengeluaran rata-rataku per bulan mencapai Rp. 1.500.000. Padahal, aku sudah mencoba menghemat dengan membeli makan sebesar 5000 Rupiah per makan saja. Tetapi, biaya lain-lain seperti jersey organda, tiket pulang, deterjen, listrik, dan lain-lain membuat pengeluaranku menjadi besar. Aku memanfaatkan penghasilanku dari stop motion untuk menutupi biaya yang kurang. Berikut contoh pengeluaranku selama di PKN STAN
September 2016
Sangu dari orang tua : Rp. 1.500.000
---------------------------------------------------------
Pengeluaran :
Sangu dikembalikan ke orang tua : Rp. 1.000.000
Amal : Rahasia
Makan selama sebulan : Rp. 615.500 (sekitar 20.000 per hari)
Makan dan nongkron selain nasi : Rp. 221.800
Wifi : Rp. 51.000
Pajak Stop Motion : Rp. 60.750
Listrik : Rp. 106.000
Kartu merah pas turnamen : Rp. 20.000
Belanja keperluan bulanan : Rp. 77.200
Uang kas & ATK : Rp. 49.000
Futsal : Rp. 11.000
Laundey 1x : Rp. 7.500
Transportasi bensin : Rp. 40.000
-----------------------------------------------------------
Total Pengeluaran : Rp. 2.506.650
Tentu ini bervariasi tiap orang. Contohnya saja yang membuat pengeluaranku besar adalah uang yang aku kembalikan ke orang tuaku sebesar Rp 1.000.000. Padahal, kalau tidak ada itu pengeluaranku Rp 1.506.650 saja. Makan dan nongkrong selain nasi aku juga pernah menghabiskan uangku sebesar 123.000 waktu itu. Aku sudah berusaha menghemat sedemikian rupa, namun rasnaya masih tetap banyak pengeluarannya hehehe.
Begitulah, biaya kuliah hidup di PKN STAN.
Selasa, 11 Oktober 2016
The Epic Story of Farewell #1 - Pengumuman SNMPTN
Berada di perantauan malah membuatku semakin merindukan rumah. Merindukan rumah malah membuatku semakin nostalgic dan membuka semua cerita, chat, gambar dari kejadian masa silam. Jadilah, aku barusan membuka chat What's Next Squad yang bertanggal 9 Mei 2015. Persis 1 tahun 6 bulan yang lalu. Saat pengumuman SNMPTN diposting.
Saat itu, dari 14 anggota grup What's Next hanya 2 orang yang diterima. Nabila di FK Unpad dan Dinda di FTI ITS. Padahal, hampir semua yang ada di grup itu optimis diterima SNMPTN. Optimisme kami cukup masuk akal mengingat trend positif smanti yang selalu banyak diterima di perguruan tinggi. Apalagi, banyak diantara kami yang berada di peringkat atas paralel. Kami juga dengan penuh strategi memilih jurusan yang benar-benar berpeluang besar. Contohnya, Laksmi di FKG Unair (tak kaget dengan peringkatnya yang tinggi), Syafiq di IPB (Dekan IPB alumni smanti), Cahya di Pend. Matematika UM, Vicky di FTI ITS, dan aku di PWK UB. Kami masing-masing berada di peringkat pertama di tiap pilihan kami.
Awalnya, hari itu adalah hari yang paling mendebar-debarkan. Meski begitu, aku yakin di grup Whats Next yang sejak pagi hari ramai membahas pengumuman SBMPTN banyak di antara mereka optimis akan lulus. Begitu pukul 17.00 tiba, semua kaget dan tidak percaya dengan pengumuman itu. Kami semua gagal diterima snmptn #readteam.
Saat itu, dari 14 anggota grup What's Next hanya 2 orang yang diterima. Nabila di FK Unpad dan Dinda di FTI ITS. Padahal, hampir semua yang ada di grup itu optimis diterima SNMPTN. Optimisme kami cukup masuk akal mengingat trend positif smanti yang selalu banyak diterima di perguruan tinggi. Apalagi, banyak diantara kami yang berada di peringkat atas paralel. Kami juga dengan penuh strategi memilih jurusan yang benar-benar berpeluang besar. Contohnya, Laksmi di FKG Unair (tak kaget dengan peringkatnya yang tinggi), Syafiq di IPB (Dekan IPB alumni smanti), Cahya di Pend. Matematika UM, Vicky di FTI ITS, dan aku di PWK UB. Kami masing-masing berada di peringkat pertama di tiap pilihan kami.
Awalnya, hari itu adalah hari yang paling mendebar-debarkan. Meski begitu, aku yakin di grup Whats Next yang sejak pagi hari ramai membahas pengumuman SBMPTN banyak di antara mereka optimis akan lulus. Begitu pukul 17.00 tiba, semua kaget dan tidak percaya dengan pengumuman itu. Kami semua gagal diterima snmptn #readteam.
Langganan:
Postingan (Atom)