Minggu, 09 April 2017

Batas



Semua perihal diciptakan sebagai batas
Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain
Hari ini membelah membatasi besok dan kemarin
Besok batas hari ini dan lusa

Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perputakaan kota, bilik penjara, kantor wali kota, juga rumahku dan seluruh tempat di mana pernah ada kita
Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta

Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi dipisahkan kata
Begitu pula rindu. Antara pulau dan seorang petualang yang gila
Seperti penjahat dan kebaikan dihalang ruang dan undang-undang

Seorang ayah membelah anak dari ibunya dan sebaliknya
Atau senyummu dinding di antara aku dan ketidakwarasan
Persis segelas kopi tanpa gula pejamkan mimpi dari tidur
Apa kabar hari ini?
Lihat tanda tanya itu jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi

Sabtu, 01 April 2017

Pejuang


That's when I played basketball




Aku pernah mengenal sebuah kata yang mengubah seseorang untuk terus berusaha menjadi yang lebih baik, mencapai sesuatu, dan tidak kenal menyerah: berjuang.

Sabtu, 25 Maret 2017

A Busy-Man

Terpilih menjadi ketua 2 OSIS saat SMP, adalah prestasi terbaikku dalam kehidupan berorganisasi. Meski saat SMA, seringkali aku dijadikan ketua seksi sebuah acara, kasie. publikasi, kasie. distribusi, kasie. perizinan, kasie. outbond, namun tidak sekalipun aku diberikan sebuah amanah yang lebih besar. Pernah saat itu, saat aku bisa menyatukan seluruh anggota kelasku dan kelasku menjadi kelas terkompak seangkatan, teman-temanku bercanda kepadaku agar aku maju untuk pemilihan ketua osis SMA melalui jalur independent. Tentu itu sebuah guyonan, karena calon ketua OSIS harus berada dalam kepengurusan 1 tahun terlebih dulu.

Jujur, meski sering aktif dalam organisasi dan kepanitiaan, sebenarnya aku bukan tipe orang yang suka sibuk. Aku lebih memilih menghabiskan waktu dengan teman-temanku atau kegiatan menyenangkan lain ketimbang mengurus sebuah acara. Setelah aku pikir-pikir, mungkin aku gagal menciptakan sebuah suasana kekeluargaan dalam diriku setiap mengikuti organisasi atau kepanitiaan. Berawal dari 8 tahun yang lalu, saat aku SMP. 13 dari 24 anggota kelasku aktif dalam OSIS dan MPK SMPN 1 Singosari. Mungkin, itu yang membuat saat itu aku bersemangat sekali untuk aktif di sekolah. Berbeda ketika SMA di mana tak seorangpun anggota kelasku atau orang-orang terdekatku yang aktif dalam organisasi sekolah. Akhirnya, aku lebih memilih menghabiskan sabtu-minggu ku untuk refreshing.

Saat awal masuk SMA, awalnya aku sudah bertekad bulat tidak akan aktif dalam kepanitiaan sebab aku ingin mewujudkan impian terbesar masa SMA ku: menjadi skuad DBL. Sayangnya, impian itu gagal dan aku sedikit demi sedikit mulai mencoba kepanitiaan dan akhirnya ketagihan (meski seringkali aku tidak setotal teman-temanku di kepanitiaan dalam hal kinerja). Saat masuk kuliah, aku juga sudah bertekad untuk hanya aktif dalam Maharema saja (organisasi kedaerahan asal Malang). Namun, ancaman SKPI dan ingin mencari pengalaman membuatku sedikit demi sedikit kembali aktif di kampus.

Hingga saat ini, beberapa kepanitiaan sudah aku ikuti dan alhamdulillah berjalan dengan lancar. Puncaknya, beberapa waktu yang lalu temanku, Unggul, menawariku untuk menjadi wakil koordinator pelaksana Taxer Games 2017. Sebuah acara jurusan pajak di mana dalam acara tersebut mirip seperti classmeeting antar kelas. Aku cukup bimbang saat itu. Namun, dengan berbagai pertimbangan aku menerima tawaran tersebut.

Rapat setiap hari dan pulang malam menjadi makanan sehari-hariku saat ini. Menjadi wakil koordintor pelaksana ternyata tidak semudah yang aku bayangkan. Aku sempat jatuh sakit dan harus bed rest di Malang selama 5 hari gara-gara pulang jam 12 selama 4 hari berturut-turut di saat yang bersamaan juga aku tidak sahur untuk puasa. Aku rasa aku tidak cocok untuk jabatan ini. Tidak cocok untuk memegang amanah ini. Aku lebih senang jika aku mengurus sesuatu yang berhubungan dengan bisnis dan aku otak dari acara/bisnisnya. Tetapi, semakin ke sini semakin aku menyadari bahwa ini adalah pilihan yang telah aku ambil. Aku tidak akan bisa mengubahnya, sedikit demi sedikit aku mulai beradaptasi (baik waktu maupun tubuhku), aku tidak lagi sakit. Tiap merasa kecapekan aku meminum vitamin dan obat. Aku juga sudah mulai membangun komunikasi yang baik antar bidang maupun badan pengurus harian. Aku ingin total untuk Taxer Games ini. Aku ingin total untuk kepanitiaan terakhir ku kali ini. Bismillah.

Minggu, 26 Februari 2017

I always fail to get up. But now...

Sisa-sisa euforia ketenangan, kebahagiaan, kebersamaan saat jeda liburan kuliah 4 minggu masih terasa. Aku memilih kembali ke Bintaro menggunakan pesawat. Menurutku, pulang kampung ke Malang dengan kendaraan apapun tidak masalah. Bahkan kereta berkursi 90 derajat seharga 100ribu saja tidak masalah. Tetapi, berbeda ceritanya apabila kembali ke Bintaro. Perasaan sedih dan homesick selalu menyelimuti sepanjang perjalanan, apalagi kalau di kereta yang jarak tempuh Malang-Jakarta 14 jam. Rasanya tidak enak. Sejak liburan ini aku bertekad untuk kembali ke Bintaro menggunakan pesawat saja. Tidak terlalu mahal kok, karena aku selalu memburu tiket murah atau tiket final call.

Kembali ke Bintaro kali ini terasa berbeda. Perasaan sedih bercampur juga dengan pengumuman IP yang ternyata cukup mengecawakan. Ketika IP keluar, aku lihat namaku dengan IP 3,27 di sebelahnya. Bukan tidak bersyukur, tapi itu merupakan penurunan prestasi dari semester 1 3,67 dan semester 3,61. Aku akui semangat belajarku berkurang di semester 3 ini. Dari yang dulu tiap hari belajar, sekarang sudah menjadi SKS. Tapi, bukan hanya itu saja masalahnya. Masalah lainnya muncul di satu kata berikut: dosen. Sebagian temanku di grup chat LINE kelas memang menyalahkan dosen. Di mana kelas kami diampu oleh 6 dari 9 dosen koordinator. Tentunya itu bukan suatu rezeki. Malah bisa jadi dikatakan musibah. Mengapa? Karena tanggung jawab dosen koordinator cukup besar. Kalau kelas yang diampunya mendapat nilai baik semua, elektabilitas dosen tersebut bisa menurun karena dianggap membocorkan soal ujian. Itu hanya asumsiku saja. Tapi, mungkin itu benar terjadi. Bagaimana tidak, kelasku adalah peraih rata-rata IP terendah seangkatan. Hanya 5-6 orang saja yang mendapat IP cum laude. Bandingkan dengan kelas sebelah (hampir semua kelas sebenarnya) yang seluruh mahasiswanya cum laude, hanya 2-4 orang saja yang tidak cum laude. Tidak adil, menurutku. Bagaimanapun juga ini sudah takdir Allah. Kita pasrahkan saja semua kepada-Nya dan berbaik sangka bahwa ini adalah jalan terbaik yang Allah berikan. Mungkin untuk memotivasi kami belajar lebih. Atau bisa juga agar aku pribadi, tidak meremehkan dan harus belajar giat.

Dalam track recordku, jarang sekali aku bisa bangkit setelah kegagalan. Saat SMP aku selalu berprestasi di sekolah, tapi saat SMA aku kesusahan berprestasi hanya gara-gara malas. 3 tahun selama di SMA 3 tahun pula aku gagal bangkit dan kembali berprestasi. Saat ikut sekolah sepak bola, aku gagal seleksi Villa 2000 academy. Saat itu juga, aku berhenti ikut sekolah sepak bola. Saat SMA, aku gagak merebut posisi tim inti basket, dan akhirnya berakhir sama: aku berhenti. Satu-satunya keberhasilanku bangkit adalah saat aku kelas 2 SD. Aku selalu berturut-turut ranking 1 paralel di SD ku. Namun, saat semester 1 kelas 2, peringkat tersebut direbut dan aku hanya menduduki ranking 2. Sesudahnya, aku belajar keras hingga akhirnya aku kembali berada di peringkat pertama.

Seringkali aku gagal bangkit. I always fail to get up. But now... I will do my best to get the best IP on my campus so that I can achieve my target. Aamiin.

Senin, 20 Februari 2017

Backpacker to Singapore Malaysia - Day 1

Pagi sekali aku terbangun. Aku melihat sekeliling kamarku di kos baranade. Gelap. Ku raih ponsel di sampingku dan melihat jam yang ternyata masih menunjukkan pukul 2 pagi. Aku terbangun sepagi ini, bukan. Bukan karena persiapan pergi ke Singapore. Tapi, karena ada adek tingkat di kosku yang kesurupan

***

Setelah lelah karena begadang semalaman berusaha mencari ustadz yang mampu menyadarkan adek tingkatku, aku terbangun oleh ketukan pintu dari Akmal. Aku yang sebelumnya mewanti-wanti Akmal untuk bangun pagi, ternyata ketiduran. Akmal mengenalku sebagai orang yang tepat waktu. Tapi, kali ini dia tampaknya sedikit kecewa karena aku baru bangun. Aku jelaskan secara singkat kepadanya mengenai kejadian dini hari tadi. Akhirnya, aku mengambil air wudlu lalu sholat. Sesudah itu aku mandi dan bersiap. Untung saja kemarin aku sudah packing dan menyiapkan baju apa yang akan aku gunakan pagi ini. Jadi, tidak masalah hanya butuh waktu persiapan sekitar 30 menit menuju keberangkatan kami.

"Yopo Mal? Tuku mangan sek a?", tanyaku pada Akmal. Aku terbiasa memulai hari dengan sarapan pagi. Jadi, aku berharap Akmal menjawab iya.

"Gak wes. Engkok wedi telat, mending mangan ndek kono ae", Akmal menjawab sembari meraih tasnya dan kami pun berangkat.

Kami menuju bandara Soekarno-Hatta dengan menggunakan grab car. 92.000. Cukup murah mengingat biasanya sampai harga 125.000. Selama perjalanan aku sudah sibuk merekam segalanya dan nge-vlog. Berharap petualangan di luar negeri pertamaku dapat menjadi pengalaman paling berkesan.

Kami tiba di bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 7.00 pagi. Sebenarnya jam terbang pesawat kita (tiger air) adalah pukul 11.35 tapi karena saking takutnya telat kami sudah tiba sepagi ini. Tentunya dengan perut yang keroncongan karena belum sarapan. Aku mencoba memakan roti yang telah aku siapkan. 

Pukul 10.30 aku dan Akmal check in menuju waiting room. Ada kesialan kecil ketika 2 parfumku (aku membawa 3 parfum), diambil oleh petugas karena melebihi batas minimal air yaitu 100ml. Aku berdalih kalau parfum itu suah mau habis, dan memang betul sudah mau habis. Tapi, ternyata alasanku tersebut tidak membuat parfumku dikembalikan. 

"Yopo seh ko, kan wes tak omongi gaoleh nggowo benda cair.", kata Akmal kembali mengingatkan

"Lali Mal. Tak kiro mek sabun cair tok seng gaoleh.", jawabku. 

Oh iya, selain parfum itu sebenarnya ada 1 lagi percobaan yang aku lakukan. Aku membawa tongsis yang banyak disebut tidak boleh dibawa dalam tas kabin. Dan ternyata tongsisnya lolos sodara-sodara! Alhamdulillah.

***

Setelah terbang selama sekitar 1 jam 45 menit, akhirnya kami sampai di bandara Changi Singapore. Tentu saja ini menjadi pengalaman pertamaku menginjakkan kaki di luar negeri. Awalnya, aku dan Akmal bingung setelah ini harus ke mana. Aku mengambil inisiatif untuk bertanya pada bagian informasi.

"Excuse me mom. I just arrived from Jakarta, where should I go?", tanyaku pada petugas di sana.

"I'm sorry what do you mean?", jawabnya yang ternyata tidak paham maksudku.

Aku langsung saja to the point, "Where is the immigration?"

"Ah down there."

Aku dan Akmal langsung menuju imigrasi dan mengisi form. Antrian tidak begitu panjang dan tiba saat giliran kami. Begitu diperiksa tugas, ternyata kami harus mengisi alamat selama kami di Singapore. Sialnya, kami harus keluar dari antrian, tidak boleh tulis di tempat. Dan begitu melihat antrian belakang, panjang sekaleee!! Setelah selesai semuanya. Kami langsung bertanya ke petugas imigrasi di mana tempat MRT berada. Yang keren dari Singapore adalah stasiun kereta listriknya, bisa 1 gedung dengan mall, bandara, dan tempat-tempat umum lainnya.

Akhirnya, setelah turun 3 lantai ke bawah kami tiba di loket pembelian tiket MRT. Sebelum berangkat aku mendapat info untuk backpacker sebaiknya membeli singapore tourist pass (STP) yang seharga 20$ utk 3 hari dan bisa digunakan untuk fasilitas transportasi apapun tanpa terbatas.

Aku katakan kepada petugas loketnya, "I want one for three days." Di tanganku membawa 1 lembar uang 50$. Lalu, si petugas tiket bertanya apa aku juga ke universal studio? Aku jawab iya. Kemudian dia menjelaskan dengan bahasa Inggris sangat cepat yang aku benar-benar tidak paham 😂 sebenarnya aku menangkap sedikit dari apa yang dibicarakan petugas loket. Tapi, aku tidak yakin.

Belum ku jawab karena tidak begitu paham dengan apa yang dikatakan dengan bahasa Inggris yang sangat cepat 😂 tiba-tiba Akmal di belakang mengatakan "YES" pada petugas loket. Akmal bilang sempat mengira petugas loket menawarkan promo universal studio. Aku percaya karena seringkali dia lebih paham apa yang dikatakan singaporean dengan bahasa Inggris sangat cepat.

Setelah menggunakan tiket tersebut seharian, baru kami sadari kalau yang kita beli ez-link, bukan STP. Karena ada saldo di kartunya yang berarti kami harus memperkirakan perjalanan kami karena kini perjalanan kami terbatas. Waduh, sial.

Mungkin, benar apa yang aku tangkap dari pembicaraan dengan petugas loket tadi. Yang aku tangkap adalah ada 2 kartu ez-link dan singapore tourist pass. Kalau aku mau ke Universal studio dari vivo city menggunakan kereta, aku tidak bisa menggunakan STP, tetapi harus menggunakan ez-link. Jadi, apa aku mau beli ez-link?
Thanks Akmar for saying YES!


Setelah mendapat kartu ez-link tadi, aku dan Akmal langsung menuju MRT dan turun di stasiun Lavender. Awalnya, kami sempat tersasar karena kesotoyanku. Tapi, karena kecurigaan Akmal yang dari awal mengira kami kesasar. Akhirnya, kami menemukan jalan kebenaran. Padahal, aku sudah mempersiapkan semuanya. Masih aja kesasar hehehe. Yang tidak kami sadari adalah bahwa google maps bisa saja berbeda dari tempat aslinya. Dan itu yang terjadi pada kami. Kami bertanya sana sini di mana kah tempat Moni Gallery Hostel berada. Sampai akhirnya ada seorang bapak-bapak dan 2 anaknya yang memberitahu kami melalui mapsnya. Tampaknya, google maps orang Indonesia dan Singapore berbeda hahahaha I don't know. 

Istirahat di hostel sebentar, kami langsung melanjutkan perjalanan kami ke Merlion dan Esplanade. Sebelum itu, kami berkenalan dengan roommate kami yang berasal dari Indonesia juga. Namun, dia bilang dia besar dan tumbuh di Hongkong. Baru waktu dewasa pindah ke Indonesia. Bapak ini juga yang menyuruh kami ke tempat prostitusi Geylang. Akmal semangat sekali menuju tempat ini hahaha. Tapi, tentunya kami tidak ke sana.

Sampai di Merlion hari sudah cukup gelap. Sunset dari sungai yang aku tidak tahu namanya sungguh luar biasa! Kami mengambil beberapa foto dan video di merlion dan esplanade. Tapi, hal yang lucu adalah kami sedih. Kami sedih karena kami menikmati pemandangan lampu perkotaan yang sangat indah, tapi kami menikmatinya dengan laki-laki layaknya homo. Seharusnya kami pergi berbanyak orang atau setidaknya harusnya sama Istri kita hahahaha.

Hingga pukul 10 malam kami kembali ke hostel dan kami sempatkan beli makanan nasi lemak seharga 2,2$. Akhirnya! Kami menemukan makanan ini yang seringkali kami lihat di cerita traveller lain. Makanan Singapore paling murah!

Aku sholat di ruang studio hostel yang sebenarnya diisi oleh 12 orang vietnam. WOW. Tapi, mereka masih belum kembali jadi kami bisa menggunakan ruangan itu. Di sana, aku berkenalan dengan Farhan. Moslem asal Singapore yang mungkin salah satu pengurus hostel ini. Entahlah, aku tidak sempat menanyakan sedang apa dia di sini, Tapi, yang pasti beberapa hari berikutnya kami sempat bertemu beberapa kali ketika melaksanakan sholat, Tapi, tahu tidak? Senang rasanya mendapat teman baru dan beragama sama di negeri orang ini.

Lalu, kami tidur dengan nyenyak.