Dibandingkan tempat perkuliahanku, aku memiliki usia yang lebih tua. PKN STAN baru berumur 3 tahun. Maka dari itu, tahun ini di acara dies natalis ketiga kampus ali wardhana ini diadakan PKN STAN RUNNING. Ini adalah salah satu dari banyaknya rangkaian acara di dies natalis ketiga PKN STAN. Sesungghnya, aku tidak mempunyai semangat mengikuti acara tahunan ini. Bahkan aku berencana pulang saja daripada harus menghabiskan waktu di Bintaro. Namun, semua berubah saat ada "kewajiban" absen yang selalu saja menjadi senjata utama panitia dalam meramaikan event di PKN STAN. Ditambah dosen Lab. PPN dan PPnBM ku meminta ada perkuliahan di tengah-tengah acara dies natalis karena beliau minggu lalu tidak bisa hadir disebabkan menjadi pemantau dalam SPMB PKN STAN 2018.
Ku pikir lengkap sudah penderitaanku. Apalagi harga tiket yang sangat mahal, tiket kereta pun sudah habis. Hmmmm... benar-benar tidak diizinkan pulang. Tapi, setidaknya ada Daru, Bahy, Dwi, dan Akmal yang mengajakku liburan di Bandung selama 3 hari. Lumayan lah menjadi pengobat rasa rinduku ke Malang, karena suasana dan temperatur Bandung dan Malang hampir sama. PKN STAN RUNNING sendiri diadakan pada tanggal 15 Juli 2018. Seharusnya aku sangat bersemangat dalam mengikuti acara ini karena aku suka berlari. Tetapi, dengan staminaku yang sudah jauh berkurang aku bermalas-malasan dan berniat absen saja lalu pulang. Dwi menyemangatiku dan dia ingin mendapatkan juara di acara ini. Jadi lah aku semangat dalam berlari. Walaupun di akhir-akhir pelarian itu aku tersengal-sengal, tetapi aku cukup menikmatinya.
Setelah PKN STAN RUNNING aku memutuskan untuk absen dalam peringatan dies natalis, lalu sorenya aku mengikuti juga rangkaian kampus expo walaupun cuma sebentar. Setelah memakan mi yamin bakso, aku dan Daru serta teman-temanku yang lainnya memutuskan untuk kembali ke kos. Selamat ulang tahun yang ketiga PKN STAN!
Minggu, 15 Juli 2018
Selasa, 10 Juli 2018
1 windu
Sejujurnya, saat masih bersekolah hobiku adalah menulis (selain bermain sepak bola, basket, dan pekerjaan ga penting lainnya tentunya). Menulis apapun itu, cerpen, curahan hati, puisi, bahkan hal yang tidak penting pun aku suka menulisnya.
Namun, sejak SMA dan terutama sejak kuliah di PKN STAN. Hobi menulisku benar-benar hilang. Entah mengapa. Semakin hari aku semakin malas menulis. Biasanya tulisan di blog-ku, ku bagi menjadi 2. 1 tulisan pribadi dan 1 tulisan yang layak dikonsumsi umum. Jiah... bahasanya "dikonsumsi umum", padahal reader aja ga ada hahaha.
Tapi, ketika malam ini aku tidak bisa tidur sama sekali karena mungkin tadi aku sudah cukup tidur. Aku kembali membaca postinganku di zaman dahulu yang sangat rajin sekali menulis. Setelah itu, aku jadi semangat lagi untuk menulis.
Ya, ku putuskan mulai besok aku akan menulis lagi!
Setelah 1 windu. I'm back honey!
Namun, sejak SMA dan terutama sejak kuliah di PKN STAN. Hobi menulisku benar-benar hilang. Entah mengapa. Semakin hari aku semakin malas menulis. Biasanya tulisan di blog-ku, ku bagi menjadi 2. 1 tulisan pribadi dan 1 tulisan yang layak dikonsumsi umum. Jiah... bahasanya "dikonsumsi umum", padahal reader aja ga ada hahaha.
Tapi, ketika malam ini aku tidak bisa tidur sama sekali karena mungkin tadi aku sudah cukup tidur. Aku kembali membaca postinganku di zaman dahulu yang sangat rajin sekali menulis. Setelah itu, aku jadi semangat lagi untuk menulis.
Ya, ku putuskan mulai besok aku akan menulis lagi!
Setelah 1 windu. I'm back honey!
Kamis, 14 Juni 2018
That Time
Nobody really knows -even the closest person I have in my life, nor my mom, my very best friend, my girlfriend- how I struggled to be the best player in my basketball team. Going to school by bike for 20kms to get better stamina. Be the first who came to court and the last to leave. How I always trained my skill alone in smanesi.
Nobody really knows -even the closest person I have in my life, nor my mom, my very best friend, my girlfriend- how I regret all of those memories why I stupidly gave up for something I really wanted before.
Such a moron.
Around here, however we don't look backwards for very long. We "Keep Moving Forward" opening up new doors, doing new things, because we're curious... And curiosity keeps leading us down new paths. -Meet The Robinson
Nobody really knows -even the closest person I have in my life, nor my mom, my very best friend, my girlfriend- how I regret all of those memories why I stupidly gave up for something I really wanted before.
Such a moron.
Around here, however we don't look backwards for very long. We "Keep Moving Forward" opening up new doors, doing new things, because we're curious... And curiosity keeps leading us down new paths. -Meet The Robinson
Kamis, 03 Mei 2018
Envious
Aku pernah-dengan perasaan sedih-melihat teman-teman seperjuanganku berjuang di DBL dari pinggir lapangan, setelah kami sempat berjuang bersama mendapat juara 2 turnamen basket sejatim
Aku pernah-dengan perasaan sedih-melihat teman-teman seperjuanganku dipanggil Villa 2000 dan timnas dari surat kabar, setelah kami sempat berjuang bersama mendapat juara 2 turnamen antar SSB se-malang raya
Aku pernah-dengan perasaan sedih-melihat teman-teman seperjuanganku berjuang di OSN SMP dan SMA, setelah kami sempat berjuang bersama di siswa berprestasi dan mendapat juara 2 se-kabupaten Malang
Dan kali ini, sekali lagi, aku-dengan perasaan sedih-melihat teman-teman seperjuanganku berjuang di 4 lomba berbeda, setelah kami sempat berjuang bersama di lomba sebelumnya dan mendapat juara 2 di kompetisi pajak tersebut
Aku pernah-dengan perasaan sedih-melihat teman-teman seperjuanganku dipanggil Villa 2000 dan timnas dari surat kabar, setelah kami sempat berjuang bersama mendapat juara 2 turnamen antar SSB se-malang raya
Aku pernah-dengan perasaan sedih-melihat teman-teman seperjuanganku berjuang di OSN SMP dan SMA, setelah kami sempat berjuang bersama di siswa berprestasi dan mendapat juara 2 se-kabupaten Malang
Dan kali ini, sekali lagi, aku-dengan perasaan sedih-melihat teman-teman seperjuanganku berjuang di 4 lomba berbeda, setelah kami sempat berjuang bersama di lomba sebelumnya dan mendapat juara 2 di kompetisi pajak tersebut
Rabu, 06 September 2017
Southeast Asia Travelling - Day 0 (Goes to Jakarta)
22 Agustus 2017
Suasana stasiun Malang begitu ramai. Tidak biasanya aku datang telat saat naik kereta-20 menit sebelum keberangkatan-. Aku berniat membeli roti O. Setelah melakukan check boarding pass aku menelusuri jalanan stasiun, ku pandangi satu-satu wajah setiap penumpang yang masih ngemper di kursi-kursi ataupun pelataran stasiun. Sampai aku tertuju pada satu wajah, tidak asing, namun aku tidak yakin itu siapa. Ku lewati saja wajah itu dan terus berjalan menuju gerai Roti O. Sesampainya di Roti O aku memesan 2 roti yang akan aku makan nanti di kereta, itung-itung mengganjal rasa lapar. 9 hari ke depan (23 Agustus - 1 September) aku akan berpetualang di negeri orang. 4 negara Asia Tenggara! (Termasuk Indonesia hehe). Sebenarnya, destinasi utamaku adalah Thailand. Tetapi, aku juga akan mampir 1 hari di Malaysia dan 2 hari di Singapore. Semua tiket itu aku dapatkan dengan harga termurah
Jakarta - Malaysia 360.000
Malaysia - Phuket 356.000
Bangkok - Singapura 380.000
Singapura - Jakarta 382.000
Tidak lebih dari 1,5 juta. Sebenarnya, bisa saja aku langsung mengambil penerbangan ke Thailand yang akan menghabiskan biaya lebih murah. Hanya saja, aku ingin menambah cap stempel di pasporku. Identitas dan kebanggaan seorang traveller ada di banyaknya cap stempel yang ada di paspornya! Sesuai yang dituliskan di buku 30 paspor di kelas sang Profesor.
Setelah membeli Roti O, aku mengambil tempat duduk di depan orang yang wajahnya tidak asing tadi. Aku rasa orang itu adalah Tara, temanku di Pajak Universitas Brawijaya dulu. Aku menatap wajahnya terus menunggu hingga dia melihat ke sini dan aku menyapaya. Benar saja, beberapa saat kemudian dia mengarakan pandangannya ke arahku dan aku menyimpulkan sebuah senyum padanya. Namun, ternyata dia tidak bisa mengenaliku. Hingga dia mengambil kacamata di tasnya dan akhirnya menyimpulkan sebuah senyuman juga.
Selama di kereta, aku dan Tara mengobrol banyak hal di gerbong restorasi. Termasuk tentang keberangkatanku melancong ini. Sebenarnya, impian jalan-jalan ke Thailand muncul saat aku pertama kali tiba di bandara Juanda setahun yang lalu sesaat setelah pesawat landing dari Bandara Changi, Singapore. Tapi, saat itu aku rasa pergi ke Thailand hanyalah mimpi belaka. Karena, aku tidak tahu apakah aku bisa pergi ke luar negeri lagi. Di tambah Akmal mengatakan banyak hal tanda dia tidak tertarik ke luar negeri lagi.
"Mungkin pergi ke Singapore Malaysia kemarin jadi travelling terakhirku ke luar negeri selama di STAN"
"Jangan ke Thailand, banyak copet. Mending ke Hongkong aja."
"Mau kalau budgetnya di bawah 2 juta"
Tapi, tetap aku ingin pergi ke sana. Hingga akhirnya bulan Februari 2017 aku mengajak Akmal ditambah Daru dan Elda untuk pergi ke Thailand selama 4 hari 3 malam. Saat itu, tiket cenderung mahal dan kami merencanakan budget 2,5 juta selama itu. Daru dan Elda awalnya semangat, sedangkan Akmal masih pesimis dan berharap budgetnya bisa turun. Saat itu, walaupun kami sudah grup yang kami beri nama "melancong", namun pergi ke Thailand hanya sebatas mimpi. Saja.
Juni 2017. Jarkoman final call seperti biasanya kembali muncul. Dengan tiket PP sebesar 800.000 Jakarta-Thailand, aku mengajak Darwan untuk pergi ke Thailand. Darwan yang juga antusias mulai mengajak teman-teman lainnya. Jadilah, aku, Darwan, dan teman-temannya yang antusias membuat sebuah grup multichat. Sayang sekali, saat kami mencoba memesan tiket final call tersebut ternyata tiketnya sudah ludes. Aku memberikan opsi kepada mereka mau menunggu tiket final call bulan depan (yang berarti kesempatan terakhir) atau pesan mandiri saja di web-web maskapai dan berharap mendapat tiket murah, namun aku menyarankan backpacker selama 9 hari dengan budget pesawat yang aku tuliskan di atas. Mereka memilih opsi kedua 9 hari, budget tiket pesawat 1,5 juta. Aku berkata kepada mereka mungkin travelling kali ini akan memakan dana 4 juta, sehingga kami mencoba danusan dan berdagang apapun itu. Tapi, nanti akan aku ceritakan bagaimana budget 4 juta tadi bisa kami tekan dan hanya menghabiskan sebanyak 2,5 juta. Itu pun belum dikurangi dana hasil berdagang kami berempat.
Tak terasa kereta sudah sampai di Pasar Senen. Aku berpisah dengan Tara begitu aku mengantarkannya ke rumah dan aku kembali ke kos. Besok adalah hari besar, pikirku.
Suasana stasiun Malang begitu ramai. Tidak biasanya aku datang telat saat naik kereta-20 menit sebelum keberangkatan-. Aku berniat membeli roti O. Setelah melakukan check boarding pass aku menelusuri jalanan stasiun, ku pandangi satu-satu wajah setiap penumpang yang masih ngemper di kursi-kursi ataupun pelataran stasiun. Sampai aku tertuju pada satu wajah, tidak asing, namun aku tidak yakin itu siapa. Ku lewati saja wajah itu dan terus berjalan menuju gerai Roti O. Sesampainya di Roti O aku memesan 2 roti yang akan aku makan nanti di kereta, itung-itung mengganjal rasa lapar. 9 hari ke depan (23 Agustus - 1 September) aku akan berpetualang di negeri orang. 4 negara Asia Tenggara! (Termasuk Indonesia hehe). Sebenarnya, destinasi utamaku adalah Thailand. Tetapi, aku juga akan mampir 1 hari di Malaysia dan 2 hari di Singapore. Semua tiket itu aku dapatkan dengan harga termurah
Jakarta - Malaysia 360.000
Malaysia - Phuket 356.000
Bangkok - Singapura 380.000
Singapura - Jakarta 382.000
Tidak lebih dari 1,5 juta. Sebenarnya, bisa saja aku langsung mengambil penerbangan ke Thailand yang akan menghabiskan biaya lebih murah. Hanya saja, aku ingin menambah cap stempel di pasporku. Identitas dan kebanggaan seorang traveller ada di banyaknya cap stempel yang ada di paspornya! Sesuai yang dituliskan di buku 30 paspor di kelas sang Profesor.
Setelah membeli Roti O, aku mengambil tempat duduk di depan orang yang wajahnya tidak asing tadi. Aku rasa orang itu adalah Tara, temanku di Pajak Universitas Brawijaya dulu. Aku menatap wajahnya terus menunggu hingga dia melihat ke sini dan aku menyapaya. Benar saja, beberapa saat kemudian dia mengarakan pandangannya ke arahku dan aku menyimpulkan sebuah senyum padanya. Namun, ternyata dia tidak bisa mengenaliku. Hingga dia mengambil kacamata di tasnya dan akhirnya menyimpulkan sebuah senyuman juga.
Selama di kereta, aku dan Tara mengobrol banyak hal di gerbong restorasi. Termasuk tentang keberangkatanku melancong ini. Sebenarnya, impian jalan-jalan ke Thailand muncul saat aku pertama kali tiba di bandara Juanda setahun yang lalu sesaat setelah pesawat landing dari Bandara Changi, Singapore. Tapi, saat itu aku rasa pergi ke Thailand hanyalah mimpi belaka. Karena, aku tidak tahu apakah aku bisa pergi ke luar negeri lagi. Di tambah Akmal mengatakan banyak hal tanda dia tidak tertarik ke luar negeri lagi.
"Mungkin pergi ke Singapore Malaysia kemarin jadi travelling terakhirku ke luar negeri selama di STAN"
"Jangan ke Thailand, banyak copet. Mending ke Hongkong aja."
"Mau kalau budgetnya di bawah 2 juta"
Tapi, tetap aku ingin pergi ke sana. Hingga akhirnya bulan Februari 2017 aku mengajak Akmal ditambah Daru dan Elda untuk pergi ke Thailand selama 4 hari 3 malam. Saat itu, tiket cenderung mahal dan kami merencanakan budget 2,5 juta selama itu. Daru dan Elda awalnya semangat, sedangkan Akmal masih pesimis dan berharap budgetnya bisa turun. Saat itu, walaupun kami sudah grup yang kami beri nama "melancong", namun pergi ke Thailand hanya sebatas mimpi. Saja.
Juni 2017. Jarkoman final call seperti biasanya kembali muncul. Dengan tiket PP sebesar 800.000 Jakarta-Thailand, aku mengajak Darwan untuk pergi ke Thailand. Darwan yang juga antusias mulai mengajak teman-teman lainnya. Jadilah, aku, Darwan, dan teman-temannya yang antusias membuat sebuah grup multichat. Sayang sekali, saat kami mencoba memesan tiket final call tersebut ternyata tiketnya sudah ludes. Aku memberikan opsi kepada mereka mau menunggu tiket final call bulan depan (yang berarti kesempatan terakhir) atau pesan mandiri saja di web-web maskapai dan berharap mendapat tiket murah, namun aku menyarankan backpacker selama 9 hari dengan budget pesawat yang aku tuliskan di atas. Mereka memilih opsi kedua 9 hari, budget tiket pesawat 1,5 juta. Aku berkata kepada mereka mungkin travelling kali ini akan memakan dana 4 juta, sehingga kami mencoba danusan dan berdagang apapun itu. Tapi, nanti akan aku ceritakan bagaimana budget 4 juta tadi bisa kami tekan dan hanya menghabiskan sebanyak 2,5 juta. Itu pun belum dikurangi dana hasil berdagang kami berempat.
Tak terasa kereta sudah sampai di Pasar Senen. Aku berpisah dengan Tara begitu aku mengantarkannya ke rumah dan aku kembali ke kos. Besok adalah hari besar, pikirku.
Langganan:
Postingan (Atom)