Minggu, 22 Juli 2018

Here I go

Feeling so nostalgic.

Di tengah malam hari. Memutar lagu memulai kembali. Rasanya seperti ada di Bali atau di sebuah pantai yg takkan rela meninggalkan pantai itu karena keindahan sunset ya. Seketika semua memori terpanggil kembali. Satu per satu kenangan muncul. Dan baru tersadar juga, kesempatan berada 1 kosan dengan teman-temanku hanya tinggal beberapa Minggu. Mungkin tidak ada 1 bulan. Teman-teman seperjuangan yang mayoritas 3 tahun bersamaku. 1 kos. Rasanya akan benar-benar homesick dan tak akan ingin berpisah dengan teman-temanku.

Aku jadi baru tersadar juga banyak sekali keputusan yang aku salah ambil. Tentu saja, tidak ada penyesalan (ada ding dikit). Tapi, semua keputusan salah itu membuatku menjadi aku hari ini. Vicko dengan segala mimpi-mimpinya yang tak terwujud.

Satu per satu memori kembali muncul.

Kenangan bersama teman-teman lama pun ikut muncul. Kata orang, kangen itu datangnya gantian. Dan mungkin  kangen itu sedang mampir dalam benakku. Sungguh kangen dengan semua temanku. Teman masa kecil hingga teman sekarang yang satu per satu perlahan menghilang

Satu per satu memori kembali muncul

Kenangan pertama kali melangkahkan kaki di rumahnya kembali muncul. Bagaimana enggannya aku pulang saat pertama kali aku tiba di rimahnya. Tentu semua kenangan itu tidak bisa diubah. Lagi-lagi kenanga. Itu membuat aku menjadi aku yang hari ini.

Satu per satu kenangan kembali muncul.

But, as the people always say, life goes on.
Future here I go.

Jumat, 20 Juli 2018

Pengalaman Berada di Maharema PKN STAN

Entahlah kenapa menulis menjadi menyenangkan di saat jam 12 malam. Setelah menonton video Maharema Try Out dan Makrab Maharema, aku jadi sangat nostalgic dan ingin kembali mengulang masa-masa itu. Masa-masa di mana aku benar-benar merasakan adanya keluarga di tanah perantauan. Di Baranade, setiap hari kami ketawa-ketiwi haha-hihi sampai larut malam yang terkadang kami lupa bahwa besok pagi ada kuliah. Tidak jarang juga kami menghabiskan waktu bermain PES dan kami saling kalah mengalahkan. Selalu membully jika lawan kami kalah. "Only ten!!!", teriak mas Zuddin kala mengalahkan Tyo dengan skor 4-3 padahal mas Zuddin hanya memiliki 10 pemain lantaran salah satu pemainnya kena kartu merah. Setiap malam minggu, kami menghabiskan waktu dengan bermain counter strike yang dihubungkan melalui wifi kos-kosan. Kami memiliki nickname sendiri-sendiri. Bahy yang tinggal di sawojajar memilih nickname rajajowas (kebalikan sawojajar), yang kemudian dia modifikasi menjadi rajajowar. Tyo yang berasal dari Wajak Kabupaten Malang tidak ingin kalah, dia memilih nickname WajakMan. Dwi sendiri yang selalu mindblowon memilih nickname "Hantum", katanya itu adalah plesetan dari hantu. Benar-benar mindblowon. Akmal memiliki nickname kememrider. Mas Zuddin memiliki nickname BintangShampoo. Dan sisanya seperti mas tito, mas panji, mas ryan, dan yang lain aku lupa nickname mereka apa. Aku sendiri memilih nickname BulanShampoo karena ingin tiru-tiru Mas Zuddin. Haha.

6 bulan setelah berada di Maharema, diadakan sebuah pertandingan futsal antar organda. Ini adalah kiprah pertamaku dan aku berhasil mencetak 4 gol dan 4 assist dalam 4 pertandingan. Sayangnya, kami tidak berhasil lolos. Namun, aku selalu menjadi pilihan utama karena aku masih fresh, masih bekas sering latiha futsal 3x seminggu dari Foosil Bhawikarsu. Turnamen futsal berikutnya ada di manguni liga futsal nusantara dan aku berhasil menyumbang 5 gol dari 3 pertandingan. Sayangnya, Maharema kembali gagal melaju ke babak 8 besar.

Momen terbaik tentunya saat M-try out dan Makrab yang merupakan satu rangkaian. 2 acara ini menjadi penyatu bagi tiap angkatan dan tiap anggota Maharema. Aku pun sangat ingin kembali ke masa-masa itu. Masa-masa di mana kami benar-benar merasa kompak. Karena, jujur aku sedikit kecewa dengan Maharema angkatan bawahku yang tidak respect sama sekali ke kakak tingkat. Penurunan kualitas juga kentara ditandai tidak adanya Futsal rutin, tidak adanya M-futsal, dan makrab hanya mengundang 2 angkatan saja. sedangkan, angkatanku tidak diundang. Benar-benar amburadul menurutku. Entahlah perasaanku campur aduk antara nostalgic dan geram dengan Maharema. Ketika aku mengingat momenku tingkat 1 aku sangat ingin kembali ke masa-masa Maharema itu. Tapi, ketika aku mengingat momen saat ini, saat penurunan kualitas ini aku benar-benar geram.

Pesan untuk Maharema

Untuk angkatan terakhir (tingkat 3)

Dulu, saat saya pertama tiba di Bintaro dan menjadi bagian dari Maharema PKN STAN, tentunua sangat bahagia. Saya merasakan kedekatan dengan angkatan tingkat 2 (mas zuddin dkk). Saya merasa nyaman berada di Maharema. Momen-momen terbaik saya adalah saat makrab dan saat m-try out. Saya benar-benar totalitas dalam membantu acara besar ini. Namun, saya tidak merasa adanya kedekatan dengan tingkat 3. Saya bertekad, jika nanti tingkat 3 saya akan aktif di Maharema. Tapi, ternyata setelah tingkat 3 kalian akan benar-benar mager ngapa-ngapain dan tidak aktif kegiatan apapun. jangan sampe ya.

(to be continued tulisannya)

Kamis, 19 Juli 2018

Hidup sebagai anak kecil

Saat kecil aku tumbuh di daerah Lawang Malang. Seperti seorang adik-kakak yang sangat kompak, ke mana pun masku pergi, aku selalu mengikutinya. Masku adalah tipikal orang yang sangat seru, yang pandai melawak dan membawa suasana. Tidak aneh jika dia memiliki banyak teman dan aku jadi kecipratan banyak teman juga. Tidak banyak yang aku ingat ketika aku di Lawang karena saat itu aku masih berumur 3 tahun. Yang aku ingat adalah aku pernah bermain hujan-hujanan di daerah PM dekat rumah Nando hingga aku dan masku takut pulang karena baju kami basah (saat itu kami masih belum dibolehin main hujan-hujan). Akhirnya, karena hujan tidak berhenti juga aku dan masku memutuskan pulang. Papaku yang saat aku kecil sangat disiplin, mengunci pintu dan tidak membiarkan kami masuk sebagai hukuman.

Saat aku pindah ke daerah Singosari, awalnya teman bermainku juga adalah teman bermain masku. Aku bahkan pernah menghabiskan waktu hampir 12 jam di rumah teman masku yang membuat kami dikunci dan tidak diperbolehkan masuk rumah lagi. Keseharianku dihabiskan dengan bermain bersama teman-teman masku. Saat aku mulai bersekolah, aku baru mendapatkan teman-teman yang bisa diajak bermain tiap harinya. Entah bermain sepak bola, bermain PS, dan lainnya.

Tapi, aku rasa pertemanan anak kecil dan masa kini sungguh berbeda. Dulu ketika berteman kita tidak banyak memilih-milih. Kita berteman dengan siapapun yang ada di situ. Saat ini pertemanan terkesan terkotak-kotakan. Dulu ketika berteman aku bisa berteman dengan siapapun tanpa sungkan ketika join nongkron. Sekarang, aku hanya bisa nongkrong dengan teman-teman kos atau teman-teman kelasku saja. Itu pun sangat jarang sekali. Aku rasa banyak sekali perbedaannya. Hidup sebagai anak kecil jauh lebih menyenangkan karena tidak ada pertemanan palsu dan kami tidak memikirkan banyak hal. Apa yang kita pikirkan, ya itu yang kita lakukan.

Rabu, 18 Juli 2018

Liburan ke Bandung 3 hari 2 Malam

Jeda waktu kuliah di antara dies natalis PKN STAN, aku menghabiskan waktu liburan selama 3 hari di Bandung bersama Akmal (partner ke Singapore-Malaysia), Daru (teman kamar sebelah, Dwi dan Bahy (yang juga 3 tahun 1 kos denganku). Kami sudah merencanakan hal ini dan bahkan membuat itenary seminggu sebelumnya. Sebenarnya, aku sudah pernah ke Bandung di tahun 2010 saat masih SMP. Tapi saat itu aku pergi ke mana pun bersama temanku dan tentunya dia yg membayari hehehe. Jadi, saat itu aku ikut saja dia mau pergi ke mana saja. Dan aku juga tidak memikirkan budget. Berbeda dengan sekarang di saat kami semua tidak memiliki kerabat yang bisa diinapi dan channel yang bisa digunakan untuk membayar murah tiket masuk (karena saat di tahun 2010, seringkali aku masuk wisata gratis atau membayar setengah karena temanku adalah anak komandan).

Malam Selasa tanggal 20 Juli tahun 2018, aku dan teman-temanku pergi ke apartemen Akmal yang berjarak sekitar 3km dari kampus STAN di accent apartment. Kami berencana menginap di sana dan menghabiskan waktu hingga pagi hari kami berangkat. Setibanya kami di parkiran accent dengan mengendarai motor, kami tidak langsung pergi ke apartemen Akmal. Kami terlebih dahulu menaruh beberapa barang di mobil agar besok tidak terburu-buru. Nahas memang. Saat teman-temanku sudah menaruh barang beranjak pergi, aku menemukan bahwa ban belakang mobil Akmal bocor. Ternyata ada mur segede gaban yang menancap di ban mobil Akmal. Akmal sempat panik dan menelepon ayahnya. Atas saran Daru, Akmal menggunakan jasa go-auto untuk penggantian mobil serep.

Sembari menunggu go-auto datang, aku dan teman-temanku pergi ke apartemen Akmal dan menonton film bersama. Sekitar 1 jam kemudian orang go-auto datang dan Akmal, aku serta Daru turun ke bawah ke parkiran tempat mobil Akmal berada. Tidak kurang dari setengah jam semuanya beres. Bahkan ternyata go-auto juga bisa menambal ban mobil. Mantaaappp. Akhirnya kami tidur dan beristirahat untuk hari besar besok.

Hari pertama.

Pagi sekali pukul 4.00 kami sudah bangun dan ada yang sedang makan, mandi, serta sholat. Baru jam 5.30 kami benar-benar siap berangkat. Bandung here we go! Selama perjalanan Daru menjadi navigator Akmal melalui google mapsnya. Baru keesokan harinya kami bergantian menjadi navigator pada Akmal. Tujuan pertama kami adalah kawah putih. Begitu tiba, kami harus parkir di tempat yang telah disediakan dan membayar sejumlah 35.000 per orang serta parkir 6.000 per mobil. Kesialan kecil kembali terjadi ketika aku lupa membawa baterai yang kemarin aku charge. Seketika aku tidak mood berfoto-foto. Jadinya sedikit sekali aku mengambil foto selama di Bandung ini. Kurang lebih hingga jam 12, kami menuju Ranca Upas destinasi berikutnya. Ternyata Ranca Upas tidak seperti yang ku bayangkan. Ku pikir benar-benar indah seperti ada di video klip jatuh hati nya Raisa. Ternyata Raisa menggunakan 2 tempat untuk pengambilan video klip, Baluran dan Ranca Upas. Dan sekarang ku pikir bagian indahnya ada di Baluran.

Uang tiket masuk 17.000 per orang cukup membuatku sedikit menyesal. Tapi tak apa. Aku dan teman-temanku tetap menikmati penangkaran rusa. Kapan lagi bisa selfie bareng rusa kan? Haha. Setelahnya aku dan teman-temanku ke situ Patenggang seharga 20.000 per orang + 5.000 per mobil untuk parkir. Kami hanya sejenak menikmati alam di situ Patenggang, sebelum kami menuju hotel kami di daerah Sukajadi.

Perjalanan menuju hotel Sukajadi kami isi dengan permainan ala skinnyfabs. Permainan 2 kata. Jadi, kami mengatakan 2 kata lalu jika ada yang tertawa maka akan diberikan hukuman dipukul kepalanya menggunakan botol kosong. Kata-kata lucu plesetan muncul seperti Ridwan Hamil (Ridwan Kamil), Daru Pribumi (Daru Primadi), Tyo prasejarah (Tyo Prasetyo), dan banyak kata lainnya yang juga lucu. Setelah 1 jam lebih akhirnya kami tiba di Sukajadi dan membeli go food untuk makan. Ayam geprek menjadi pilihan kami seharga 18.000 dan kualitasnya jauh sekali dengan geprek yang ada di Bintaro. Tapi, ini merupakan makanan termurah, jadi ya lumayanlah.

Malamnya kami menuju daerah Braga, Asia Afrika, dan makan di daerah Sudirman. Harga di sana sungguh tidak masuk akal, berbeda dengan di Malang atau Jogjakarta yang serba murah. Makanan di Bandung utamanya di Sudirman dipatok dengan harga yang cukup tinggi seperti batagor seharga 35.000 berisi 4 biji, pisang keju seharga 18.000, dan makanan lain yang juga mahal. Tetapi, ada juga makanan yang murah dan terjangkau. Di daerah Sudirman kami merasa minoritas karena banyak sekali orang beretnis Tionghoa di sana dan banyak gerai yang menjual makanan yang mengandung babi. Sepulangnya kami makan di daerah Braga, tongseng seharga 40.000. Lalu kami menuju hotel untuk beristirahat.

Hari kedua.

Di itenary kami menargetkan pukul 8.00 berangkat. Tapi, seperti biasa banyak temanku yang masih Bangkong dan akhirnya kami baru benar-benar berangkat pukul 10.00. destinasi pertama kami adalah tebing keraton jalan menuju ke sana sungguh sempit dan kecil. Setibanya di sana, ternyata kami diharuskan jalan sejauh 2km atau bisa juga naik ojek dengan harga 50.000 PP. Karena sudah siang dan kami sedang mager, kami memilih untuk sholat di musholla nya saja dan ngopi di Utara cafe dengan pemandangan yang menakjubkan.

Destinasi kedua kami adalah the lodge Maribaya. Perjalanan menuju ke sana berkelok-kelok dan banyak tanjakan tajam. Mobil Akmal sempat tidak kuat menanjak dan dia sedikit panik. Sesampainya di the lodge Maribaya, tempatnya sungguh indah dan menakjubkan. Tapi, sama seperti di Batu. Semua tempat "diuangkan". Di tiap spot foto rata-rata kami harus membayar senilai 20.000 dan kami memilih tidak membayar tiket spot foto sama sekali. Kami hanya menikmati alam seraya sesekali berfoto di tempat-tempat yang sejuk. Setelah sholat ashar kami sejenak menuju fairy garden yang merupakan satu kesatuan paket dengan the lodge Maribaya. Setelahnya kami pulang dan makan seblak jebred yang menurutku cukup enak. Kami juga menghabiskan waktu di surabi serta lalapan di daerah dekat kampus universitas Pasundan.

Hari ketiga

Hari terakhir. Teman-temanku batut bangun pukul 10.00. setelah mandi kami langsung menuju masjid Salman ITB untuk melaksanakan sholat Jumat. Setelahnya kami berwisata street food di sekitar masjid Salman, seperti yang ada di sekitar masjid jami' Malang. Harganya relatif murah dan rasanya juga enak. Aku sangat puas makan minum di situ. Setelah itu kami pulang ke Bintaro dan melanjutkan rutinitas seperti biasa. Terima kasih Bandung!