Akhirnya, penantian selama 2 bulan lebih terbayarkan. Jujur, sebenarnya aku tidak seberapa menanti pengumuman ini. Aku sangat menikmati momen-momen di rumah. Selain itu, aku sedikit optimis bisa ditempatkan OJT di KPP sekitar Malang, mengingat di tahun-tahun sebelumnya ada 2-3 anak D3 Pajak yang tersebar di 6 KPP di Malang.
Tahun ini anak Malang pun cuma ada sekitar 15 orang. Dan salah satu yang membuat aku optimis karena dari ke-15 orang tersebut, setidaknya IPK-ku masih berada di jajaran atas. Jadi, keseharianku di Malang aku isi dengan belajar mobil, membuat stop motion, menikmati makanan khas kota Malang serta menghabiskan waktu bersama keluarga.
24 Januari 2018. Akhirnya, pengumuman OJT keluar. Pengumuman tahun ini mundur 1 bulan dari jadwal biasanya. Keterlambatan ini sedikit membuat teman-temanku yang was-was resah. Begitu pengumuman keluar, aku langsung membuka laptopku. Tapi, aku lebih dulu tahu aku ditempatkan di mana karena diberitahu Darwan. KPP Pratama Jakarta Pulogadung. Kata Darwan di seberang telepon. Sedikit kaget sebenarnya karena keluar dari ekspektasi, walaupun aku juga siap ditempatkan di mana pun.
Aku mencoba untuk mensyukuri dan berdamai dengan Jakarta. Terakhir kali aku merantau di pinggiran Jakarta, aku tidak bisa sepenuhnya bebas. Karena jelas metropolitan bukan gayaku. Tapi, tentu saja aku sangat mensyukurinya.
Aku sangat bersemangat dan ingin membuat banyak prestasi di KPP tempat bekerjaku ini. AKu tidak sabar berkenalan dengan banyak orang dan mempelajari hal baru. Semoga aku berjodoh dengan Pulogadung ini dan bisa membuatku nyaman.
Pulogadung, aku datang!
Sabtu, 26 Januari 2019
Selasa, 02 Oktober 2018
Malarindu – Senja Terakhir di Tanah Perantauan
Aku menyesap teh yang aku beli di kantin parma PKN STAN ini.
Aku jadi mengingat-ngingat bagaimana bisa aku kuliah di perguruan tinggi
kedinasan ini. 3 tahun lalu saat kali pertama aku menjejakkan kakiku di kota
metropolitan ini, tak ada satupun keinginan tuk bertahan dan terus berada di
kota ini. Paksaaan kuliah dan tuntutan lulus lah yang membuatku bertahan dan
menjalani hari demi hari, sembari terus mencoret kertas countdown pulang ke
Malang yang aku temple di dinding kamarku. “28 days to go home” begitu kata
handphone yang juga aku pasangi reminder countdown pulang ke Malang.
Saking bencinya, atau bahasa halusnya saking tidak betahnya
aku, bahkan aku pernah menulis sebuah posting di blog ini dengan judul “Senja
Sabtu di Tanah Perantauan”yang berisikan tentang kesedihan malam minggu dan
perbedaan bagaimana aku menjalan malam minggu di Bintaro dan di Malang. Saat
itu, memang rasanya homesick adalah kawan dan waktu adalah lawan. Jika bisa,
ingin rasanya aku bolak-balik Malang-Bintaro setiap Minggu.
Perasaan itu terus berjalan hingga 1 tahun lamanya. Dalam 1
tahun pertama itu, seringkali aku mengambil jatah dan bolos kuliah untuk pulang
ke Malang. Terkadang karena sakit atau terkadang juga karena ingin saja pulang,
tidak ada alasan spesifik. Di akhir tahun pertama aku sudah lumayan bisa
beradaptasi dan membuat jalinan pertemanan yang sangat lekat dengan kawan-kawan
di kosku. Nahas, pun sedih, mengetahui bahwa di tahun kedua kami semua berpisah
karena harga kos yang naik. Suasana yang awalnya membuatku sangat nyaman berada
di Bintaro, utamanya di kostan berubah kembali menjadi perasaan tidak betah.
Kost yang baru pun tidak memberikan kenyamanan. Saat itu, yang aku pikirkan
hanyalah rindu. Rindu dengan kost yang lama, dengan suasananya, juga dengan
teman-temannya. Tapi, apa? Semakin dewasa semakin kita tahu bahwa satu per satu
teman kita juga akan pergi entah untuk menggapai cita-citanya atau mengejar
cintanya. Rindu itu datang bergantian. Saat 1 orang rindu, teman-temannya
hampir pasti tidak akan merasakannya. Saat salah temannya merasakannya, hampir
pasti 1 orang itu dan teman lainnya tidak akan merasakannya. Begitu pun juga
dengan rindu itu.
Senja terakhir di tanah perantauan. Teman-temanku sibuk
belajar tes TKD yang membuat pusing 7 keliling karena jika kami tidak lolos
artinya = mati. Tidak, tentu saja bukan mati yang sesungguhnya. Tetapi, jika
kita tidak lolos kita tidak bisa menjadi PNS (sesuatu yang selalu
diidam-idamkan oleh orang tua kita). Teman-temanku sibuk belajar TKD dan tidak
menyadari ada 1 orang yang sangat rindu dan khawatir bahwa dalam waktu
kebersamaan ini akan segera berakhir.
Di mana yang biasanya setiap malam main PES bersama tentu
akan segera berlalu.
Di mana yang biasanya futsal bersama pasti akan segera
berakhir.
Di mana yang biasanya saling membangunkan dan membantu pasti
akan segera pergi.
Pun dengan hiruk pikuk kampus PKN STAN ini. Takkan ada lagi
suasana kampus di pagi hari yang lengang yang baru menunjukkan kesibukannya di
menit-menit terakhir dosen masuk. Takkan ada lagi suasana hentakan sepatu tanda
mahasiswa bea cukai sedang baris ber baris. Takkan ada lagi kawan yang ada dan
selalu menyemangati dalam keadaan apapun. Takkan ada lagi kamu, kampusku yang
walaupun kecil tapi sangat membekas di hati.
Teh yang sedari tadi masih panas sekarang sudah mereda. Ku
sesap semakin dalam dan kembali melamun tentang perasaan aneh dalam hatiku
sedih bercampur haru akan meninggalkan kampusku ini. Jadi, apa yang sebenarnya
kita namai rindu itu? Barangkali perasaan enggan pindah dari suatu zona yang
telah lama kita hinggapi. Barangkali juga perasaan mengganjal ketika kita akan
berlanjut pada tahap berikutnya.
Aku jadi berfikir apakah arti rindu itu? Mungkin kita bukan
rindu dengan seseorang atau teman-teman. Tetapi, nyatanya kita rindu dengan
suasana atua keadaan yang pernah terjadi dan berlalu dalam memori kita. Kita
terjebak dalam memori itu yang membuat kita tak bisa melangkah. Yang kita
perlukan hanyalah sedikit menengok kenangan itu. Kenangan yang membuat diri
kita menjadi kita yang sekarang.
Teh di gelasku tinggal sedikit. Ku putuskan untuk
menghabiskannya dan segera beranjak pulang kembali ke Malang. Meninggalkan
semua kenangan yang pernah terjadi di sini.
Senja terakhir di tanah perantauan. Sampai jumpa kampusku, 2
tahun lagi aku akan kembali.
Ambil Jatah - Kuliah di PKN STAN
Berada di perguruan tinggi yang sarat dan terkenal akan "drop out"-nya tentu saja membuat semua orang jadi parno (paranoid). Sejak sosialisasi di SMA mengenai PKN STAN saja, semua sudah membahas tentang adanya drop out ini. Jadinya, ketika aku pertama kali tiba di kampus Ali Wardhana ini aku juga ikut parno. Aku tidak berani berperilaku aneh-aneh. Aku tidak berani mengenakan jaket di kampus, aku tidak berani tidak mengenakan kemeja lengan panjang, aku tidak berani tidak memakai sepatu pantofel, dan aku tidak berani-tidak berani lainnya yang disebabkan aku takut drop out. Dan satu lagi, aku tidak berani ambil jatah/bolos/izin karena sakit/tidak masuk kuliah.
Padahal jika kita tahu, ancaman drop out tidak semengerikan itu. Walaupun kita tidak pintar-pintar amat dan tidak rajin belajar-rajin belajar amat, selama kita rajin masuk kuliah dan mendengarkan dosen insya Allah kita aman dan tidak akan di drop out. Ya, memang sih terkadang ada temanku yang bernasib buruk. Entah mendapat dosen killer yang membuat dia di drop out atau terkena masalah sepele lain yang membuat dia harus pulang lebih cepat dari kampus Ali Wardhana ini.
Oh iya, jadi meluber ke mana-mana membahas tentang drop out ini. Jadi, intinya seperti judul. Dulu aku takut ambil jatah. Saat semester 1 aku tidak pernah tidak masuk dan absenku selalu penuh. Semua berubah saat masuk ke semester 2. Saat itu ada 1 Minggu yang libur selama 3 hari kerja. Jadinya, kuliah cuma masuk Senin dan Selasa. Alhasil, aku pertama kali ini mengambil jatah dan tidak masuk kuliah hari Senin dan Selasa (2 matkul saja). Setelah itu, aku jadi mulai berani memanfaatkan jatah ini. Normalnya, selama 1 semester kita boleh tidak masuk selama 3x per matkul. Jadi, hampir setiap semester aku memanfaatkan 1x jatah untuk pulang ke Malang.
Padahal jika kita tahu, ancaman drop out tidak semengerikan itu. Walaupun kita tidak pintar-pintar amat dan tidak rajin belajar-rajin belajar amat, selama kita rajin masuk kuliah dan mendengarkan dosen insya Allah kita aman dan tidak akan di drop out. Ya, memang sih terkadang ada temanku yang bernasib buruk. Entah mendapat dosen killer yang membuat dia di drop out atau terkena masalah sepele lain yang membuat dia harus pulang lebih cepat dari kampus Ali Wardhana ini.
Oh iya, jadi meluber ke mana-mana membahas tentang drop out ini. Jadi, intinya seperti judul. Dulu aku takut ambil jatah. Saat semester 1 aku tidak pernah tidak masuk dan absenku selalu penuh. Semua berubah saat masuk ke semester 2. Saat itu ada 1 Minggu yang libur selama 3 hari kerja. Jadinya, kuliah cuma masuk Senin dan Selasa. Alhasil, aku pertama kali ini mengambil jatah dan tidak masuk kuliah hari Senin dan Selasa (2 matkul saja). Setelah itu, aku jadi mulai berani memanfaatkan jatah ini. Normalnya, selama 1 semester kita boleh tidak masuk selama 3x per matkul. Jadi, hampir setiap semester aku memanfaatkan 1x jatah untuk pulang ke Malang.
MANDIRI FINANCIALLY
Sesungguhnya aku tidak tahu bahasa inggrisnya mandiri secara keuangan. Ya mungkin kira-kira judul di atas sudah menggambarkan lah ya.
Aku sudah hampir mandiri financially ketika mulai kuliah di PKN STAN. Tidak benar-benar mandiri karena tiap bulan aku masih menerima uang sangu dari orang tua. Yang berbeda ketika ada biaya tambahan seperti membeli buku, iuran kemahasiswaan, iuran wisuda atau yang lain aku tidak pernah meminta orang tuaku. Teman-temanku yang terkadang juga meminta ganti atas tiket pulang pergi pun aku tidak memintanya.
Bahkan saat ketika pernah dalam beberapa bulan aku mendapat uang hasil usaha di atas 5 juta, aku rutin tiap bulan mengirimi uang ke orang tuaku 1 juta.
Tetapi, semua itu sepeti tidak berarti ketika orang tua mu berkata "Kamu gak pernah isiin bensin motor. Mama terus yang ngisi" dengan nada sinis wkwkkw
Astaghfirullah wwkwkwk Alhamdulillah
Aku sudah hampir mandiri financially ketika mulai kuliah di PKN STAN. Tidak benar-benar mandiri karena tiap bulan aku masih menerima uang sangu dari orang tua. Yang berbeda ketika ada biaya tambahan seperti membeli buku, iuran kemahasiswaan, iuran wisuda atau yang lain aku tidak pernah meminta orang tuaku. Teman-temanku yang terkadang juga meminta ganti atas tiket pulang pergi pun aku tidak memintanya.
Bahkan saat ketika pernah dalam beberapa bulan aku mendapat uang hasil usaha di atas 5 juta, aku rutin tiap bulan mengirimi uang ke orang tuaku 1 juta.
Tetapi, semua itu sepeti tidak berarti ketika orang tua mu berkata "Kamu gak pernah isiin bensin motor. Mama terus yang ngisi" dengan nada sinis wkwkkw
Astaghfirullah wwkwkwk Alhamdulillah
TEPAT WAKTU
Aku selalu BERUSAHA menjadi orang yang tepat waktu. Bahkan, lebih dari tepat waktu. Aku selalu datang 1 hingga 2 jam sebelum tempat janjian, sebelum kereta berangkat, atau sebelum pesawat berangkat. Caranya? Tentu saja aku mengira-ngira waktu perjalanan dari rumah menuju lokasi janjian. Mengira-ngira apakah hari ini macet. Lalu kemungkinan-kemungkinan lain.
Memang terkadang aku juga terlambat. Seperti kadang walaupun aku berusaha datang awal ketika kuliah, tetapi ketika aku tahu dosen jadwal kuliahku tersebut selalu terlambat kadang-kadang aku juga jadi ikut terlambat
Tapi, sesuatu yang membuat jengkel adalah ketika kita janjian tetapi orang yang berjanjian dengan kita terlambat. Benar-benar orang yang tidak bisa menghargai waktu sama sekali.
Memang terkadang aku juga terlambat. Seperti kadang walaupun aku berusaha datang awal ketika kuliah, tetapi ketika aku tahu dosen jadwal kuliahku tersebut selalu terlambat kadang-kadang aku juga jadi ikut terlambat
Tapi, sesuatu yang membuat jengkel adalah ketika kita janjian tetapi orang yang berjanjian dengan kita terlambat. Benar-benar orang yang tidak bisa menghargai waktu sama sekali.
Langganan:
Postingan (Atom)