Jumat, 11 November 2016

No Regret Life





Lapangan basket itu terlalu sempit. Ketika bermain basket, lari sana sudah sampai ring barat. Lari sini, eh tiba-tiba sudah sampai ring selatan. Garisnya pun tidak jelas. Cuma dilapisi cat putih yang sudah usang dimakan waktu. Lapangan sisi sebelah barat juga bergeronjal dan sudah berulang kali ditambal. Terakhir aku main di sana, 5 tahun yang lalu kondisinya benar-benar menyedihkan! Dan terakhir aku ke sana, 6 bulan yang lalu dan kondisinya masih sama menyedihkannya! Namun, bukan itu yang mau dibahas. Tapi, kenangan 3 tahun berada di situ yang tak terganti!

Tiap orang pasti punya penyesalan terbesar dalam hidupnya. Banyak diceritakan di buku-buku motivasi orang akan mulai menyesal tidak melakukan sesuatu saat berumur 40-60 tahun. Tapi, di masa semuda ini, 19 tahun, aku sudah mendapatkan (mungkin salah satu) penyesalan terbesar dalam hidupku! 6 tahun yang lalu saat pertama aku bermain basket, tidak ada satu orang pun di dunia yang mencintai basket melebihi cintaku padanya. Sampai-sampai tiap sore aku basket di sekolah dan di lapangan deket rumah. Aku rela mengayuh sepeda sepanjang 12km PP sekolah-rumah, agar aku punya stamina yang cukup bagus dan bisa bermain 4 quarter penuh! Rekor 12km PP terkalahkan 20km PP saat aku SMA! Aku selalu membawa jaring di sebelah tasku yang berisi bola basket. Seantero sekolah juga pada tahu, kalau pagi-pagi kedengeran "duk..duk...duk..." Bunyi bola basket di lapangan kecil itu, sudah pasti aku. Pernah juga sampai dimarahi Mas Novel staf TU sekolah karena aku mengangkat kursi ke lapangan dan nge-dunk pake kursi itu! Memang sih, ringnya agak bogrek. Oh iya, kondisi lapangannya masih mengenaskan seperti 6 tahun yang lalu. Tapi, ringnya sekarang udah diganti! Sudah agak standar daripada dulu yang sudah bogrek.

Aku tahu semua teknik, nama pelanggaran, peraturan di basket. Soalnya mulai dari video tentang basket, komik basket, artikel basket mainbasket.com aku baca semuanya! Bahkan, seringkali pelatihku yang masih SMA tidak tahu peraturan yang sudah aku tahu. Seperti obstacle foul lalu melempar free throw dari bawah seperti yang dilakukan pemain NBA Rick Barry. Bahkan, aku masih mengingat bagaimana poin pertama yang aku masukkan di turnamen pertamaku! Juara 3 se-malang raya 2 kali berturut-turut membuka jalan SMP-ku, SMPN 1 Singosari, dilirik basket sekolah tetangga. Apalagi ada small forward tampan sepertiku. Duh, mana tahan! *jayus

Masuk di SMA dengan label tim juara, ternyata menang tidak seasik itu! Saat SMP kemenangan sungguh berharga, belasan poin aku cetak tiap pertandingannya. Saat SMA, menang sudah biasa, juara sudah langganan, kalah itu yang tidak biasa. Jadinya, kalau menang nggak seneng-seneng banget, tapi ya nggak sedih-sedih banget. Semuanya, cerita basketnya, berhenti di awal tahun 2013. Sial memang angka 13! HAhahaha bercanda! Lahirku tanggal 13 soalnya, 13 APril. Kasih hadiah ya nanti pas ulang tahunku? Aku lagi pingin bola basket.

Penyesalan terbesarku yaitu keluar tim basket. Duh, rasanya pingin balik ke smp dan main basket lagi. Tapi, yaudah percuma juga. Nggak akan bisa mbalikkin waktu hahaha. Yaudah kasih quotes aja ya dari Disney.

“Around here, however, we don't look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things, because we're curious...and curiosity keeps leading us down new paths.”

Rabu, 19 Oktober 2016

Biaya Hidup Kuliah di PKN STAN

Awalnya, aku selalu berpikir kuliah di luar kota akan menghabiskan banyak biaya. Biaya kos, biaya makan sehari-hari, biaya kebutuhan sehari-hari, dan biaya lainnya. Ternyata, benar. Aku bukan berasal dari keluarga yang berada. Papaku hanya seorang pegawai BUMN PT Pos Indonesia dan ibuku seorang guru PNS. Namun, aku bangga dengan mereka berdua. Aku tidak pernah bercita-cita kuliah di Universitas ternama di luar kota Malang. Tidak seperti kebanyakan teman SMA ku yang bercita-cita kuliah di UI, ITB, UGM, IPB, maupun universitas lainnya. Paling-paling keinginan kuliah di luar kota adalah di Surabaya. Namun, dengan biaya kuliah gratis di PKN STAN. Kampus ini menjadi tujuan utamaku setelah lulus SMA. Aku pikir Uang Kuliah Tunggal di Universitas Brawijaya selama 1 semester hampir sama dengan biaya hidupku di PKN STAN Bintaro ini.

Semasa kuliah di Universitas Brawijaya aku mendapatkan sangu bulanan sebesar Rp. 700.000. Ini aku gunakan untuk keperluan sehari-hari seperti bensin, makan, nongkrong, nonton, dan membeli keperluan lainnya. Jika dirinci, maka pengeluaranku ketika kuliah di Universitas Brawijaya seperti ini :

Bensin 1 bulan :                Rp. 250.000 (15.000 utk 2 hari)
Pulsa                :                Rp.   50.000

Sudah. Untuk makan sehari-hari aku selalu makan di rumah, Saat SMA, aku selalu membawa bekal dari rumah untuk makan siangku. Saat di UB, beberapa kali aku makan dengan biaya tidak sampai 10.000 di warung Mama belakang Poltek. Jadinya, rata-rata pengeluaranku per bulan hanya Rp. 500.000.

Ya mungkin lebih, karena aku sering keluar makan dengan Laksmi. Tapi, aku mempunyai penghasilan dari stop motion yang sangat membantu keuanganku.

Saat awal-awal di PKN STAN, pengeluaranku aku hitung sekedarnya saja. Tetapi, baru aku menyadari akhir-akhir ini kalau pengeluaranku bulan-bulan sebelumnya cukup besar. Aku menghambur-hamburkan uang karena merasa uangku banyak. Penghasilan stop motion benar-benar membuatku terlena. Akhirnya, sejak bulan Juli aku benar-benar merinci benar pengeluaranku per bulannya. Uang sanguku tiap bulannya Rp. 1.500.000. Namun, aku tiap bulannya mengembalikan Rp. 500.000 atau Rp 1.000.000 tersebut ke rekening ibuku. Jadi, aku mendapat sangu Rp. 1.000.000 atau Rp. 500.000. Untuk, pengeluaran rata-rataku per bulan mencapai Rp. 1.500.000. Padahal, aku sudah mencoba menghemat dengan membeli makan sebesar 5000 Rupiah per makan saja. Tetapi, biaya lain-lain seperti jersey organda, tiket pulang, deterjen, listrik, dan lain-lain membuat pengeluaranku menjadi besar. Aku memanfaatkan penghasilanku dari stop motion untuk menutupi biaya yang kurang. Berikut contoh pengeluaranku selama di PKN STAN

September 2016

Sangu dari orang tua :                               Rp. 1.500.000
---------------------------------------------------------
Pengeluaran :
Sangu dikembalikan ke orang tua :           Rp. 1.000.000
Amal                                              :          Rahasia
Makan selama sebulan                  :           Rp. 615.500 (sekitar 20.000 per hari)
Makan dan nongkron selain nasi   :           Rp. 221.800
Wifi                                                :           Rp. 51.000
Pajak Stop Motion                         :           Rp. 60.750
Listrik                                            :           Rp. 106.000
Kartu merah pas turnamen            :           Rp. 20.000
Belanja keperluan bulanan            :           Rp. 77.200
Uang kas & ATK                           :           Rp. 49.000
Futsal                                             :           Rp. 11.000
Laundey 1x                                    :           Rp. 7.500
Transportasi bensin                        :           Rp. 40.000
-----------------------------------------------------------
Total Pengeluaran                          :            Rp. 2.506.650


Tentu ini bervariasi tiap orang. Contohnya saja yang membuat pengeluaranku besar adalah uang yang aku kembalikan ke orang tuaku sebesar Rp 1.000.000. Padahal, kalau tidak ada itu pengeluaranku Rp 1.506.650 saja. Makan dan nongkrong selain nasi aku juga pernah menghabiskan uangku sebesar 123.000 waktu itu. Aku sudah berusaha menghemat sedemikian rupa, namun rasnaya masih tetap banyak pengeluarannya hehehe.

Begitulah, biaya kuliah hidup di PKN STAN.

Selasa, 11 Oktober 2016

The Epic Story of Farewell #1 - Pengumuman SNMPTN

Berada di perantauan malah membuatku semakin merindukan rumah. Merindukan rumah malah membuatku semakin nostalgic dan membuka semua cerita, chat, gambar dari kejadian masa silam. Jadilah, aku barusan membuka chat What's Next Squad yang bertanggal 9 Mei 2015. Persis 1 tahun 6 bulan yang lalu. Saat pengumuman SNMPTN diposting.

Saat itu, dari 14 anggota grup What's Next hanya 2 orang yang diterima. Nabila di FK Unpad dan Dinda di FTI ITS. Padahal, hampir semua yang ada di grup itu optimis diterima SNMPTN. Optimisme kami cukup masuk akal mengingat trend positif smanti yang selalu banyak diterima di perguruan tinggi. Apalagi, banyak diantara kami yang berada di peringkat atas paralel. Kami juga dengan penuh strategi memilih jurusan yang benar-benar berpeluang besar. Contohnya, Laksmi di FKG Unair (tak kaget dengan peringkatnya yang tinggi),  Syafiq di IPB (Dekan IPB alumni smanti), Cahya di Pend. Matematika UM, Vicky di FTI ITS, dan aku di PWK UB. Kami masing-masing berada di peringkat pertama di tiap pilihan kami.

Awalnya, hari itu adalah hari yang paling mendebar-debarkan. Meski begitu, aku yakin di grup Whats Next yang sejak pagi hari ramai membahas pengumuman SBMPTN banyak di antara mereka optimis akan lulus. Begitu pukul 17.00 tiba, semua kaget dan tidak percaya dengan pengumuman itu. Kami semua gagal diterima snmptn #readteam.

Kamis, 15 September 2016

Sahabat Kecil

"Kesempatan seperti ini... tak akan bisa dibeli. Bersamamu kuhabiskan waktu. Senang bisa mengenal dirimu. Rasanya semua, begitu sempurna sayang untuk mengakhirinya"

***

Lulus SD kuncinya sekelas. SMP kuncinya ga pindah. SMP kuncinya sebangku. Lulus SMP kuncinya se-SMA. Lulus SMA kuncinya sekuliah. Kuliah kuncinya sekos.

2 quotes di atas sangat berkesan dalam nurani. Yang pertama, adalah lirik lagu sahabat kecil - Ipang. Lagu tersebut adalah lagu sepanjang masa kenangan tentang sahabat. Liriknya sungguh menyentuh dan sering kali dibuat menjadi backsound video perpisahan. Yang kedua adalah konsep yang aku buat tentang sahabat dan perpisahan berdasarkan pengalamanku 19 tahun hidup di dunia ini.

Saat aku SD, aku sering mengikuti lomba di berbagai olimpiade. Aku bertemu dengan seseorang yang sangat akrab denganku. Nur Adi Setiawan. Bersamanya, semua hal menjadi lucu dan layak untuk ditertawai. Sayangnya, kami hanya bertemu saat olimpiade-olimpiade saja. Namun, semua menjadi semakin baik ketika kami berada di SMP yang sama dan berada 1 kelas saat MOS. Aku jadi sering main ke rumahnya dan dia juga sempat ke rumahku. Namun, kami mulai menjauh dan tidak berkomunikasi begitu tahu setelah MOS kami tidak lagi berada di kelas yang sama.

Saat SMP aku mempunyai banyak teman dan sahabat. Ada yang datang lalu pergi. Namun, ada juga yang membekas di hati. SMP kuncinya ga pindah. Sayangnya, salah satu teman terdekatku pindah. Lingga. Dia pindah ke Bandung karena kedua orang tuanya dinas di sana. Kabar baiknya, kami masih sering chat dan hampir tiap tahun kami bertemu. Entah aku yang ke Bandung atau Lingga yang ke Malang.

Ada juga salah satu teman dekatku saat SMP yang sangat dekat sekali. Namun, kami mulai jarang main bareng saat kelas 3 duduk kami berjauhan. Untungnya juga, di akhir kelas 3 kami kembali sering main bareng. Bahkan sampai sekarang.

Saat SMA, ada yang menyebut Syafiq artinya Sahabat Vicko wkwkwk itu ejekan karena saat itu aku metenteng. Namun, Syafiq pernah bilang dia ga peduli meskipun ada yang ga suka, Katanya, akhirat kita ditentukan teman kita, Bukan omongan orang lain. Syafiq ini lucu banget, pas kelas 10 dia benci sama yang namanya pacaran dan gabakalan pacaran sampe ntar nikah. Jomblo Sampe Sah katanya. Tapi, pas kelas 11 taunya udah jadian aja sama temennya, Adis wkwkwkw. Salah cerita jadiannya mbanyol wkwkwk Jadi kita pas sma CS banget. Apalagi kelas 11. Soalnya cuma kita berdua sama Bedil yang ke IPA 6. Nah, temen-temen kelas 10 yang lain di IPA 5. Jadinya, ya gitu ke mana-mana smaa Syafiq. Ngapa-ngapain lapor. Sholat dhuha, dhuhur, ashar bareng. les bareng, makan bareng, bahkan suering aku jadi nyamuk pas Adis sama Syafiq keluar wkwkwkw. Kok mau ya Adisnya. Cerita jadiannya itu mbanyol. Awalnya Syafiq kan mau ngajak aku buat nembaknya, soalnya pas itu motornya dipake abinya. Lah kok pas hari Sabtu mau jadian itu aku sakit wkwkwk. Akhirnya, Syafiq jalan dari smanti ke kfc kawi. Mampir dulu beli setangkai bunga di splendid. "Mbak mau beli bunga."Kata Syafiq pas cerita. "Berapa mas?", "Setangkai ini aja mbak", cuma 2000an ternyata wkwkwkwk Iya lah wong cuma bunga 2000an wkwkwk Banyak cerita sih sama Syafiq. Kan 3 tahun barengan. Pas kita udah kelas 3 SMA, kita ndaftar snmptn, sbmptn, semuanya barengan wes. Dia sempet ngiming-ngimingin manajemen IPB yang katanya akreditasi A, biar snmptn nya sama paling wkwkwkw. Nah, Uminya minta tolong aku mbujuk Syafiq jangan ngambil mandiri dimana-mana. Ambil Seleksi Mandiri UB aja wkwkwkw Jadi, dia tak paksa ambil Selma UB aja. Pas les kita ke mana2 bareng juga. Masiho ga jarang kita juga sering crash. Tapi ya paling otot-ototan biasa wkwkwk. Kita sama-sama pingin masuk STAN dan 1 kos-an. Tapi, di detik-detik terakhir pendaftaran SBMPTN. Aku yang udah yakin milih pajak UB (meskipun sebelumnya ganti2 dari tekkim, statistika, teknik informatika, dll wkwkwk), secara mengejutkan Syafiq nulis ITB di pilihan pertamanya, Bukan main. Sehabis SBMPTN, Syafiq gayakin masuk ITB. Tapi kita tetep berharap di STAN, meskipun Syafiq mesti ngompori STAN ga buka pendaftaran wkwkwkw Pas nunggu pengumuman SBMPTN. Kita juga ndaftar beberapa kampus. Kayak PLN Polinema. Lolos tes tahap 2 kesehatan, kita barengan ke surabaya naik bus nginep di hotal Fortuna. Wkwkwkw kayak maho pol. Tapi, sedih dia ga lolos tahap 3 jadinya aku ke hotel Fortuna sendirian pas tahap 3 :( baper baper wkwkwkwk Aku sama Syafiq ini sering pemikiran, tapi ya sering otot-ototan wkwkwk Dia lebih luwes kalo ngobrol sama orang lain, soalnya dia suka ndengerin orang dan bisa ngefake kalo gasuka orang. Nah aku kaku wkwkwk. Pas pengumuman SBMPTN aku sakit demam berdarah. Secara mengejutkan (lagi) Syafiq akhirnya ke terima ITB dan ga daftar STAN. Cerita sedihnya, ternyata Lulus SMA kuncinya sekampus. Meskipun masih ketemuan pas liburan, tapi kita ga bisa sedeket dulu lagi. Bahkan aku udah gatau gimana Adis sama Syafiq dan sebaliknya.

Lanjut kuliah, ada Akmal. Tapi sayang udah ga sekosan pas tingkat 2.

Saat itu, dari semua pengalaman aku menyadari kalau sahabat datang dan pergi. Sukses Adi! Sukses Ngga! Sukses Fiq! Sukses Mal!

Senin, 12 September 2016

Self-Driving License

Aku baru saja menyadari arti dari self-driving license. Suatu hal yang diajarkan oleh Rhenald Kasali di berbagai kesempatan dan buku yang beliau tulis. Tentang menjadi seseorang yang mandiri dan mengambil keputusan sendiri, tanpa bantuan atau tekanan dari orang tua. Berusaha menjadi seseorang yang mengambil keputusan dari nurani dan pikiran pribadi berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh.

Dalam buku "30 Paspor di Kelas Sang Professor" berulang kali dijelaskan mengenai self-driving license ini. Semua mahasiswa Prof. Rhenald Kasali ditugaskan untuk pergi ke luar negeri sendirian. Tanpa orang tua. Tanpa sanak saudara. Tanpa teman. Prof. Rhenald Kasali ingin membentuk mahasiswa menjadi sopir dalam hidupnya, bukannya hanya seorang penumpang. Beliau tidak ingin mahasiwanya tertidur dalam perjalanan hidupnya. Beliau ingin mahasiswa terus terjaga dan melek, memikirkan hal yang akan terjadi ke depannya. Dan berusaha mengambil keputusan terbaik.

Beruntung aku dibesarkan oleh kedua orang tua yang super demokratis dan selalu menyerahkan keputusan di atas tangan anaknya. Kedua orang tuaku tidak pernah sekalipun melarangku dan masku melakukan sesuatu. Memang ini dapat berdampak positif negatif. Tapi, mari kita pikirkan saja yang positif karena semua itu dilakukan untuk tujuan itu. Di usia yang sangat muda, aku tidak diantarkan membuat ktp, sim, kk dan surat keterangan lain di mana kebanyakan remaja seusiaku diantarkan oleh orang tuanya. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Bintaro, aku juga tidak ditemani orang tuaku. Bahkan papaku belum pernah mengunjungiku di sini. Ini aku anggap bukan karena mereka tidak sayang, justru mereka sangat sayang kepadaku sehingga membiarkanku mengambil keputusan sendiri dan tidak ikut mencampuri kehidupan remajaku. Dengan kata lain mereka 100% percaya dengan segala keputusan yang aku ambil. Tentu saja ini bergantung pada track record ku selama ini yang akhirnya berhasil mengambil kedua orang tuaku.

Ketika aku mempunyai rencana ke luar negeri, kedua orang tuaku juga tidak mempermasalahkannya. Bahkan aku tidak menyusahkan kedua orang tuaku dengan segala biaya karena aku mebiayai sendiri keberangkatanku Singapore dan Malaysia waktu itu. Aku sungguh beruntung dibesarkan kedua orang tua yang tidak paham dengan konsep self-driving, tetapi beliau berdua menerapkannya kepadaku.

Aku jadi ingat ketika aku masih SD, SMP, SMA, dan lulus SMA. Kedua orang tua ku tidak pernah mempermasalahkan sedikitpun akan tujuan yang aku pilih. Beliau berdua hanya mengarahkanku, yang seringkali arahannya sesuai dengan keinginanku. Meski begitu, kedua orang tuaku tidak pernah membatasi apa yang aku inginkan. Aku pernah menyampaikan aku tidak ingin kuliah dan langsung membuka bisnis saja. Orang tuaku tidak menolaknya, bahkan excited. Mereka kagum dengan sikap mandiriku dan ingin berusaha. Untung, lambat laun aku menyadari bahwa kuliah cukup penting dalam menentukan karir masa depanku.

Hari ini aku menyadari akan pentingnya dari Self-Driving License ini. Sejak aku kos di Bintaro, tak sekalipun kedua orang tuaku menjengukku. Mamaku pernah ke kosku, namun hanya menjemput karena saat itu aku demam hebat hingga tak kuat melangkahkan kaki. Beberapa temanku di sini seringkali dijenguk oleh orang tuanya. Beberapa ada yang hanya sekedar menengok keadaan anaknya, ada yang karena urusan bisnis dan mampir ke sini, dan ada juga yang seringkali ke sini karena khawatir akan kenyamanan anaknya. Yang aku sebutkan terakhir adalah penyebab aku menyadari arti pentingnya self-driving license ini.

Temanku yang sebut saja namanya Joko, seringkali dikunjungi orang tuanya. Sakit sedikit, orang tuanya langsung terbang menuju Bintaro. Tidak masalah sih sebenarnya, karena itu adalah bentuk rasa cinta orang tua terhadap anaknya yang paling bungsu. Hanya saja, seringkali aku lihat Joko ini tidak berani atau tidak pandai mengambil keputusan. Baru aku menyadari karena seringnya orang tuanya yang memutuskan suatu hal untuknya. Kebiasaan perhatian penuh orang tuanya kepada Joko, membuat Joko tidak dewasa dan terkesan kekanak-kanakan karena dimanjakan itu.

Sampai detik ini aku masih tertegun dengan arti pentingnya Self-Driving License. Aku pikir mungkin Joko tak akan bisa hidup di daerah pedalaman sendiri. Karena orang tuanya akan langsung menyusul ke tempat tersebut. Pernah suatu ketika, temanku yang lainnya, Bejo, berkata kepada Joko dengan nada gurau, "Jok...Jok... gimana kamu bisa dewasa kalau seperti ini terus. Jangan-jangan nanti kamu jadi dikucilkan oleh sosial lho." Benar juga sih kata Bejo. Karena walaupun Joko cukup cerdas dengan IP nya yang tinggi, serta yang aku kagumi, Joko sangat rajin pergi ke masjid, tanpa lisensi sopir kehidupan, selamanya Joko tak akan bisa hidup mandiri dan dewasa.

Semoga saja Joko bisa lepas dari belenggu tekanan orang tuanya dan berhasil berubah menjadi pribadi dewasa yang sungguh baik. Karena jujur, aku dan temanku Agus, sering berkata kalau Joko cukup ganteng dan gagah. Kalau saja dia tidak kekanak-kanakan mungkin banyak yang akan tergila-gila padanya. Hehe.