Sabtu, 30 Maret 2019

PUBG

Sedari kecil dulu, salah satu hobiku adalah bermain game. Bapak Ibu selalu update mengenai gadget game terkeren saat itu, di mana jaman awal game SEGA keluar, Bapak Ibu langsung membelikan game tersebut. Saat zaman mulai berganti, VCOM-lah game yang sedang update. Tidak lama sampai Bapak Ibu membelikan game itu juga. Sampai jaman playstation-pun mereka juga tidak segang untuk membelikannya.

Ada beberapa peraturan di rumah selama bermain game. Salah satunya adalah hanya boleh bermain hari Sabtu-Minggu saja. Jadi, selain di hari tersebut stick game-nya akan disembunyikan oleh Bapak Ibu. Btw, kalau nulis Bapak Ibu kepanjangan deh, coba kita singkat jadi Babu ya. Waduh kok jadi kayak pembantu hehehe. Yaudah gapapa tulis panjang aja jadi Bapak Ibu. Ohya, memikirkan peraturan main game sabtu-minggu itu aku jadi membayangkan seharusnya aku juga membatasi membuka sosial media (twitter, instagram, facebook, dll) hari Sabtu Minggu saja ya. Pasti hal itu akan jauh leboih efektif. Peraturan lainnya adalah aku dan masku baru akan dibelikan game baru ketika masing-masing kami bisa mendapatkan peringkat terbaik. Bagi masku, hal ini adalah hal yang cukup berat. Saat kelas 1 dan 2 SD masku selalu menyabet peringkat 1 dan 2 di kelas. Tapi, semenjak kelas 3 SD masku bahkan terlempar jauh dari peringkat 5 besar. Jadi, saat itu kami kelas 5 SD, jamannya playstation muncul. Seperti biasa mamaku menyemangati untuk mendapat peringkat terbaik dan akan mendapat hadiah playstation. Baru berjalan UTS, masku sudah merengek dan berjanji akan mendapat peringkat 1 karena nilainya bagus-bagus. Ibuku yang polos dan gampang tidak tega, akhirnya percaya saja dan meskipun belum pengumuman rapot peringkat, kami dibelikan PS. Jadilah sejak kami punya PS masku tidak pernah belajar lagi, endingnya saat itu aku berhasil mendapatkan peringkat terbaik, sedangkan masku "hanya" mendapat peringkat 8 di kelasnya karena di sisa waktu setelah UTS masku full bermain game terus. Hahahahaha

Selain Sega, Vcom, dan PS, banyak sekali game yang aku mainkan. Apalagi sejak game-game banyak berpindah ke PC, mulai dari point blank, counter strike, PES, FIFA, dan lain-lain. Tapi, sejak SMA aku tidak lagi antusias bermain game. Aku benar-benar jarang sekali bermain game. Kebiasaan itu juga terbawa sampai kuliah. Menginjak semester 3 di perkuliahan, banyak game seru baru bermunculan seperti mobile legend, pubg, freefire, rule of survival, dan lain-lain. Aku pun tidak bergeming. Di saat teman-teman 1 kostanku bermain game bersama, aku selalu hanya menjadi spectator saja. Atau barangkali aku lebih fokus mendesain video/foto.

Hingga akhirnya di semester 5 aku iseng men-download PUBG dan ternyata aku mulai kecanduan sejak itu. Untungnya aku masih bisa mengontrolnya dan paling sekarang juga main Sabtu-Minggu saja. Bahkan demi pubg, saat itu aku rela mengganti layar hp ku yang rusak senilai 915.000 dengan menjual salah satu kamera kesayanganku terlebih dulu hahahaha akhirnya layarnya rusak lagi sodara-sodara, tapi kali ini dibiarkan sajalah. Dan menurutku, sisi positif PUBG bisa menjalin silaturahmi. Karena PUBG aku jadi berkomunikasi dengan Darwan by phone juga by game hahahaa. Karena PUBG aku juga bisa seru-seruan bareng teman-temanku di mana pun mereka berada, Suwon PUBG

Sabtu, 26 Januari 2019

OJT DJP - PKN STAN

Akhirnya, penantian selama 2 bulan lebih terbayarkan. Jujur, sebenarnya aku tidak seberapa menanti pengumuman ini. Aku sangat menikmati momen-momen di rumah. Selain itu, aku sedikit optimis bisa ditempatkan OJT di KPP sekitar Malang, mengingat di tahun-tahun sebelumnya ada 2-3 anak D3 Pajak yang tersebar di 6 KPP di Malang.

Tahun ini anak Malang pun cuma ada sekitar 15 orang. Dan salah satu yang membuat aku optimis karena dari ke-15 orang tersebut, setidaknya IPK-ku masih berada di jajaran atas. Jadi, keseharianku di Malang aku isi dengan belajar mobil, membuat stop motion, menikmati makanan khas kota Malang serta menghabiskan waktu bersama keluarga.

24 Januari 2018. Akhirnya, pengumuman OJT keluar. Pengumuman tahun ini mundur 1 bulan dari jadwal biasanya. Keterlambatan ini sedikit membuat teman-temanku yang was-was resah. Begitu pengumuman keluar, aku langsung membuka laptopku. Tapi, aku lebih dulu tahu aku ditempatkan di mana karena diberitahu Darwan. KPP Pratama Jakarta Pulogadung. Kata Darwan di seberang telepon. Sedikit kaget sebenarnya karena keluar dari ekspektasi, walaupun aku juga siap ditempatkan di mana pun.

Aku mencoba untuk mensyukuri dan berdamai dengan Jakarta. Terakhir kali aku merantau di pinggiran Jakarta, aku tidak bisa sepenuhnya bebas. Karena jelas metropolitan bukan gayaku. Tapi, tentu saja aku sangat mensyukurinya.

Aku sangat bersemangat dan ingin membuat banyak prestasi di KPP tempat bekerjaku ini. AKu tidak sabar berkenalan dengan banyak orang dan mempelajari hal baru. Semoga aku berjodoh dengan Pulogadung ini dan bisa membuatku nyaman.
Pulogadung, aku datang!

Selasa, 02 Oktober 2018

Malarindu – Senja Terakhir di Tanah Perantauan


Aku menyesap teh yang aku beli di kantin parma PKN STAN ini. Aku jadi mengingat-ngingat bagaimana bisa aku kuliah di perguruan tinggi kedinasan ini. 3 tahun lalu saat kali pertama aku menjejakkan kakiku di kota metropolitan ini, tak ada satupun keinginan tuk bertahan dan terus berada di kota ini. Paksaaan kuliah dan tuntutan lulus lah yang membuatku bertahan dan menjalani hari demi hari, sembari terus mencoret kertas countdown pulang ke Malang yang aku temple di dinding kamarku. “28 days to go home” begitu kata handphone yang juga aku pasangi reminder countdown pulang ke Malang.

Saking bencinya, atau bahasa halusnya saking tidak betahnya aku, bahkan aku pernah menulis sebuah posting di blog ini dengan judul “Senja Sabtu di Tanah Perantauan”yang berisikan tentang kesedihan malam minggu dan perbedaan bagaimana aku menjalan malam minggu di Bintaro dan di Malang. Saat itu, memang rasanya homesick adalah kawan dan waktu adalah lawan. Jika bisa, ingin rasanya aku bolak-balik Malang-Bintaro setiap Minggu.

Perasaan itu terus berjalan hingga 1 tahun lamanya. Dalam 1 tahun pertama itu, seringkali aku mengambil jatah dan bolos kuliah untuk pulang ke Malang. Terkadang karena sakit atau terkadang juga karena ingin saja pulang, tidak ada alasan spesifik. Di akhir tahun pertama aku sudah lumayan bisa beradaptasi dan membuat jalinan pertemanan yang sangat lekat dengan kawan-kawan di kosku. Nahas, pun sedih, mengetahui bahwa di tahun kedua kami semua berpisah karena harga kos yang naik. Suasana yang awalnya membuatku sangat nyaman berada di Bintaro, utamanya di kostan berubah kembali menjadi perasaan tidak betah. Kost yang baru pun tidak memberikan kenyamanan. Saat itu, yang aku pikirkan hanyalah rindu. Rindu dengan kost yang lama, dengan suasananya, juga dengan teman-temannya. Tapi, apa? Semakin dewasa semakin kita tahu bahwa satu per satu teman kita juga akan pergi entah untuk menggapai cita-citanya atau mengejar cintanya. Rindu itu datang bergantian. Saat 1 orang rindu, teman-temannya hampir pasti tidak akan merasakannya. Saat salah temannya merasakannya, hampir pasti 1 orang itu dan teman lainnya tidak akan merasakannya. Begitu pun juga dengan rindu itu.

Senja terakhir di tanah perantauan. Teman-temanku sibuk belajar tes TKD yang membuat pusing 7 keliling karena jika kami tidak lolos artinya = mati. Tidak, tentu saja bukan mati yang sesungguhnya. Tetapi, jika kita tidak lolos kita tidak bisa menjadi PNS (sesuatu yang selalu diidam-idamkan oleh orang tua kita). Teman-temanku sibuk belajar TKD dan tidak menyadari ada 1 orang yang sangat rindu dan khawatir bahwa dalam waktu kebersamaan ini akan segera berakhir.

Di mana yang biasanya setiap malam main PES bersama tentu akan segera berlalu.

Di mana yang biasanya futsal bersama pasti akan segera berakhir.

Di mana yang biasanya saling membangunkan dan membantu pasti akan segera pergi.

Pun dengan hiruk pikuk kampus PKN STAN ini. Takkan ada lagi suasana kampus di pagi hari yang lengang yang baru menunjukkan kesibukannya di menit-menit terakhir dosen masuk. Takkan ada lagi suasana hentakan sepatu tanda mahasiswa bea cukai sedang baris ber baris. Takkan ada lagi kawan yang ada dan selalu menyemangati dalam keadaan apapun. Takkan ada lagi kamu, kampusku yang walaupun kecil tapi sangat membekas di hati.

Teh yang sedari tadi masih panas sekarang sudah mereda. Ku sesap semakin dalam dan kembali melamun tentang perasaan aneh dalam hatiku sedih bercampur haru akan meninggalkan kampusku ini. Jadi, apa yang sebenarnya kita namai rindu itu? Barangkali perasaan enggan pindah dari suatu zona yang telah lama kita hinggapi. Barangkali juga perasaan mengganjal ketika kita akan berlanjut pada tahap berikutnya.

Aku jadi berfikir apakah arti rindu itu? Mungkin kita bukan rindu dengan seseorang atau teman-teman. Tetapi, nyatanya kita rindu dengan suasana atua keadaan yang pernah terjadi dan berlalu dalam memori kita. Kita terjebak dalam memori itu yang membuat kita tak bisa melangkah. Yang kita perlukan hanyalah sedikit menengok kenangan itu. Kenangan yang membuat diri kita menjadi kita yang sekarang.

Teh di gelasku tinggal sedikit. Ku putuskan untuk menghabiskannya dan segera beranjak pulang kembali ke Malang. Meninggalkan semua kenangan yang pernah terjadi di sini.
Senja terakhir di tanah perantauan. Sampai jumpa kampusku, 2 tahun lagi aku akan kembali.

Ambil Jatah - Kuliah di PKN STAN

Berada di perguruan tinggi yang sarat dan terkenal akan "drop out"-nya tentu saja membuat semua orang jadi parno (paranoid). Sejak sosialisasi di SMA mengenai PKN STAN saja, semua sudah membahas tentang adanya drop out ini. Jadinya, ketika aku pertama kali tiba di kampus Ali Wardhana ini aku juga ikut parno. Aku tidak berani berperilaku aneh-aneh. Aku tidak berani mengenakan jaket di kampus, aku tidak berani tidak mengenakan kemeja lengan panjang, aku tidak berani tidak memakai sepatu pantofel, dan aku tidak berani-tidak berani lainnya yang disebabkan aku takut drop out. Dan satu lagi, aku tidak berani ambil jatah/bolos/izin karena sakit/tidak masuk kuliah.

Padahal jika kita tahu, ancaman drop out tidak semengerikan itu. Walaupun kita tidak pintar-pintar amat dan tidak rajin belajar-rajin belajar amat, selama kita rajin masuk kuliah dan mendengarkan dosen insya Allah kita aman dan tidak akan di drop out. Ya, memang sih terkadang ada temanku yang bernasib buruk. Entah mendapat dosen killer yang membuat dia di drop out atau terkena masalah sepele lain yang membuat dia harus pulang lebih cepat dari kampus Ali Wardhana ini.

Oh iya, jadi meluber ke mana-mana membahas tentang drop out ini. Jadi, intinya seperti judul. Dulu aku takut ambil jatah. Saat semester 1 aku tidak pernah tidak masuk dan absenku selalu penuh. Semua berubah saat masuk ke semester 2. Saat itu ada 1 Minggu yang libur selama 3 hari kerja. Jadinya, kuliah cuma masuk Senin dan Selasa. Alhasil, aku pertama kali ini mengambil jatah dan tidak masuk kuliah hari Senin dan Selasa (2 matkul saja). Setelah itu, aku jadi mulai berani memanfaatkan jatah ini. Normalnya, selama 1 semester kita boleh tidak masuk selama 3x per matkul. Jadi, hampir setiap semester aku memanfaatkan 1x jatah untuk pulang ke Malang.

MANDIRI FINANCIALLY

Sesungguhnya aku tidak tahu bahasa inggrisnya mandiri secara keuangan. Ya mungkin kira-kira judul di atas sudah menggambarkan lah ya.

Aku sudah hampir mandiri financially ketika mulai kuliah di PKN STAN. Tidak benar-benar mandiri karena tiap bulan aku masih menerima uang sangu dari orang tua. Yang berbeda ketika ada biaya tambahan seperti membeli buku, iuran kemahasiswaan, iuran wisuda atau yang lain aku tidak pernah meminta orang tuaku. Teman-temanku yang terkadang juga meminta ganti atas tiket pulang pergi pun aku tidak memintanya.

Bahkan saat ketika pernah dalam beberapa bulan aku mendapat uang hasil usaha di atas 5 juta, aku rutin tiap bulan mengirimi uang ke orang tuaku 1 juta.

Tetapi, semua itu sepeti tidak berarti ketika orang tua mu berkata "Kamu gak pernah isiin bensin motor. Mama terus yang ngisi" dengan nada sinis wkwkkw

Astaghfirullah wwkwkwk Alhamdulillah