"Sebentar ya, aku mau ke Ainun dulu...", kata Habibi, seorang teman dekatku di SMAN 3 Malang ini.
Aku kembali melanjutkan belajar Fisika dengan Ali. Terjadi keheningan di antara kami berdua. Yang tadinya kami bersenda gurau, kini kami fokus pada bacaan masing-masing, tidak heran sore ini kami akan menghadapi ulangan Fisika.
Aku mengalihkan pandanganku menuju Habibi dan Ainun. Mereka juga sedang belajar, entah belajar Fisika atau pelajaran yang lain. Mereka berdua memang sudah biasa belajar bersama di ruang perpustakaan ini. Hampir setiap pagi atau setiap ada ulangan mereka akan berjanjian dan bertemu di ruang perpustakaan untuk belajar bersama. Mereka berbeda kelas, namun kekompakan keduanya sangat bagus dan mungkin itu juga yang menjadikan mereka pasangan sekitar 2 bulan yang lalu.
Saat itu, aku sedang duduk di samping Habibi di bangku dekat lapangan basket. Suasana class meeting benar-benar meriah. Aku katakan pada Habibi dengan sedikit memaksa, bahwa dia harus segera mengungkapkan perasaannya. Aku tidak tahu kelanjutannya. Yang pasti, aku melihat mereka berdua melakukan janji kelingking dan aku sontak menyoraki mereka "Cieeeeee". Hahahahaa 20-12-2012. Momen yang sangat berkenang bagi Habibi, dan juga mungkin Ainun.
Aku dan Ali menghampiri Habibi, ternyata benar dia sedang belajar Fisika. Kehadiran kami mungkin tidak akan mengganggu mereka berdua, walaupun kami suka mengacau, aku rasa Habibi dan Ainun sudah biasa menghadapi aku dan Ali. Setelah membahas sebuah soal Fisika, kami kembali fokus pada bacaan masing-masing. Lagi-lagi aku melamun, aku hanya sempat iri bagaimana cara Habibi mengajari Ainun sebuah soal, dan juga terkadang Ainun mengajari Habibi sebuah soal yang Ainun tidak bisa.
Aku kembali mengeluarkan imajinasi gilaku. Namun, itu malah membuatku jadi tambah minder dan down. Akhirnya, aku tutup buka Fisika dan kembali mengajak Habibi dan Ali serta Ainun untuk bercanda.
Sepulangnya, aku sedikit merenung. Kalau aku minder dan down terus, apa itu yang disebut sebagai pemenang? Hahahah tentu saja tidak. Jadi, aku mengambil keputusan untuk tidak lagi minder dan juga down. Aku harus bersemangat dalam meraih apa yang aku inginkan.
Dan yang saat ini sedang aku inginkan adalah perhatian'nya', juga kebanggaan dari orang tua akan sebuah prestasi yang sudah jarang aku persembahkan.
Jadilah, seperti air yang selalu mengalir. Walupun di depannya ada batu, dia terus mencari celah untuk melewati batunya! :D
Rabu, 13 Februari 2013
Short Message Service, Happy Little Thing
"The feeling of sending an important message about your feeling is like you have to do something big"This is not a 'normal' writing. This is the super writing with the beginning of SMS.
You, the one who reads this writing, you exactly have a mobile phone, right? Or maybe...... 2 mobile phones? :O Or even 3 mobile phones? Yeah, whatever Vicko-_- Before the "facebook" and "twitter" come out to the virtual world. The most practical communication media is mobile phone. Mobile phone even becomes the priority of our life. It becomes the basic needs of our life. Without it, the world feels so empty and lonely.
And, by the way, Who is the one that you send a message the most in a day? And....... this is the survey.
15% : Your parents.
10 % : Your friends.
25 % : Your best friends.
50% : Your crush.
Agree?
I know you agree with me. Cz I give the survey inconsequential.
Yup. I don't want to tell about your parents, or you friends, or even your best friends.
I want to tell you about the last survey-your crush-
Sometimes, you start the conversation and the "pdkt" with your crush by sms. Admit it or not. Your crush is someone you want to send messages the most. Initially, you try to look for her phone number. When you get it, you usually are scared to send a message to her. You wait for the chance to send a message to her. Or sometimes you do "misdirecting" message. (or in Indonesian "salah kirim").
For my story, I got her phone number by an accident. I actually wanted to ask her phone number from my best friend. But, I was just not really sure. Then, the student council made a program that every class has to send their students to participate for the class meeting. And there are so many posters in every angle in my school. I looked down and found that there was her phone number as the contact person! That was such a happy little thing.
I had not write her phone number, in the night she sent me a message about the announcement of the class meeting. It was the second happy little thing. After that moment, I just asked her about the class meeting. Not even more. I was too shy to get closer to her. The day before the class meeting began. I sent a message to her again. I asked to her about the schedule of my class. You know, it was just an "excuse" so I could send her a message (Atau biasanya juga disebut modus). And alhamdulillah, in the first day of the class meeting. My class got a win by the sophomore. And in the night, I send her a message again to ask about the schedule of my class. But, this time I also got an easy conversation with her. Unfortunately, in the second day of the class meeting. My class was defeated by the senior and we didn't play anymore. And that means I could not send her a message anymore.
Day by day, I ventured to send her a message. Apparently, she was so nice to me. And still, We still get a nice conversation till' this night.
----
Dan kalian tahu,
Sms memberikan ruang pada kalian untuk berbicara kepada seseorang, yang ruang itu tidak kalian dapatkan di dunia nyata.
Sms juga menampilkan sebuah kalimat hangat dari seseorang, yang mungkin tidak kalian dapatkan di dunia nyata.
Sms menghilangkan canggung di antara 2 orang, yang biasanya muncul ketika ada di dunia nyata.
Sms membuat 2 orang bisa akrab hanya dengan kata-kata yang dibaca.
Namun, sisi negatifnya.
Sms membuat komunikasi di dunia nyata terkadang tidak terjalin, sehingga menimbulkan sosialalisasi dunia nyata tidak berjalan.
Sms membuat seseorang hanya bisa percaya diri di dunia maya, tidak di dunia nyata.
Sms tidka menjadikan seseorang lebih baik, ketika orang tersebut berbeda antara dunia nyata dan dunia maya.
Tetapi, sisi negatif itu semua tidaklah penting, selama aku masih bisa menyemangatimu walau hanya melalui barisan tulisan di ponsel mu. That's what I called "Happy Little Thing" ;)
Kamis, 07 Februari 2013
Sebegitu tegarkah dia?
Dia yang populer.
Seseorang dengan muka ceria, yang suka melawan aturan yang mengekangnya.
Dalam hidupnya.... seperti tidak ada beban.
"Aku ingin menjalani hidup tanpa batas, seperti dia". Pernah suatu ketika aku mengatakan hal itu.
Pikirannya sulit ditebak.
Ketika dia "berniat" melakukan sesuatu, tidak ada yang bisa menghalanginya.
Ketika dia "setuju" dengan pendapatmu.... kamu seperti memiliki 80% kepercayaan dirimu hanya karena kata 'setuju' darinya.
Aku pernah iri darinya..
perjalanan cintanya berlari cepat. Dia menyukai seseorang.
Dan seseorang itu..... sempat memberikan lampu hijau padanya.
"Aku kate nonton maringene", katanya kepadaku beberapa waktu yang lalu.
Sudah bisa ditebak pasti dengan'nya', walaupun sedikit dengan raut muka kaget aku bertanya "Serius?"
Entahlah.... bisa jadi itu adalah momen terbaik baginya.
Yang juga momen yang menyedihkan...
Menyedihkan karena.
Selepas habisnya hari itu.
Dia terhempas.
Dia yang selalu tertawa, walau sebenarnya banyak tekanan di dirinya.
Dari orang tuanya. Dari teman-temannya. Dari sebuah 'peraturan'. Atau bahkan.
Dari hatinya.
Namun, seutas senyuman terus dia lontarkan dengan kata-kata nyeleneh yang suka dia ucapkan di kelas.
Hanya saja... setelah melihat sebuah situs website yang 'dulu' penuh dengan deretan tulisan puitis.....
Sekarang sudah tidak ada lagi.
Tulisan yang pasti dibuat dengan tidak mudah, mengingat tulisannya yang begitu sederhana namun puitis dan mengena.
Sekarang sudah tidak ada lagi.
Seseorang telah menghapusnya, dan mungkin juga....
menghapus orang yang ada di tulisan itu dari hatinya.
Entahlah.
Hanya sebuah hipotesis ngawur yang terlintas di pikiran.
Hehe.. Lucu ya gimana sebuah momen itu bisa jadi sanagat menyenangkan sekaligus menyedihkan saat kita mengingatnya.
Tapi...
Sebegitu tegarkah dia?
Seseorang dengan muka ceria, yang suka melawan aturan yang mengekangnya.
Dalam hidupnya.... seperti tidak ada beban.
"Aku ingin menjalani hidup tanpa batas, seperti dia". Pernah suatu ketika aku mengatakan hal itu.
Pikirannya sulit ditebak.
Ketika dia "berniat" melakukan sesuatu, tidak ada yang bisa menghalanginya.
Ketika dia "setuju" dengan pendapatmu.... kamu seperti memiliki 80% kepercayaan dirimu hanya karena kata 'setuju' darinya.
Aku pernah iri darinya..
perjalanan cintanya berlari cepat. Dia menyukai seseorang.
Dan seseorang itu..... sempat memberikan lampu hijau padanya.
"Aku kate nonton maringene", katanya kepadaku beberapa waktu yang lalu.
Sudah bisa ditebak pasti dengan'nya', walaupun sedikit dengan raut muka kaget aku bertanya "Serius?"
Entahlah.... bisa jadi itu adalah momen terbaik baginya.
Yang juga momen yang menyedihkan...
Menyedihkan karena.
Selepas habisnya hari itu.
Dia terhempas.
Dia yang selalu tertawa, walau sebenarnya banyak tekanan di dirinya.
Dari orang tuanya. Dari teman-temannya. Dari sebuah 'peraturan'. Atau bahkan.
Dari hatinya.
Namun, seutas senyuman terus dia lontarkan dengan kata-kata nyeleneh yang suka dia ucapkan di kelas.
Hanya saja... setelah melihat sebuah situs website yang 'dulu' penuh dengan deretan tulisan puitis.....
Sekarang sudah tidak ada lagi.
Tulisan yang pasti dibuat dengan tidak mudah, mengingat tulisannya yang begitu sederhana namun puitis dan mengena.
Sekarang sudah tidak ada lagi.
Seseorang telah menghapusnya, dan mungkin juga....
menghapus orang yang ada di tulisan itu dari hatinya.
Entahlah.
Hanya sebuah hipotesis ngawur yang terlintas di pikiran.
Hehe.. Lucu ya gimana sebuah momen itu bisa jadi sanagat menyenangkan sekaligus menyedihkan saat kita mengingatnya.
Tapi...
Sebegitu tegarkah dia?
Langganan:
Komentar (Atom)
