Aku mulai menulis ini saat di ujung komputerku menunjukkan pukul 23:59.
Basket.
Entah kenapa olahraga ini benar-benar membuatku jatuh cinta. Aneh, memang. Padahal, aku tidak bermain dengan teknik yang sangat bagus atau skill yang mumpuni. Tetapi, sejak aku bermain olahraga ini, aku tidak bisa seharipun pergi ke sekolah tanpa memikirkan basket. Berbeda saat aku mengikuti sekolah sepak bola. Dari kecil, orang-orang sudah bilang bahwa aku berbakat sepak bola. Di perumahanku, aku selalu bermain dengan anak-anak yang lebih besar dariku. Namun, aku selalu berhasil mencetak gol lebih banyak dari mereka. Mungkin itu yang membuatku menyandang kapten SSB Lawang setelah 1 tahun aku mengikuti latihan di sana. Aku mendapat linkar ban kapten dengan perjuangan yang cukup keras. Setiap sore aku selalu pergi ke lapangan untuk berlatih sepak bola. Dan alhasil pada turnamen di ajendam, aku berhasil menyandang kapten. Di turnamen-turnamen selanjutnya, aku selalu menjadi kapten. Hanya saja nasib beruntung tidak berpihak padaku saat itu, ketika aku tidak bisa mengikuti sleksi Villa 2000 yang merupakan jalur terbaik mencapai timnas Indonesia. Akhirnya, aku memutuskan untuk berhenti sepak bola karena aku sendiri sudah tidak nyaman berada di SSB Lawang pada saat itu.
Awal aku mulai mencintai basket adalah saat classmeeting di sekolahku. Aku selalu yang paling pertama untuk mengajukan classmeeting basket. Waktu itu, aku bukan bagian dari pemain ekskul basket. Hanya saja, euforia ketika bermain basket di sekolahku benar-benar sangat meriah. Sampai akhirnya, saat kelas 9 Danu mengajakku untuk berlatih basket dengan ekskul basket. Sejak saat itu aku semakin mencintai basket, dan impian utamaku adalah bermain di kompetisi terbesar di Indonesia-DBL-. Dalam benakku aku juga berkeinginan untuk bisa menjadi bagian dari DBL All-star.
Petualangan basketku selama SMP sangat menyenangkan, namun tidak membuatku berkembang pesat. Aku yang slelau berambisi dan pekerja keras, berusaha mendapatkan tempat utama di tim basket. Alhamdulilah, saat turnamen pertamaku aku berhasil mendapatkan tempat utama. Akhirnya, aku menjadi salah satu mesin poin bagi tim basket sekolahku. Saat itu, aku berfikir bahwa aku adalah pemain yang cukup bagus dan bisa menandingi pemain-pemain basket dari sekolah lain. Namun, pikiran itu berubah saat aku memasuki SMA.
Petualangan basketku di SMA ternyata jauh lebih keras. Aku masuk di skuad SMAN 3 Malang yang terkenal dengan basketnya. Di sini semua pemain hebat dari seluruh daerah berkumpul. Aku baru menyadari bahwa teknik dasar dribble-ku benar-benar sangat kurang. Akhirnya, aku berlatih semakin keras. Tiap sore aku bermain basket di lapangan dekat rumahku. Di penghujung semester, aku mulai berkembang. Tetapi, kejadian seperti saat masih di SSB itu kembali terulang. Kejadian tidak nyaman karena tidak memiliki teman dekat yang bisa memotivasi. Aku memulai basketku karena motivasi dari Danu, dan akhirnya dengan berat hati saat itu aku mengundurkan diri dari basket. Karena motivasi baruku, temanku, adalah berada di futsal. Sayang sekali. Kalau mengingat-ingat masa bermain basket, benar-benar membuat mood menjadi naik bagaimana saat itu-walaupun perlu perjuangan keras- aku sangat bahagia bermain basket dan selalu termotivasi. Namun, semua sudah selesai. Tidak akan ada lagi ceritaku tentang basket di hari-hari ke depan. Mungkin ada, saat anakku meneruskan basket yang pernah aku mulai :D hahahaha
Minggu, 24 Agustus 2014
Senin, 18 Agustus 2014
A New Chance
"Everybody has the same chance. It depends on whose spirit will last till the end"
Semester baru berarti pelajaran baru. Untuk kelas 10 mungkin ini adalah semester pertama baginya. Untuk kelas 11 ini adalah semester ketiga bagi mereka. Dan untuk kelas 12 sepertiku ini adalah semester ke-5 menuju semester terakhir yaitu semester 6.
Banyak orang gagal dikarenakan start yang buruk. Bahkan ada pepatah mengatakan "A great start will bring the great finish." Awal yang baik akan membawa akhir yang baik juga. Namun, ada sebagian minoritas yang memiliki start yang buruk, namun hasil yang baik. Tapi, hanya sedikit. Tinggal bagaimana seseorang tersebut memanfaatkan setiap peluang yang ada.
Semester baru berarti kesempatan baru. Di awal semester baru berarti catatan nilai rapot direset 0 lagi. Semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan peringkat 1 di awal semester baru ini. Tetapi, mengapa seringkali walaupun terdapat kesempatan baru banyak orang menyia-nyiakannya dan peringkat 1-3 selalu jatuh kepada orang yang itu-itu saja. Tidak berganti. Walaupun berganti, mungkin tidak signifikan. Mengapa selalu seperti itu?
Sistem pendidikan dan lingkungan.
Sistem pendidikan dan lingkungan-lah jawabannya. (Setidaknya itu pendapatku). Menurutku, Indonesia memiliki sistem pendidikan yang buruk dimana seorang siswa dituntut untuk menguasai banyak pelajaran sekaligus. Tidak hanya itu, jam belajar sekolah di Indonesia merupakan jam belajar terlama di dunia dengan rata 1680 jam setiap tahun. Menurut menteri Pendidikan Indonesia jam tersebut dirasa kurang, sehingga di kurikulum 2013 Menteri pendidikan menambah jam belajar siswa. Ini semakin memberatkan bagi kami, siswa di Indonesia.
Sistem pendidikan di sekolah juga perlu dipertanyakan. Saat ini, banyak sekali guru-guru yang membiarkan siswanya mencontek saat ujian nasional, ulangna harian, atau bahkan saat mengerjakan pr. Dengan alasan supaya siswa bisa mendapatkan nilai bagus dan mendapatkan PTN yang diinginkan, guru mebiarkan hal tersebut terjadi. Akibatnya, guru yang tidak jeli akan susah membedakan mana murid yang memang pandai dan mana murid yang "seolah-olah" pandai.
Kemudian lingkungan juga ikut andil dalam memepengaruhi perkembangan dan pola pikir remaja. Dimana remaja saat ini sangat bergantung pada lingkungannya. Masalahnya, sifat dasar manusia yang menyukai kebebasan membuat di era ini kebebasan terlalu diselewengkan hingga "keblabasan". Banyak siswa tidak lagi menjunjung tinggi kejujuran, namun harga diri dan eksistensi di kalangan remaja membuatnya melakukan apapun termasuk bergaya hidup dan berpola pikir seperti dimana lingkungannya berada.
Saya, penulis, bukan orang cerdas yang tahu semua hal atau orang intelek yang paham dengan survey-survey di masyarakat. Saya hanyalah pelajar biasa yang berusaha lulus dengan hasil terbaik di tahun pelajaran kali ini. Namun, apa yang membuat saya sedikit tahu tentang hal itu adalah karena saya terlahir dengan konfidensi yang cukup tinggi. Saat saya berada di SD saya selalu berada di peringkat pertama mulai kelas 1 hingga kelas 6. Saya mendapat berbagai penghargaan juara olimpiade. Memasuki smp, saya masih berada di jajran peringkat atas. Saya mendapat peringkat 2 awal semester. Selama di smp, saya selalu masuk di jajaran peringkat 5 besar kelas dan 1 kali masuk peringkat pararel di SMPN 1 Singosari. SMP unggulan yang berada di daerah saya. Sekolah ini memiliki sistem pendidikan yang bagus dimana hampir tidak pernah terlihat ada jam kosong di sebuah kelas. Di kelasku sendiri saat ulangan tidak ada tradisi contek-menyontek, ada sih, tapi hanya 1-2 orang itu pun mencontek sewajarnya. Berbeda dengan civitas akademika tempat saya berada saat ini, dimana contek-menyontek merupakan tradisi yang selalu dilakukan setiap ulangan. Bahkan banyak guru yang tidak lagi mampu menangani siswa yang mencontek ini saking banyaknya dan saking ada di setiap ulangan. Alhasil, banyak guru membiarkan hal itu terjadi.
Saat SMP saya tumbuh di lingkungan yang cukup mendukung saya. Saya memiliki teman-teman yang sangat supel dan peka. Tidak heran, jika ada salah satu orang menjadi pendiam atau murung karena sesuatu, siswa di kelasku akan langsung bertanya apa yang terjadi. Kekompakan juga terjalin satu sama lain di kelas saya. Bahkan saat sudah lulus 3 tahun (saat ini) kami masih sering berkumpul bersama. Pernah sering kali saya sakit, dan saya mengabarkan di grup whatsapp smp saya. Lalu di hari berikutnya banyak teman smp datang ke rumah. Padahal, saat itu saya hanya terkena demam dan flu. Itu juga berbeda dengan tempat saya berada saat ini dimana lingkungan yang membuat perbedaannya. Di sini ego setiap orang lebih tinggi. Singkatnya, jika disini mereka menyebutnya persahabatan, di tempat saya itu hanyalah pertemanan.
Sudah sejak kelas 2 smp saya mencanangnkan target untuk berhasil masuk di jajaran pararel. Namun, aku gagal mengulang ranking pararel yang pernah aku dapat saat kelas 1 smp. Rencana yang sedemikian rupa dibuat terkdang bisa cacat, atau bahkan hancur berantakan. Sebuah angan yang tak tercapai dan mimpi yang tak tergapai oleh tangan-tangan ini. Terkadang ingin saja menyerah mengejar semua itu. Tetapi, sebenarnya kesempatan itu selalu ada. Kesempatan selalu muncul apalagi di awal semester baru ini. Dan dengan berakhirnya tulisan ini, semoga aku berhasil mendapatkan cita-cita itu di semester ini. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Langganan:
Komentar (Atom)
