"What's happier than laughing together with you?"
Rabu, 14 Mei 2014
"Ideal Woman"
"Every girl is beautiful. It just needs a right guy to see it."
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Seperti judulnya, tulisan kali ini akan membahas wanita idaman. Wanita ini tidak banyak berkeliaran di sekitar kita. Karena wanita idaman hampir-hampir telah punah. Hahahahaha.
Maksudnya bukan wanita idamannya yang telah punah. Namun, dalam hal ini lebih tepat "wanita idaman" di sudut pandangku yang jarang ditemukan. Mungkin karena belum bertemu ya hehehehe :D
Jadi, dari sudut pandangku wanita idaman yang di masa depan ingin aku pinang adalah seseorang wanita muslimah berjilbab yang agamanya kuat, namun bukan islam garis keras. Dia aktif di organisasi dan berhubungan dengan banyak orang. Banyak orang yang akan menyukainya. Namun, hubungan dengan banyak orang ini tidak membuatnya menjadi terbuka kepada semua orang. Kepada laki-laki, dia juga berteman namun tidak sampai pacaran.
Seseorang yang menurutku wanita idaman adalah dia yang memiliki prinsip untuk tidak pacaran. Dan ketika aku bertanya kepadanya saat kita berteman, "Apa kamu menyukaiku?". Dia akan menjawab, "Iya Vic, aku suka kamu. Tapi, aku takut rasa cintaku ini cuma perwujudan dari nafsuku. Karena cinta dan nafsu sulit dibedakan. Tolong sabar sebentar. Kalau kita memang jodoh, Allah pasti akan mempertemukan kita di gedung sasana krida."
Wanita idaman adalah seseorang yang optimistic dan selalu ada untukku. Kita saling membimbing dan hidup dalam kedewasaan. Seseorang yang "unik" dan berbeda dari yang lain. Seseorang yang ketika tidak sengaja aku melihat dia berdoa sesudah sholat, dia menitihkan air mata karena kekhusyu'an doanya tersebut.
Seseorang yang mampu menjadi matahari di kala siangku, dan menjadi bulan di kala malamku. Seseorang yang sangat mudah tertawa bahkan kepada semua guyonanku yang jayus. Seseorang yang selalu mendukung siapapun yang meminta sarannya. Seseorang yang aku tahu meskipun berhubungan dengan banyak orang, namun aku selalu mendapat tempat spesial di hatinya.
Aku menemukan sosok itu di dalam ibuku...
Dan semoga aku juga menemukan sosok itu di dalam dirimu, peneman hidup di masa depanku :)
Rabu, 07 Mei 2014
Minggu, 04 Mei 2014
Basketball Life Full Version
Basketball Life (Part 1) - Pertama Kali Bermain Basket
Basketball Life (Part 2) - Come Back!
Basketball Life (part 3) - Classmeeting Day 1!
Basketball Life (part 4) - Classmeeting day 2!
Basketball Life (part 5) - Kejutan Sepatu, Ajakan Sahabat, Mimpi DBL
Basketball Life (part 6) - Clasmeeting abal-abal
Basketball LIfe (part 7) - Tournament Pertama ; SMK PGRI CUP
Basketball Life (part 8) - Classmeeting Day 3!
Basketball Life (part 9) - It's time to get out?
Basketball Life (part 10) - Habis Ujian Nasional, Terbitlah SMARIHASTA CUP
Basketball Life (part 11) - Bhawikarsu Basketball Training Camp
Basketball Life (part 12) - Sekolah Impian! DBL All-Star I'm Coming! :D
Basketball Life (part 13) - Sparing Pertama, Turnamen pertama dan (apakah) turnamen kedua!
Basketball Life (part 14) - Ending of My DBL
Basketball Life - Epilogue
Basketball Life (Part 2) - Come Back!
Basketball Life (part 3) - Classmeeting Day 1!
Basketball Life (part 4) - Classmeeting day 2!
Basketball Life (part 5) - Kejutan Sepatu, Ajakan Sahabat, Mimpi DBL
Basketball Life (part 6) - Clasmeeting abal-abal
Basketball LIfe (part 7) - Tournament Pertama ; SMK PGRI CUP
Basketball Life (part 8) - Classmeeting Day 3!
Basketball Life (part 9) - It's time to get out?
Basketball Life (part 10) - Habis Ujian Nasional, Terbitlah SMARIHASTA CUP
Basketball Life (part 11) - Bhawikarsu Basketball Training Camp
Basketball Life (part 12) - Sekolah Impian! DBL All-Star I'm Coming! :D
Basketball Life (part 13) - Sparing Pertama, Turnamen pertama dan (apakah) turnamen kedua!
Basketball Life (part 14) - Ending of My DBL
Basketball Life - Epilogue
Basketball Life - Epilogue
Setiap saat satu per satu memori sat aku rajin basket sampai detik terakhir aku meminta izin kaluar basket pada pak Wahyu bermunculan.
Kenapa saat itu Pak W hanya mentakanya "Iya nggak papa Vicko."??????
Momen-momen saat aku mengatakan "Pak, mohon maaf saya izin keluar basket boleh Pak?" terus memutar di kepalaku. Alay sih. Tapi memang begitu. Aku terus berfikir adegan berbeda. Di saat aku mengembalikan kepercayaan diri di detik-detik terakhir dan tidak jadi mengatakannya. Atau saat pak W berkata untuk menyuruhku bertahan beberapa bulan.
Namun, itu tidak mungkin terjadi....
Namun, itu tidak mungkin terjadi....
Kenapa saat itu Pak W hanya mentakanya "Iya nggak papa Vicko."??????
***
Di sela-sela kepadatan kegiatanku, aku menonton turnamen basket di smanela berkali-kali. Menonton basket semakin membuatku bernostalgia dengan masa lalu. Saat aku sering mengikuti turnamen. Terutama sound NBA yang membuatku nostalgia. Aku sungguh rindu bermain basket.
Sempat saat itu aku latihan basket bersama anak-anak smp. Namun, permainan basketku menurun drastis. Dribbleku bolak-balik terlepas, lay-up ku formless, dan bahkan shooting ku sering kali air-ball. Shooting 3p di smanti saja aku tidak lagi sampai ke ring.
Tidak mungkin jika aku kembali ke ekskul basket dan bisa menjadi skuad DBL dengan kemampuanku yang seperti ini.
Aku pernah melihat temanku di smp yang ikut turnamen di smanela. Saat di smp, dia tidak ikut ekskul basket namun sering kali bermain basket. Permainannya sungguh buruk, karena memamng tidak ada yang melatih. Namun, saat di sma ini permainannya bagus sekali. Bahkan dia menjadi mesin poin di sma nya.
Aku kembali membayangkan bahwa itu aku.
Ku kira setelah keluar basket saat itu hidupku akan membaik. Ternyata, tidak sepenuhnya benar. Walaupun menjadi tim inti, aku gagal berprestasi di futsal. Niat awal fokus ke akademis pun juga tidak bisa. Aku gagal meraih target selalu peringkat 3 besar seperti saat smp dulu.
Namun, apa aku bisa membalikkan waktu? Tidak kan. Aku hanya bisa terus berjalan maju. Dan sedikit demi sedikit berdamai dengan ingatan tentang basket itu. Ingatan yang penuh dengan kebahagiaan. Aku harus segera berdamai dengan itu.
Around here, however we don look backwards for very long. We "Keep Moving Forward" opening up new doors, doing new things, because we're curious... And curiosity keeps leading us down new paths. -Meet The Robinson
Basketball Life (part 14) - Ending of My DBL
"Never give up on something that you can't go a day without thinking about."
"When you give up. Actually, you are really close with you success."
***
Gelaran DBL 2013 East Java Series - South Region telah berakhir. Lagi-lagi smanti gagal melaju ke DBL Arena sebagai champion of south region. Tim basket smanti putra kandas di penyisihan grup. Lagi-lagi oleh newcomer. SMAN 2 Lumajang yang tampil superior sejak awal berhasil mengunci kemenagan 42-34 stas smanti Bhawikarsu.
Namun, euforia pundukung smanti benar-benar luar biasa! Bisa aku katan luar biasa karena bayangkan saja hampir 3/4 dari Gor Pertamina UB dimilikki oleh pendukung smanti! Dari mulai siswa smanti sendiri, anak smp yang bercita-cita masuk smanti, para alumni, guru, bahkan orang asing yang baru pertama melihat basket pun mendukung Bhawikarsu Basketball Team (B-Beam).
Di antara euforia itu, aku merasa sepi. Di antara sorak-sorai pendukung smanti, aku merenung. Terbesit pikiran dalam hati. "Andai saja aku masih ikut basket.... Ya, Andai saja.". DBL yang merupakan ajang turnamen basket terbesar di Indonesia telah membuat semua pelajar bercita-cita untuk berlaga di DBL. Aku sudah lama sekali becita-cita untuk berlaga di DBL. Namun, semua itu pupus sudah.
Sejak gelajaran DBL 2013 berakhir, aku kembali bermain bola basket. Aku berlatih setiap hari. Terbesit harapan untuk bisa tampil di DBL 2013. Menjelang tahun ajaran baru dimulai impianku kembali pupus. Pupus kembali oleh pikiran negatif takut akan kalah saing dengan siswa baru. Akhirnya, aku tetap ikut futsal dan memendam impianku berlaga di DBL...... selamanya.
***
Senin, 7 April 2014
9 bulan sejak DBL 2013 berakhir. Atau 4 bulaqn lagi sebelum DBL 2014 dimulai. Pikian tentang basket selalu terbesit di hatiku. Menempel di pikiranku. Aku berpikir, alternatif lain adalah mendidik anakku kelas dengan basket. Menjadikannya pemain basket terbaik. Setelah itu, dia akan mengikuti JRBL dan DBL. Serta menjadi bagian dari DBL All-Star yang memperoleh pengalaman super luar biasa. Setelah itu, dia akan menjadi pemain basket profesional dan merupakan andalan timnas Indonesia. Aku tersenyum memikirkannya.
Pelajaran hari ini dimulai dengan upacara pagi. Seperti biasa, setelah itu pelajaran olahraga. Olahraga kali ini adalah bola voli. Aku bermain bersama teman-temanku. Dan setelah 2 set dimenangkan oleh tim ku. Aku dan Ferdio beralih ke lapangan basket untuk melakukan 1 on 1. Match berakhir dengan skor 3-3. Dan pertandingan berhenti ketika Ferdio meminta istirahat. Gila! Gerakanku, dribble ku, shooting ku, semua sudah jauh menurun drastis dibandingkan ketika aku masih bagian dari B-Beam.
Setelah cuci tangan dan membersihkan tubuh. Aku duduk di bangku di samping lapangan voli, bersama kedua temanku dan gugu olahraga. Cahya, Iffa, serta pak Wahyu. Beliau bercerita tentang keadaan smanti ketika Pak W masih SMA. Beliau juga menceritakan tentang PSCS pada jamannya. Aku tertarik mendengar ceritanya. Sampai beliau berkata
"Vicko dulu kenapa berhenti basket?" Deg. Aku langsung terdiam. Sudah lama aku ingin membahas ini bersama Pak W. Aku tidak menjawab cerita sebenarnya bahwa pikiran negatifku takut kalau nanti saat DBL aku hanya menjadi pemanas bangku cadangan.Takut kalau aku tidak bisa meraih cita-cita tampil bersama DBL All-Star. Takut menjadi seperti kakak-kakak kelasku yang selalu semangat berlatih, namun kalah bersaing dengan pamin lainnya. Dan salah satu alasan utama, aku juga minder dengan pak Wahyu. Setiap latihan, beliau jarang sekali memandangku, beliau tidak pernah menyimpulkan sebuah senyuman ketika aku berhasil menguasai sesuatu teknik yang berminggu-minggu aku pelajari. Jangankan tersenyum, bahkan ketika aku melakukan kesalahan, beliau tidak pernah mengevaluasiku. Yang beliau lakukan adalah mendiamkanku, dan mengevaluasi pemain lain. Aku jadi teringat ketika Mbak Tya, kapten tim basket butri, menasihatiku bahwa Pak W memang begitu orangnya. Beliau tidak pernah membuat kita senang dengan memuji kita. Namun, dibalik itu beliau memuji kita di orang lain. Kalau Mbak Tya ada di sini, aku ingin bertanya "Apakah itu benar terjadi?"
Aku memilih beralasan bahwa aku ingin tampil di LPI. Namun, aku juga mengatakan bahwa aku menyesal keluar dari ekskul basket.
"Padahal kalau masih ikut, paling sekarang sudah jadi tim inti, main bagus." kata Pak W
"Hah?", kok bisa. Kan aku pemain timnas (tim pemanasan). Paling Pak W cuma nggombal.
"Iya kamu dulu kan cepat bisa." Kata beliau memandangku. "Pak W emang gitu. Kalau lihat pemain cepet bisa biasanya yang pak W latih mentalnya dulu. Kalau mentalnya sudah jadi, wah main di lapangan sudah bagus."
Aku mengangguk-angguk seolah mengerti. Padahal, aku tidak tau apa yang dimaksud latihan mental dari Pak W.
"....Pak W ngelatih mentalnya entah dengan dimarah-marahi, dikerasi, nggak dimainkan, atau pak W diemkan..." #jleb
"Oh, jadi mental dulu ya Pak." jawabku pada pak W
"Iya, harusnya kamu bisa main DBL jadi tim inti klo dulu tetep latihan terus." Aku mengangguk lagi.
Setelahnya itu, dadaku rasanya panas. Pikirkanku langsung menuju hari dimana aku berkata "Pak, mohon maaf saya izin keluar basket boleh Pak?". Aku berulang kali mengucap istighfar.
Aku tidak menyangkan kalau Pak Wahyu selama ini mendiamkan hanya untuk melatih mental. Aku yang tidak percaya bahwa aku bisa menjadi bagian dari tim DBL smanti, namun pak W berkata lain.
Saat itu, seolah kalimat kutipan yang pernah aku baca terus terngiang. "Never give up on something you can't go a day without thinking about."
Aku berhenti basket hanya gara-gara keyakinan negatif. Hahahaha. Aku gagal di basket SMA. Aku gagal mengejar mimpi bermain di DBL.
Andai saja aku bertahan hingga 1-2 bulan, mungkin aku bisa bermain jauh lebih baik
Andai saja aku berpikiran positif saat smp
Andai saja Pak W tidak mengizinkan aku keluar basket
Andai saja......
Basketball Life (part 13) - Sparing Pertama, Turnamen pertama dan (apakah) turnamen kedua!
"Bored with practice? Try to sit on the bench."
***
Setelah 3 bulan latihan. Akhirnya aku menghadapi sparing pertamaku melawan tim UB. Jam 6 sore di Gor Pertamina UB saat itu aku berhasil mencetak poin pertamaku yang sekaligus foul-in. Aku dan kelas 10 lain yang bermain masing-masing hanya bermain kurang lebih selama 2 menit saja. Akhirnya kamiu kalah telak 82-56.
Setelah itu, aku semakin rajin berlatih. Tetap. Fundamental yang paling penting. Aku terus memperbaiki dribble ku. Kali ini aku sudah berhasil mengolah bola dan bahkan saat aku kembali ke smp untuk sparing alumni Vs tim SMP aku sempat menjadi playmaker menggantikan Dicky si kapten.
Selama kelas 10 ini sudah beberapa kali turnamen dihelat. Namun, kelas 10 jarang mendapat kesempatan. Sampai-sampai teman-temanku di sekolah lain banyak yang berkata bahwa di smantii persaingannya sangat ketat, pemain yang hebat di smp seringkali tidak dipakai saat di smanti. Itu memang terbukti! Persaingan di sini sangat ketat. Bahkan saat turnamen pertama, hanya Satrio yang ikut dalam turnamen. Di turnamen kedua Arsha dan Marga menyusul mengikuti turnamen tersebut. Dan akhirnya pada turnamen ketiga aku dan Ifan menyusul.
Selama rangkaian turnamen tersebut, aku sangat bersemangat! Karena ini merupakan turnamen petamaku. Namun, aku belum mampu mengeluarkan permainan terbaikku. Entah kenapa aku merasa minder dan tidak tenang dalam lapangan. Jauh berbeda ketika aku selalu percaya diri saat smp. Di turnamen kali ini aku mengenakan nomer punggung 13, nomer yang dipakai mas Bima sebelumnya Sebanarnya aku ingin menganakan nomer 9. Namun, karena nomer 5 yang diinginkan Arsha sudah dipakai. Mas Bima selaku kapten basket sebelumnya memberikan nomer 9 tersebut kepada Arsha dan 13 kepadaku.
Di setiap pertandingan aku, Ifan dan Marga hanya menjadi timnas (tim pemanasan). Kami hanya bermain maksimal 1 quarter. Bahkan saat 8 besar dan saat final aku, Ifan, dan Marga tidak bermain.
Setelahnya, ternyata kami menjadi juara 2 setelah takluk oleh SMA IPH dengan margin 12 poin di final. Padahal, IPH saat itu tidak diperkuat oleh tim popda nya. Tidak diperkuat pemain seperti Widy dan Felix.
Ternyata, atmosfernya berbeda. Saat di smp. Perjuangan menuju juara sangat berat. Dan ketika, tim underdog seperti kami berhasil menjadi juara. Atmosfernya sungguh bahagia! Kami bangga dan selalu teringat di memori kami. Namun, membela The Dream Team ketika juara terasa biasa. Juara bagaikan hal pasti yang akan diterima di setiap turnamen. Dan semuanya terasa berbeda.
***
Sesudah turnamen Dekan Cup yang diadakan oleh FEB UB pada bulan November itu. Tidak ada turnamen lagi. Kami terus berlatih dengan semangat! Kali ini latihan dibagi menjadi 2. Karena kelas 11 masuk pagi dan kelas 10 masuk siang. Akhirnya kelas 11 latihan sore sedangkan kelas 10 latihan saat pagi. Di saat latihan pagi tersebut merupakan titik ledakan dalam dunia basketku. Di mana aku mulai dipangan dengna kedua mata di smanti. Tidak lagi sebalah mata. Semua itu dimulai saat latihan 1 on 1. Pak Wahyu menyuruh kami berpasangan dengan lawan yang seimbang. Seperti biasa, aku mendapat lawan Reza. Beberapa kali aku memasukkan dan beberapa kali aku kemasukan. Sampai akhirnya urutan diacak dan aku melawan Arsha. Aku mendapat bola dari Arsha. Kemudian aku dribble di sisi sebalah kanan aku melakukan bumping lalu spin. Aku mencoba shoot. Namun, hanya fake. Arsha tertipu oleh fake dan yang lain bertepuk tangan mengapresiasiku. Bagi mereka mungkin hal biasa. Namun, ini menurutku merupakan titik ledakan. Selanjutnya aku mulai berhadapan dengan Satrio, Ula dan yang lain. Saat itu walaupun masih di bawah mereka. Tetapi, aku sudah mulai paham bagaimana cara bermainnya.
Saat latihan game pun, aku sudah kembali mulai melakukan poin. entah dengan shooting atau lay up. Itu yang membuatku semakin bersemangat. Apalagi dribble ku juga berkembang. Aku mulai melatih tangan kiriku untuk kesempurnaan dalam dribble dan shooting.
Waktu libur tiba dan selama satu minggu penuh kami berlatih. Aku mulai berkembang di sini.
Namun, anehnya aku mulai bosan ketika Pak W tetap saja tidak pernah memandangku. Ketika aku brermain bagus, beliau tidak pernah mengatakan sesuatu atau bahkan tidak tersenyum. Ketika aku melakukan kesalahan beliau tidak pernah mengevaluasiku. Beliau hanya terus diam. Padahal temanku yang lainnya masih dievaluasi atau diberikan motivasi.
***
Entah apa yang aku pikirkan saat temanku menawariku ikut futsal sekolah. Aku menolaknya dan tetap berpegang teguh untuk basket. Untuk DBL.
***
Dan entah apa yang aku pikirkan saat itu ketika aku mulai tertarik ikut futsal dan coba-coba mengikuti seleksi futsal tahap 1. Yaitu, endurance. Lari 12 putaran. Dan ternyata, aku berada di posisi pertama dengan 16menit 23 detik. Tidak kaget, karena selama di basket fisikku ditempa terus menerus.
Akhirnya, aku mengikuti turnamen keduaku kali ini 3 on 3. Namun, aku tidak tahu apa yang aku pikirkan ketika aku tidak datang saat pertandinganku tersebut. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan saat aku berniat berhenti bermain basket. Namun, karena persiapan DBL telah dimulai. Aku yang selaku wakil dari kelas 10 ikut dalam rapat tersebut. Aku bimbang.
Aku sangat ingin bermain di DBL. Tapi aku tidak tahu apa yang aku pikirkan. Saat itu aku juga sangat ingin bermain futsal.
***
Aku seperti kehilangan keyakinan yang dari dulu aku bangga-banggakan. Aku kehilangan positive thinking. Bahkan aku lupa kalau tidak ada yang mustahil bagi Allah. Yang aku pikirkan saat itu hanya aku tidak akan bisa menembus tim inti saat DBL nanti. Selama turnamen hanya Tio dan Arsha yang sering bermain. Saat itu aku tidak tahu kenapa aku pesimis aku tidak bisa ikut dalam tim inti.
***
Hingga akhirnya suatu siang setelah shalat jum'at dengan sangat berat hati aku berkata kepada Coach Wahyu bahwa aku meminta izin berhenti basket, tanpa alasan apapun. Dan beliau hanya menjawab "Oh iya nggak papa, Vicko.". Hanya itu.
Basketball Life (part 12) - Sekolah Impian! DBL All-Star I'm Coming! :D
"Don't quit! You don't know when you give on your goal, you're just one more step to your goal."
***
Pada ujian nasional, aku mendapatkan nilai ujian 36.85. Dan artinya, aku tidak bisa masuk ke SMAN 3 Malang melalui jalur nilai ujian(online). Aku tidak putus asa. Aku tetap semangat untuk bersekolah di smanti. Aku memperjuangkannya melalui jalur tes tulis. Dan Alhamdulillah aku berhasil masuk!!
Setelah melewat MPLS di smanti. Aku resmi menjadi bagian dari pejuang Bhawikarsu. Latihan pertama waktu itu adalah hari Selasa. Aku bersama beberapa siswa kelas 10 pertama kali mengikuti latihan ini. Namun, Pak Wahyu dan para kakak kelas sudah kenal denganku dan beberapa siswa yang sebelumnya mengikuti Bhawikarsu Basketball Training Camp.
Latihan dimulai dari Berdoa dan tos "Smanti Smanti Smanti..... Bhawikarsu!!" Kemudian dilanjutkan dengan Dynamic stretching dan yang terakhir latihan basic bermain basket. Dribble dan Lay up. Latihan ini telah aku lakukan sejak di smp. Tidak ada kesulitan yang berarti. Aku hanya melihat beberapa dari siswa kelas 10 ternyata baru di dunia basket.
Latihan selesai sekitar pukul 05.30. Latihan selanjutnya adalah hari Kamis dan hari Sabtu. Jadwal latihan kami adalah Selasa, Kamis, dan Sabtu.
***
Setelah satu bulan latihan bersama skuad The Dream Team Bhawikarsu. Aku bisa menyatu dengan mereka. Apalagi saat itu aku sedang dekat dengan pebasket putri smanti. Jadi, aku juga semakin semangat berlatih. Hingga pada pemilihan ketua basket. Mas Aji yang terpilih. Seorang Center dari kelas 11. Dan wakilnya adalah Mbak Tya. Kapten kelas 11 Putri. Dan ternyata untuk wakil tahun ini ditambah dari kelas 10. Yang dicalonkan adalah semua siswa. Dan yang terpilih alhamdulillah aku.
Aku sempat sekali tidak mengikuti latihan. Saat itu hari Kamis, dan ada jadwal les. Aku izin kepada pak Wahyu untuk tidak latihan karena ada les. Dan kemudian aku izin pada Mas Aji. Mas Aji berkata "Loh berarti Kamis minggu depan nggak latihan lagi?". Oh iya, aku baru sadar. Berarti aku tidak bisa ikut latihan tiap hari Kamis. Padahal aku sangat ingin tampil di DBL dan menjadi bagian skuad DBL All-Star. Saat les, akhirnya aku memutuskan minggu depan tidak ikut les saat hari Kamis. Jadilah aku tidak pernah ikut saat les hari Kamis. Aku hanya masuk les hari Senin saja. Dan di satu semester ini aku tidak pernah tidak latihan lagi.
***
Saat sudah 2 bulan berada di tim ini. Aku baru sadar bahwa dribble ku tidak sebagus anak smanti lain. Boleh saja aku bagus dalam lay up. Namun, Arsha memiliki lay up yang lebih bagus. Atau boleh saja aku bagus dalam shooting. Namun, Satrio memiliki akurasi shoot yang jauh lebih bagus. Aku masih kalah jauh dalam hal fundamental di antara teman-temanku. Setiap hari Jumat aku menambah latihan di pagas. Di sana ada komunitas basket. Dan tiap hari Minggu aku menambah latihan di smanesi bersama Danu
Tiap latihan, aku lebih menekankan pada dribble. Walaupun aku sudah bisa in-out, spin, between the leg, atau behind back leg. Aku tidak cekatan dalam mengolah bola. Aku semakin bosan latihan fundamental. Padahal itu sangat penting. Aku terus memotivasi diri dengan mengingat kalimat motivasi di DBL "Don't quit! Suffer your pain and live the rest of your life as a champion". Aku selalu mengingat-ingat kata itu.
Beberapa bulan kemudian, aku terpaksa berpisah dengan teman basket putri di smanti. Dan itu sedikit membuatku down. Namun, aku tetap semangat dalam latihan. Bahkan lebih bersemangat!
Langganan:
Komentar (Atom)



