Minggu, 05 Januari 2014

Basketball Life (part 6) - Clasmeeting abal-abal

Yak, sebulan sudah aku menjadi bagian dari ekskul basket SMPN 1 Singosari. Tidak seperti sebelum-sebelumnya. Kali ini aku tidak patah semangat dan terus berlatih. Tentunya juga bersama Danu.

Karena, tidak ada hal baru dan terkesan boring. Akhirnya, Ovi, teman kelasku mengusulkan untuk diadakannya pertandingan persahabatan basket melawan 8F. Jawara basket 2 kali berturut-turut yang undefeatable. Di kelas 8F terdapat kapten basket sekolah, Dicky, dan salah satu seroang Center terbaik yang dimiliki sekolahku, Billy. 

Namun, bukan berarti kami lemah. Di kelasku sendiri juga ada center bertubuh tinggi dengan bakat alaminya, Robby. Bakat alaminya mungkin memang ada di basket. Dia sangat jarang sekali latihan, malah hampir-hampir tidak pernah. Namun, feeling ball nya sungguh bagus. Block nya sangat mematikan dan akurasi lay up nya hampir 100%.Bukan hanya Robby saja, di kelasku juga ada Heraldi yang juga sama-sama memiliki feeling ball yang bagus, meski dia juga jarang latihan. Juga ada Adit yang meski bukan penggawa basket. Namun, dia memiliki shooting yang cukup bagus. Serta ada aku dan Danu yang baru saja mengikuti ekskul basket.

Jadilah Classmeeting tersebut dihelat pada tanggal 9 Oktober. Satu bulan sesudah aku mengikuti ekskul basket atau 3 bulan sesudah Danu mengikuti ekskul basket. Ini adalah pertandingan pertamaku dengan Danu setelah mengikuti ekskul basket. Semoga saja kami bisa memberikan yang terbaik.

Hari itu, aku seperti menemukan semangat baru. Entah darimana. Namun, rasanya kali ini aku tidak akan kalah. 

Di kuarter pertama. Sempat terjadi kejar mengejar skor. Billy dan Dicky yang membuka poin masing 2 poin dan 3 poin. Membuat kelasku tertinggal 5-0. Kami melakukan fast break cepat, dan aku melakukan shooting 3-point membalas 3-point dari Dicky tadi. dan MASUK! Skor menjadi 5-3. Sampai akhir kuater pertama skor masih tetap.


Kuarter kedua. Dari awal kelasku telah menekan kelas 8F. Kami berhasil menambah poin dari Heraldi dan Robby sehingga skor menjadi 7-5. Setelah itu terjadi jual beli serangan antara kelasku dan kelas 8F. Di akhir kuarter kedua, skor kelas 8F unggul skor 12-7. Namun, menjelang berakhirnya bel tanda berakhirnya half time. Kami melakukan 2 serangan fast break dan 2 lay up yang aku lakukan menghasilkan poin menjadi 12-11. Di penghujung kuearter, aku kembali mendapat 4 free throw, dan 2 di antaranya aku berhasil mencetak angka. Skor menjadi 13-12. Kami memimpin! Ditambah 3 point dari Adit menandakan buzzer beater dan skor menjadi 16-12.


Kuarter ketiga dan keempat 
Di sisa kuarter ketiga ini pertandingan semakin memanas. Keunggulan kelasku terus bertahan hingga kuarter keempat. Di kuarter keempat, 3-point dari Billy dan Lep membuat skor imbang. 24-24. Di sisa kuarter kami kehilangan konsentrasi dan akhirnya kelas kami hanya mampu menambahkan 3 poin sedangkan 8F menambahkan 8 poin. Skor menjadi 32-27 untuk 8F.

Dan sekali lagi kelas kami kalah!
Namun, ini pengalaman yang sanga berharga. Untuk pertama kalinya, kelasku mampu unggul sampai kuearter keempat melawan 8F. Dan untuk pertama kalinya aku mencetak 13 poin dalam satu pertandingan!




Dan selanjutnya, kelas kami sering mengadakan classmeeting abal-abal ini. Dan sampai akhir kelas 9. Kelas kami merupakan undefeatable class menggantikan kelas 8F!!



Basketball Life (part 5) - Kejutan Sepatu, Ajakan Sahabat, Mimpi DBL

Di awal tahun ketiga ini terdapat pendaftaran ekskul-ekskul yang ada di SMPN 1 Singosari. Sebelumnya, aku mengikuti ekskul teater bersama Ridho dan Danu. Untuk siswa kelas 9, sangat aneh jika berpindah ekskul. Bukan karena apa-apa, melainkan karena kelas 9 hanya berada di ekskul sampai semester satu saja. Itu artinya sedikit kemungkinan untuk menorehkan sebuah prestasi untuk ekskul tersebut.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, dari kelasku yang mengikuti ekskul basket ada 2 orang. Yaitu, Heraldi dan Robby. Aku tidak ada sedikit niatan pun untuk ingin mengikuti ekskul basket. Itu karena aku sudah kelas 9 dan aku ingin lulus dengan hasl terbaik. Jadi, aku ingin memfokuskan diriku untuk belajar.

Namun, yang tidak disangka-sangka. Temanku, Danu, mendaftar pada ekskul basket di tahun ketiga ini. Untuk informasi saja, Danu ini tidak pernah bergelut dengan dunia olahraga sebelumnya. Badannya besar, namun fisiknya sangat buruk dan dia tidak memiliki power sama sekali. (Tetapi, di akhir cerita nanti akan aku ceritakan perubahan besar yang dilakukan Danu dengan semangatnya. Hingga dia bisa menembus starting five tim sekolah kami). Dengan catatan buruk seperti itu, aku menyarankan dia untuk tetap mengikuti ekskul teater saja. Namun, dengan tegas dia menjawab. "Aku iki sek melok teater! Tapi, yo melok basket pisan. (Aku ini masih ikut teater. Tapi, ya ikut basket juga.)"

Aku berdalih bahwa mungkin setelah satu atau dua bulan nanti, Danu pasti akan mengalami nasib seperti anak-anak ekskul basket yang lain. "Terseleksi Alam", dan akhirnya akan berhenti berlatih.

Ternyata aku salah! Sudah menginjak bulan kedua, dan dia tidak kehilangan semangat sedikitpun. Aku sampai terheran-heran. Aku belum pernah melihat Danu se-serius ini terhadap sesuatu. Dia malah berceloteh hampir tiap hari tentang latihan yang diperolehnya. Aku senang saja mendengarnya. Karena, sebenarnya jauh di dalam hatiku, aku juga mengingkan ekskul basket. Hanya saja karena aku tidak mempunyai basic yang bagus dan juga ingin berorientasi pada pelajaran, aku tidak begitu bersemangat mengikuti ekskul basket.

Danu. Sering tidak masuk akal. Namun, basket membuatnya tidak pernah menyerah dan membuat orang lain percaya masih ada sesuatu yang masuk akal dalam dirinya.


-----

Saat itu merupakan pertengahan bulan Agustus. Tiba-tiba Papa melihat-lihat barang-barang di League Store. Tiba-tiba papa bertanya, "Ko, kamu nggak ikut basket? Di Surabaya ada distributor League murah." Kebetulan saat itu Papa bekerja di Surabaya.

Mendengar hal itu, entah mengapa aku sangat bergembira. Aku cepat-cepat bertanya, "Papa mau mbelikan sepatu basket ta? Kalau iya, besok tak daftar basket sekalian." 

"Iya, nggak papa. Besok tak pesenkan.", kata papa mantap.

Entah apa perasaanku saat itu, campur aduk. Antara senang dan bingung apakah orientasi pelajran harus ditinggalkan? Namun, satu hal yang pasti bahwa aku akan segera memiliki sepatu basket sendiri. Itu artinya merupakan salah satu jalan Allah menunjukkan bahwa aku berkesempatan dalam bidang basket.

Keesokan harinya, hari dimana latihan basket. Aku tidak tahu apa saja hari latihannya. Dan ternyata hari ini, aku tidak membawa persiapan apapun. Namun, aku memakai dalaman baju Jupanca dan bawahan celana sepak bola. Serta sepatu sekolah. Karena sudah bertekad, aku tetap datang latihan di hari pertamaku dengan perlengkapan seadanya ini. 

Di hari pertamaku mulai latihan. Aku masih berlatih bersama pemula, yaitu anak-anak kelas 7 yang baru masuk. Kebetulan saat itu aku sudah bisa melakukan beberapa teknik dasar, yaitu shooting dan lay up. Hanya saja, ternyata beberapa bulan kemudian setelah melihat di youtube aku tahu teknik melemparku masih salah. Lay up? Juga masih salah. Tepatnya salah pada langkah. Haha. Maklum pemula.

Namun, entah mengapa kepercyaan diri selalu datang. Aku selalu percaya bahwa aku bisa! 

Malamnya, ketika Papa pulang. Ternyata Papa masih belum membawa sepatu yang aku idam-idamkan tersebut. Papa mengatakan lebih baik mencari di Malang saja. Jadilah, hari kedua aku berlatih aku menggunakan sepatu kets ku. Minggunya, aku pergi menuju matos untuk menuju league store. Di sana terpampang sebuah sepatu yang aku lihat di internet itu! Tetapi, sayang ukurannya tidak ada yang pas. Selalu kebesaran atau kekecilan. 

Akhirnya, aku pulang dengan perasaan kecewa. Papa seperti biasa kembali berjanji untuk membawakan sepatu yang dibeli dari Surabya segera.

Hari Selasa, latihan ketiga yang aku ikuti. Aku terbangun pagi-pagi dan segera bergegas ke sekolah, ketika aku tahu ada sebuah kotak sepatu di meja bertuliskan logo League. Aku sangat senang dan membuka isi kotak sepatu tersebut. Di sampingnya, juga terdapat sebuah bola DBL.



Sepulang sekolah, aku langsung bersiap untuk latihan. Kebetulan saat itu bulan puasa, jadi pulangku lebih awal dari biasanya. Sehingga, aku bisa pulang ke rumah terlebih dahulu. Dengan sepatu dan bola basket baru. Aku menemukan semangat baru! Apalagi begitu sampai di sekolah dan latihan dimulai aku sudah ditempatkan bersama anak -anak senior yang sudah lama mengikuti latihan. Semangatku bertambah berkali lipat!

Sejak saat itu aku mencintai basket dan aku seperti menemukan nyawa baru dalam kehidupanku. Aku jadi sering melihat website DBL. Terlintas keinginanku untuk suata saat berlaga di DBL dan kalau bisa juga aku ingin menjadi bagian dari DBL All-Star! Itu yang ada di pikiranku saat itu.

-----

Danu. Berperan besar untuk membujuk saya ke dunia basket.



Jumat, 03 Januari 2014

Basketball Life (part 4) - Classmeeting day 2!

Sejak Classmeeting terakhir yang dihelat tanggal 19 April lalu, aku semakin sering bermain basket. Aku berfikir betapa kerennya jika tim All-Star pada classmeeting lalu mewakili sekolah kami dalam turnamen basket. Namun, aku tetap tidak ada pikiran untuk mengikuti ekskul basket lagi.

-----

Bulan Juni musimnya UKK. Setelah melaksanakan UKK selama seminggu terdapat hari kosong selama 5 hari sebelum diadakan rapotan. Aku dan temanku OSIS mengajukan untuk diadakan classmeeting. Pak Slamet selaku kesiswaan meminta izin kepada kepala sekolah. Dan kepala sekolah Alhamdulillah menyetujuinya. Namun, sayang, karena minimnya dana hanya akan ada satu lomba yang dipertandingkan. Tidak ragu lagi aku mengatakan yang harus dipertandingkan adalah basket. Beberapa anak OSIS menyetujuinya dan akhirnya, jadilah lomba basket yang diadakan. 

Siangnya, kami langsung mengumpulkan ketua kelas dan melakukan undian. Kali ini kelasku berada di pool yang berbeda dengan kelas 8F. Itu harapan utamaku. Di pertandingan pertama aku menghadapi kelas 8E. Sayangnya, ketika aku pulang badanku sungguh panas dan aku merasa demam. Akhirnya, aku istirahat total.

Keesokan harinya, hari dimana classmeeting pertama dimulai. aku tidak diperbolehkan mama untuk sekolah. Karena tubuhku masih demam. Aku kembali tidur dengan perasaan kecewa. Pukul 7.30 aku bangun dan memeriksa suhu tubuhku. Ternyata suhu tubuhku menurun! Akhirnya aku bergegas untuk masuk sekolah. Mengingat kelasku akan bertanding pukul 09.00. Cukuplah waktu yang aku butuhkan untuk sampai ke sekolah. 

Begitu tiba di sekolah aku dan teman-temanku langsung melakukan pemanasan. Beberapa menit kemudian kami keluar kelas dan siap untuk bermain!

BIG EIGHT - 8E!

Kami ketinggalan terlebih dahulu oleh free throw yang dibuat Teja. Skor 0-1. Tetapi, selanjutnya kami terus mencetak skor dan memimpin pertandingan. Dari first half, kami sudah memimpin skor 8-1. Jika di classmeeting sebelumnya aku tidak membuat skor sama sekali, di pertandingan kali ini aku menyumbang 3 poin untuk tim ku. Di babak kedua, kami semakin bersemangat dan memimpin pertandingan dengan skor 15-1.

Ketika kami sudah memimpin cukup jauh, Robby, aku dan Adit keluar untuk digantikan teman-temanku yang lainnya. Di sisa waktu, kelas 8E membuat 2 three-point dan membuat skor menjadi 15-7. Hingga akhir skor tetap. Dan kami maju ke babak semi-final!

SEMI FINAL - 8H!
Melawan 8H yang merupakan runner-up classmeeting sebelumnya, kami memberikan perlawanan yang cukup sengit.

Robby yang cedera di awal babak pertama, membuat kelas kami tertinggal 3-2. Di babak kedua, Robby mencoba untuk bermain. Namun, three-point kelas 8H membuat skor menjadi 6-2 dan membuat kami harus kerja ekstra keras. Robby berhasil memperkecil ketertinggalan menjadi 6-4. Dan selanjutnya pertandingan berjalan dengan ketat. Kelas 8E yang mendominasi serangan, sempat lengah di pertengahan babak kedua, Robby yang berdiri bebas di depan langsung mendapat umpan. Namun, karena mendapat gangguan dari pemain 8E lay up nya tidak masuk. Beruntung, kami masih mendapatkan 2 free throw. Sayang Robby tidak dapat memaksimalkan 2 free throw tersebut dan membuat skor masih tetap. Di akhir kuarter kami hanya bisa menambahkan 2 poin, sedangkan 8E 4 poin. Skor total menjadi 10-6! Kami kalah.

PEREBUTAN JUARA 3 - 8I!

Walaupun gagal melaju ke babak final, kelas kami masih memiliki kesempatan untuk merebut juara 3. Di perebutan juara 3, kelas kami bertemu dengan kelas 8I. Awalnya pertandingan berjalan dengan sengit. Namun, di akhir babak kedua kami berhasil unggul 15-11 dan menjadi juara 3 dalam classmeeting kali ini!

Classmeeting ini cukup berkesan. Walau hanya bisa membuat poin di petandingan pertama, setidaknya aku dapat membuat kemajuan dibandingkan classmeeting sebelumnya. Ini adalah akhir perjalanan basketku di kelas 8 SMP.

Basketball Life (part 3) - Classmeeting Day 1!

Di pertengahan bulan April sesudah UTS. Kesiswaan memutuskan untuk membuat sebuah acara Classmeeting. Karena merupakan acara kecil. Classmeeting ini hanya dihelat oleh siswa kelas 8 saja. Dan kebetulan yang dipertandingkan adalah bola basket.

19 April 2011.
Beberapa hari sebelumnya, aku dan teman-temanku beberapa kali melakukan latihan demi merebut gelar perdana di classmeeting kali ini. Semuanya terasa menarik begitu aku tau yang dipertandingkan adalah bola basket.

Pagi itu, acara dimulai dengan gerak jalan. Kemudian dilanjutkan dengan pentas seni kecil. Dan akhirnya, yang ditunggu-tunggu adalah lomba basket!

Sesuai undian Kelas kami akan menghadapi lawan dari kelas sebelah, kelas 8C. kelas kami sendiri-8A- tidak diunggulkan. Kami hanya memiliki satu Center besar (Robby) dan satu lagi pointer (Heral). Namun, karena memang kami semua masih kurang banyak pengalaman. Sehingga kami bukanlah tim yang dijagokan. Kami bahkan dipandang sebelah mata ketika awal kami bertanding.

Namun, kami semua menepis dugaan itu dengan menaklukan 8C dengan skor yang cukup telak. 11-2. Ini hasil kerja sama semua pemain yang sangat apik. Robby yang mencetak seluruh poin kami. Kami hanya mengandalkan umpan lambung yang disambut Robby tepat di bawah ring. Dengan tubuhnya yang mencapai 175cm. Robby dengan mudah melakukan under basket. 


Setelah pertandingan tersebut kami berangsur-angsur mendapatkan kepercayaan diri. Kami menaklukan kelas 8D dengan skor 3-0.

Di semifinal, sayang kelas kami yang unggul 2-0 hingga menit ke 9 kuarter 2 (2x10menit waktu normal). Dibalas 2-2. Dan terpaksa diadakan overtime. Ini adalah overtime kali pertama dan terakhir yang terjadi di Classmeeting SMPN 1 Singosari. Haha. Sayang di babak overtime kami kehilangan poin dan berhenti di babak semi-final dengan kalah 4-2 oleh 8F.

Cerita selengkapnya telah aku tuliskan dalam pos ini 19 April 2011

Basketball Life (Part 2) - Come Back!

Aku tidak sepenuhnya keluar dari dunia basket. Aku tetap bermain basket, walau hanya dengan teman-temanku ketika hari libur atau saat jam pelajaran kosong. Di sela-sela permainan itu, teman-temanku cukup takut ketika aku bermain. Mungkin karena terbiasa bermain sepak bola yang keras. Kebiasaan itu terbawa dalam basket, aku tidak tahu cara teknik dribble yang benar. Jadi, yang aku lakukan hanya men-dribble bola sambil menabrak setiap orang yang ada di depanku.

Saat itu, kakak kelasku-mas Stefa- yang merupakan kapten tim basket sekolah memuji teknik dribble-ku. Aku sungguh senang. Walaupun baru-baru ini aku tahu, pujian itu hanya ledekan. Namun, itu membuat semangatku bermain basket kian meninggi. Intensitas bermain basketku semakin sering dan akhirnya temanku, Robby bertanya kenapa aku tidak ikut ekskul basket saja.

Saat itu, kami tengah menginjak semester 2. Aku tertarik dengan tawarannya. Akhirnya, aku memutuskan untuk ikut tim basket lagi. Kali ini dengan semangat baru. Tentunya, saat itu aku belum mempunyai sepatu basket. Aku hanya menggunakan sepatu kets yang biasa aku gunakan saat berlari.



Aku sungguh nervous saat latihan pertama di semester 2 ini. Bagaimana tidak, orang yang aku kenal hanya Robby saja. Sedangkan, yang lainnya adalah kakak kelas dan 2 anak kelas 7 yang lainnya. Ya, kelas 7 hanya tersisa 3 orang. Anang, Dicky, dan Robby. Itu merupakan seleksi alam yang selalu terjadi di dalam tim basket manapun. Yang tidak dapat bertahan lah yang akan menyerah.

Setelah melakukan beberapa gerakan stretching kami melakukan passing dan lay up. Aku sendiri belum tau bagaimana cara nya melakukan lay up. Yang aku lakukan hanya melompat dan melempar bola. Sungguh lucu jika mengingat momen-momen itu. Haha.

Setelah kurang lebih 1 jam latihan, pelatih kami (yang juga wasit kota Malang) datang dan langsung berinisiatif untuk melakukan mini game. Masing-masing tim dibagi menjadi 5 orang. Ternyata, bermain basket tidak semudah ketika bermain bersama teman-temanku. Yang memang notabene tidak bisa bermain basket, sama sepertiku. Aku dituntut untuk melakukan lay up. Namun, aku selalu gagal. Di sisa latihan aku hanya berlatih lay up.



Di hari kedua latihan, aku tetap mendapat special training lay up. Aku merasa bosan. Dan sejak itu juga aku yang baru saja melakukan come back. Langsung keluar basket kembali! Haha