Seperti tahun-tahun sebelumnya, dari kelasku yang mengikuti ekskul basket ada 2 orang. Yaitu, Heraldi dan Robby. Aku tidak ada sedikit niatan pun untuk ingin mengikuti ekskul basket. Itu karena aku sudah kelas 9 dan aku ingin lulus dengan hasl terbaik. Jadi, aku ingin memfokuskan diriku untuk belajar.
Namun, yang tidak disangka-sangka. Temanku, Danu, mendaftar pada ekskul basket di tahun ketiga ini. Untuk informasi saja, Danu ini tidak pernah bergelut dengan dunia olahraga sebelumnya. Badannya besar, namun fisiknya sangat buruk dan dia tidak memiliki power sama sekali. (Tetapi, di akhir cerita nanti akan aku ceritakan perubahan besar yang dilakukan Danu dengan semangatnya. Hingga dia bisa menembus starting five tim sekolah kami). Dengan catatan buruk seperti itu, aku menyarankan dia untuk tetap mengikuti ekskul teater saja. Namun, dengan tegas dia menjawab. "Aku iki sek melok teater! Tapi, yo melok basket pisan. (Aku ini masih ikut teater. Tapi, ya ikut basket juga.)"
Aku berdalih bahwa mungkin setelah satu atau dua bulan nanti, Danu pasti akan mengalami nasib seperti anak-anak ekskul basket yang lain. "Terseleksi Alam", dan akhirnya akan berhenti berlatih.
Ternyata aku salah! Sudah menginjak bulan kedua, dan dia tidak kehilangan semangat sedikitpun. Aku sampai terheran-heran. Aku belum pernah melihat Danu se-serius ini terhadap sesuatu. Dia malah berceloteh hampir tiap hari tentang latihan yang diperolehnya. Aku senang saja mendengarnya. Karena, sebenarnya jauh di dalam hatiku, aku juga mengingkan ekskul basket. Hanya saja karena aku tidak mempunyai basic yang bagus dan juga ingin berorientasi pada pelajaran, aku tidak begitu bersemangat mengikuti ekskul basket.
![]() |
| Danu. Sering tidak masuk akal. Namun, basket membuatnya tidak pernah menyerah dan membuat orang lain percaya masih ada sesuatu yang masuk akal dalam dirinya. |
-----
Saat itu merupakan pertengahan bulan Agustus. Tiba-tiba Papa melihat-lihat barang-barang di League Store. Tiba-tiba papa bertanya, "Ko, kamu nggak ikut basket? Di Surabaya ada distributor League murah." Kebetulan saat itu Papa bekerja di Surabaya.
Mendengar hal itu, entah mengapa aku sangat bergembira. Aku cepat-cepat bertanya, "Papa mau mbelikan sepatu basket ta? Kalau iya, besok tak daftar basket sekalian."
"Iya, nggak papa. Besok tak pesenkan.", kata papa mantap.
Entah apa perasaanku saat itu, campur aduk. Antara senang dan bingung apakah orientasi pelajran harus ditinggalkan? Namun, satu hal yang pasti bahwa aku akan segera memiliki sepatu basket sendiri. Itu artinya merupakan salah satu jalan Allah menunjukkan bahwa aku berkesempatan dalam bidang basket.
Keesokan harinya, hari dimana latihan basket. Aku tidak tahu apa saja hari latihannya. Dan ternyata hari ini, aku tidak membawa persiapan apapun. Namun, aku memakai dalaman baju Jupanca dan bawahan celana sepak bola. Serta sepatu sekolah. Karena sudah bertekad, aku tetap datang latihan di hari pertamaku dengan perlengkapan seadanya ini.
Di hari pertamaku mulai latihan. Aku masih berlatih bersama pemula, yaitu anak-anak kelas 7 yang baru masuk. Kebetulan saat itu aku sudah bisa melakukan beberapa teknik dasar, yaitu shooting dan lay up. Hanya saja, ternyata beberapa bulan kemudian setelah melihat di youtube aku tahu teknik melemparku masih salah. Lay up? Juga masih salah. Tepatnya salah pada langkah. Haha. Maklum pemula.
Namun, entah mengapa kepercyaan diri selalu datang. Aku selalu percaya bahwa aku bisa!
Malamnya, ketika Papa pulang. Ternyata Papa masih belum membawa sepatu yang aku idam-idamkan tersebut. Papa mengatakan lebih baik mencari di Malang saja. Jadilah, hari kedua aku berlatih aku menggunakan sepatu kets ku. Minggunya, aku pergi menuju matos untuk menuju league store. Di sana terpampang sebuah sepatu yang aku lihat di internet itu! Tetapi, sayang ukurannya tidak ada yang pas. Selalu kebesaran atau kekecilan.
Akhirnya, aku pulang dengan perasaan kecewa. Papa seperti biasa kembali berjanji untuk membawakan sepatu yang dibeli dari Surabya segera.
Hari Selasa, latihan ketiga yang aku ikuti. Aku terbangun pagi-pagi dan segera bergegas ke sekolah, ketika aku tahu ada sebuah kotak sepatu di meja bertuliskan logo League. Aku sangat senang dan membuka isi kotak sepatu tersebut. Di sampingnya, juga terdapat sebuah bola DBL.
Sepulang sekolah, aku langsung bersiap untuk latihan. Kebetulan saat itu bulan puasa, jadi pulangku lebih awal dari biasanya. Sehingga, aku bisa pulang ke rumah terlebih dahulu. Dengan sepatu dan bola basket baru. Aku menemukan semangat baru! Apalagi begitu sampai di sekolah dan latihan dimulai aku sudah ditempatkan bersama anak -anak senior yang sudah lama mengikuti latihan. Semangatku bertambah berkali lipat!
Sejak saat itu aku mencintai basket dan aku seperti menemukan nyawa baru dalam kehidupanku. Aku jadi sering melihat website DBL. Terlintas keinginanku untuk suata saat berlaga di DBL dan kalau bisa juga aku ingin menjadi bagian dari DBL All-Star! Itu yang ada di pikiranku saat itu.
-----
| Danu. Berperan besar untuk membujuk saya ke dunia basket. |


Tidak ada komentar:
Posting Komentar